Nokturia*

barangkali ini adalah malam yang paling membingungkan, sebuah beep yang membuatku terjaga ketika malam hampir melewati masa setengah. membuatku menggigil, dan rasa seperti hangat merayapi seluruh aliran darahku, membuat jantungku berdebum-debum seperti pohon yang direbahkan para pencuri di tengah hutan. aku gemetar, tercenung dan aku seperti sakit. tiba-tiba. semua menjadi begitu tak bertenaga.

'aku harus bagaimana?' tanyaku pada seorang teman, dan ia kurasa hampir sama terkejutnya denganku, karena ia menduga pesanku berasal dari seseorang yang telah lama ia tunggu-tunggu. ia berharap aku menjadi senang, tapi tidak, aku justru merasa takut.

aku kembali tidur, dengan perasaan yang entah, membawa gigil dalam selimut tipis berwarna krem. dan ketika kudapati diri ini basah oleh embun esok paginya, aku terkatup-katup dalam kantuk yang kuat. kupikir, aku telah menjadi perempuan nokturia yang membasahi tempat tidurnya sendiri. tapi ternyata butir-butir embun itu berasal dari percikan rindu semalam. bukan dari air seni perempuan nokturia sepertiku.

seluruh dari tubuhku telah basah, mendinginkan urat-urat syaraf, membekukan alam ingat, bahkan untuk sekedar mengingat apa yang terjadi semalam, kecuali bahwa aku sedang rindu, dan aku tak ingin menyesalinya. rindu yang datang begitu cepat, tapi entah kapan ia enyah dari hatiku.

bukan hanya seluruh dari diriku, tetapi lelangit yang menauingi dan bumi yang memberi pijakan, menjadi lembab dan berkabut, basah oleh rindu yang masih begitu kuatnya. kepada dia yang aku sebut somebody. bahkan ketika hujan berikutnya datang, tak mampu membilas sisa rindu yang masih menempel di pucuk-pucuk hati, juga pada musim terik setelah ini.

*Nokturia; kebiasaan kencing di malam hari

Punie, after infonite

10:43 pm

26.04.11

Komentar