Langsung ke konten utama

Pangeran

aku mendapati kabar bahwa ia telah tiada, kesengsaraan jiwa dan berbagai komplikasi penyakit telah membawanya pada kematian yang begitu cepat. seingatku, aku pernah menjenguknya saat lebaran tahun lalu, sebenarnya bukan khusus untuk menjenguknya, tetapi karena ingin bersilaturrahmi dengan seluruh penghuni rumah panggung tempatnya berteduh.

kulihat perempuan itu begitu renta, kulitnya mengering dan mengeriput serupa tanah kering yang tandas dimamah kemarau, ia lapuk dalam tikar usangnya yang sama rentanya dengan jasadnya, ia terbatuk, sesekali meringis dengan mata mengerjap-ngerjap, ia nyaris seperti kanak-kanak yang tak ingin jauh dari sang ibu.

dan perempuan senja yang menjadi ibunya, dengan segala ketertatihan tak pernah mengeluh untuk merawatnya, menggaruk badannya yang terasa gatal, mengipasinya ketika ia mengeluh kepanasan, menyuapinya makan, memberinya minum, bahkan memapahnya untuk sekedar buang air.

kutaksir, ia lahir sekitar awal tahun lima puluhan, karena ia hanya lebih muda sedikit dari usia nenekku, tetapi melihatnya seperti dialah nenekku yang sebenarnya, ia begitu ringkih, dimakan kekurusan jasadnya yang begitu lemah. ia bekerja sebagai seorang guru di madrasah ibtidaiyah di kampungnya, dengan predikatnya itu orang-orang memanggilnya Ibuk.

ia sekarat oleh cinta yang tak kunjung menghampirinya, bertahun-tahun lalu, ketika ia masih muda ia pernah mengenal cinta, pada seorang lelaki yang ingin mempersuntingnya menjadi permasuri hati, tapi waktu itu kasta begitu kuat mengakar adat, orang tuanya tak setuju, ia ingin kawin lari dengan kekasih hatinya, tapi apa daya ia tak berani ambil resiko.

dan setelah itu adalah sepi yang teramat panjang, ia sibuk mengurusi murid-muridnya, mengurusi orang tuanya, mengurusi rumahnya, dan dapurnya. sehingga ia lupa bahwa hatinya masih kosong untuk ditempati oleh cinta.

lama aku tak bertemu dengannya, kami hanya bertemu setahun sekali, hanya untuk bersilaturrahmi ketika lebaran tiba. tetapi ada yang lain di wajahnya ketika kami sering bertemu di awal tahun 2008, ketika itu ayahku sakit dan aku harus menetap lama di kampung halaman, tetapi hingga akhirnya ayah pergi untuk selama-lamanya, aku masih melihat senyum yang sama di wajah perempuan tua itu.

wajah yang berbunga-bunga dan begitu semerbak, senyum yang selalu terpancang serupa layar yang siap berlayar mengitari lautan maha luas. dan ketika ia mengabari hari pernikahannya, di usianya yang senja akhirnya ia kembali bertemu dengan pangeran yang dulu pernah ditolak orang tuanya. mereka telah sama-sama tua. tapi sayang aku tidak dapat menghadirkannya, sebab aku masih ingin menunggui arwah ayahku yang masih bersamaku.

semua orang berlega hati, mengamini kesakralan yang tak terlalu mewah itu, tentu saja kado-kado yang menjadi seserahan dari para pemberi selamat turut memperlengkap kebahagiaannya. hari itu ia menjelma menjadi cinderellah, dan seorang pangeran akan mendampinginya ke mana saja.

tetapi kabar kebahagiaan itu tak terlalu lama kudengar, setelah beberapa bulan aku kembali ke kota tempatku beraktivitas, melalui telepon aku sering menanyakan kabarnya pada ibu, hingga akhirnya kuketahui bahwa pangerannya tak pernah kembali.

bahkan hingga akhirnya ia kembali ringkih dalam sakitnya, dan harusnya ia bisa pergi dalam pangkuan orang yang amat dicintainya itu. tetapi, ia telah menjadi daun yang luruh begitu saja, mengikuti arus angin untuk menerbangkan seluruh luka hatinya. dan sekarang, ia telah kembali pada pemilik cinta yang sebenarnya. semoga saja Tuhan telah menyiapkan pangeran yang sebenarnya untuknya di surga sana.


22 April 2011 jam 11:13

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.