Langsung ke konten utama

Nokturia*

barangkali ini adalah malam yang paling membingungkan, sebuah beep yang membuatku terjaga ketika malam hampir melewati masa setengah. membuatku menggigil, dan rasa seperti hangat merayapi seluruh aliran darahku, membuat jantungku berdebum-debum seperti pohon yang direbahkan para pencuri di tengah hutan. aku gemetar, tercenung dan aku seperti sakit. tiba-tiba. semua menjadi begitu tak bertenaga.

'aku harus bagaimana?' tanyaku pada seorang teman, dan ia kurasa hampir sama terkejutnya denganku, karena ia menduga pesanku berasal dari seseorang yang telah lama ia tunggu-tunggu. ia berharap aku menjadi senang, tapi tidak, aku justru merasa takut.

aku kembali tidur, dengan perasaan yang entah, membawa gigil dalam selimut tipis berwarna krem. dan ketika kudapati diri ini basah oleh embun esok paginya, aku terkatup-katup dalam kantuk yang kuat. kupikir, aku telah menjadi perempuan nokturia yang membasahi tempat tidurnya sendiri. tapi ternyata butir-butir embun itu berasal dari percikan rindu semalam. bukan dari air seni perempuan nokturia sepertiku.

seluruh dari tubuhku telah basah, mendinginkan urat-urat syaraf, membekukan alam ingat, bahkan untuk sekedar mengingat apa yang terjadi semalam, kecuali bahwa aku sedang rindu, dan aku tak ingin menyesalinya. rindu yang datang begitu cepat, tapi entah kapan ia enyah dari hatiku.

bukan hanya seluruh dari diriku, tetapi lelangit yang menauingi dan bumi yang memberi pijakan, menjadi lembab dan berkabut, basah oleh rindu yang masih begitu kuatnya. kepada dia yang aku sebut somebody. bahkan ketika hujan berikutnya datang, tak mampu membilas sisa rindu yang masih menempel di pucuk-pucuk hati, juga pada musim terik setelah ini.

*Nokturia; kebiasaan kencing di malam hari

Punie, after infonite

10:43 pm

26.04.11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n