Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 03 September 2013

Sekeping kenangan tentang sekolah Kampung Pelita

foto by ATJEHPOSTcom
PERNAHKAH kau merasa rindu? Bukan rindu pada seseorang, tapi rindu kepada tempat asalmu. Di tanah tempat kau dilahirkan, tempat kau dibesarkan dan tempat kau belajar a be ce dan de, juga huruf hijaiyah alif ba ta dan tsa...Di tanah itu kau belajar artinya memiliki tanah air, tempat lahir beta.

Rindu serupa itulah yang terus kurasakan. Sejak siang tadi, kemarin, dan kemarinnya lagi. Aku terkenang pada sebuah desa yang sering kusebut sebagai Kampung Surga. Di desa itu berdiri sebuah bangunan yang amat sangat "istimewa". Bangunan tempat aku belajar membaca dan menulis. Ya, rumah sekolah kami.

Bangunan sederhana yang berdiri di kaki bukit, berada di tengah-tengah kebun warga, berdampingan dengan jalan utama di kampung itu. Kau mau tahu apa nama perkampungan itu? Namanya Lorong Pelita, berada di pedalaman Aceh Timur (Pelita yang Tak Padam Dihempas Konflik). Ah, sungguh indah bukan? Tapi kegelapan adalah hal pertama yang kulihat di kampung itu. Dulu, sekitar seperempat abad lalu, ketika aku sudah tahu apa artinya kegelapan. Kegelapan adalah malam tanpa cahaya bulan atau bintang. Di kampung kami, kegelapan berarti adalah hidup tanpa listrik. Ya, kala itu masyarakat sudah puas dengan lampu teplok, atau paling wah dengan petromak.

Oh ya, soal kampung Pelita itu biar kuceritakan lain kali saja ya. Kali ini aku ingin cerita tentang sekolahku dulu. Tempat aku belajar mengenal huruf. Oh ya, bukan tanpa alasan aku menceritakan sekolah pertamaku itu, selain karena aku tak mengenal sekolah Taman Kanak-Kanak, juga karena sangat banyak kenangan di sekolah itu. Dan dibandingkan saat aku SMP atau SMA, masa-masa SD adalah masa paling menyenangkan buatku.

Aku terus mengingat-ngingat. Jika ditanya apa yang pertama paling kuingat dari sekolah itu, adalah bumbungan asap hitam yang mengepul dari ruangan kelasnya. Awal tahun 1990-an, dari dalam keranjang di jok belakang sepeda motor tua milik ayahku, aku melihat api menyala-nyala dari sekolah itu. Itu juga hari pertama aku memahami istilah "mengungsi".

Bagi seorang anak yang namanya saja belum bisa ia tulis, kepergian mendadak yang diwarnai ketakutan adalah pengalaman tak terlupakan dalam hidupnya. Sekaligus menyenangkan. Apakah itu petualangan? Aku tidak pernah tahu, tapi yang pasti pengalaman diangkut dengan keranjang itu bolehlah dikatakan memesona. Upaya "evakuasi" yang tak biasa.

Hanya beberapa bulan saja aku, orang tuaku, dan orang-orang di kampungku mengungsi ke tempat yang lebih aman. Setelah beberapa bulan mengungsi kami kembali ke Lorong Pelita. Warga yang kembali menyusut drastis, banyak rumah-rumah yang setelah itu menjadi kosong, terbengkalai. Beberapa terbakar dan menjadi puing-puing. Tapi sayang, rumah-rumah itu tak meninggalkan bekas karena hanya bermaterial kayu.

Di sinilah awalnya aku berkenalan dengan sekolah itu. Sekolah yang oleh penduduk setempat kemudian menjadi begitu "keramat". Bagaimana tidak, sekolah itu terpaksa aktif kembali dengan "ancaman" jika tak ada murid maka sekolah akan dipindahkan. Bisa bayangkan bagaimana sibuknya para orang tua kami waktu itu. Mereka berupaya agar sekolah dasar itu tak dipindahkan ke desa lain. Beberapa anak berhasil dikumpulkan sebagai murid, beberapa di antaranya terpaksa dimanipulasi tahun lahirnya agar bisa diterima di sekolah. Dan aku, adalah salah satu dari murid hasil manipulasi itu hahahaha.... Tentu saja, dalam hal ini orang tua saling bekerjasama dengan para guru di sana.

Mungkin kau pun tak begitu saja bisa melupakan sekolah itu jika mengalami apa yang kualami. Belajar di ruangan kelas yang tak sempurna, dindingnya penuh bercak hitam bekas kebakaran tempo hari. Sementara beberapa kelas lain sudah hangus terbakar. Seingatku hanya tiga ruang yang tersisa. Dipakai untuk kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Sementara ruang kelas empat, lima dan enam hangus terbakar. Hancur tinggal berupa puing-puing. Nah, di bekas reruntuhan inilah setiap kali waktu istirahat kami memanfaatkannya untuk bermain bongkar pasang, main sembunyi-sembunyian, kami juga menyebutnya main berondok-berondokan, kadang kami menyebutnya main jitong. Permainan jitong ini selalu diawali dengan syair bol angka bol kali lisal gembol, aku lupa sambungannya, tapi yang pasti diakhirnya diucapkan siapa jaga jangan marah! Jitong versi bahasa Aceh disebut pet-pet.

Sekolah itu amat polos, berwarna krem pucat dan berdiri di sepetak tanah yang hanya berpagar pohon teh-tehan. Di halaman agak ke sudut kanan ada sebatang pohon akasia. Halamannya yang menurun dan datar ditumbuhi rumput. Sekolah juga tak punya kamar kecil, kami memanfaatkan area belakang sekolah untuk buar air, kecil tentunya. Di sekeliling sekolah ada beberapa rumah untuk guru, tapi waktu itu seingatku masih kosong. Beberapa tahun kemudian sekolah dirampungkan dan lengkaplah enam ruangannya, lengkap dengan terasnya yang berubin dan selalu bersih.

Aku dan teman-temanku sangat menikmati sekolah di kaki bukit itu. Setiap istirahat kadang kami memanfaatkannya dengan bermain kuda tunggang, kelereng atau guli, main karet, gambar, pecah piring, engklek, dan beberapa permainan khas anak desa lainnya.

Meski sekolahnya berada di pelosok, kami sangat disiplin. Tak ada murid yang ke sekolah tanpa memakai sepatu, sekalipun sepatu yang dipakai sudah bolong di bagian depannya. Kadang jari-jari kaki terpaksa ikut nongol ke luar. Saat-saat kami bisa bercakar ayam atau ber-swallow ke sekolah adalah saat hujan lebat. Kondisi jalan yang buruk tanpa aspal sungguh tak memungkinkan untuk memakai sepatu. Dan kau tahu, ini adalah saat-saat yang paling kami tunggu-tunggu. Ke sekolah tanpa sepatu itu menyenangkan, karena saat di jalan kami bisa dengan leluasa masuk ke peceran hahahah.Oh ya, peceran itu adalah genangan-genangan air di badan jalan.

Murid-murid di sekolah kami juga rapi-rapi, semua murid harus memasukkan baju ke dalam. Kami diharuskan memakai sepatu hitam dan kaus kaki putih. Dengan seragam putih merah, bukan pakaian bebas. Masyarakatnya yang heterogen membuat kami tak hanya mengenal satu budaya saja, keragaman inilah yang sampai sekarang terus melekat di benakku.

Aku mau cerita sedikit tentang diriku. Di antara teman-teman usiaku waktu itu termasuk paling muda, di rapor usiaku terpaksa dituakan enam bulan. Aku sudah duduk di sekolah dasar saat seharusnya aku masih belajar di Taman Kanak-Kanak. Dan ini adalah kelucuan yang kalau aku dan ibuku mengingatnya, selalu menghadirkan tawa besar di antara kami. Di awak-awal sekolah aku tak bisa membedakan mana kiri dan kanan, hasilnya jika sekali waktu ibu lupa memeriksa keadaanku, maka aku akan ke sekolah dengan sepatu terbalik, dasi yang miring, dan topi yang miring hahaha. Aku kecil juga suka menulis huruf China, ini kata penjaga sekolah. Karena aku menuliskan I sebagai Y, menuliskan M menjadi 3 karena bentuknya yang menurutku mirip hahahaha. Waktu itu tugas guru TK untuk mengenalkan huruf dan angka total diambil alih oleh guru-guru kami yang baik budi itu.

Oh ya, kau tahu blackboard kan? Bukan label perusahaan rekaman itu, melainkan papan tulis warna hitam yang ditulis pakai kapur. Kalau sekarang sih sudah pakai whiteboard, menulisnya pakai spidol. Nah, aku senang mengumpulkan sisa-sisa kapur begitu jam pelajaran usai. Apalagi kalau ada kapur yang berwarna-warni. Maka jika ada guru yang masuk ke kelas dengan beberapa batang kapur tulis di tangannya, kami para murid sangat girang. Berharap kapur-kapur itu nantinya banyak yang tersisa, untuk kami bawa pulang.

Dengan kapur itu ibu mengajariku membaca dan menulis di rumah. Memanfaatkan dinding rumah yang kala itu terbuat dari tripleks, aku terus belajar menulis, membaca, kemudian kuhapus dan kutulis lagi. Begitu seterusnya sampai aku lancar. Semua itu dilakukan ibuku di bawah temaram lampu teplok yang sama sekali nggak romantis. Malamnya aku mengaji di rumah nenekku yang sekarang sudah almarhumah, kami memanggilnya Nek Wa.

Kami memang bersekolah di dusun, yang guru-gurunya sedikit yang tinggal di desa itu. Tetapi antara guru dan para orang tua terjalin komunikasi yang cukup baik. Guru menganjurkan kami membeli buku-buku paket, maka orang tua kami membelikannya dengan hasil jerih payah mereka sendiri. Ketika itu (mungkin) tidak ada yang namanya dana Bantuan Operasional Sekolah, tidak ada istilah sekolah gratis dan wajib sekolah sembilan tahun. Karena setiap bulan orang tua kami harus mengeluarkan biaya beberapa ratus rupiah untuk membayar SPP. Aku dan beberapa teman sekelas yang kebetulan tinggal berdekatan sering belajar kelompok, terutama untuk pelajaran matematika.

Guru-guruku, ah, aku sudah banyak lupa. Tapi biar kucerita beberapa orang saja yang masih kuingat sekarang. Yang pertama ada pak Rohimin, aku lupa entah ia pernah menjadi kepala sekolah. Beliau ini tinggal di Pintu Rimba, beberapa kilometer jaraknya dari rumah kami. Orangnya ganteng, tinggi, putih, badannya atletis, punya istri yang biasa kami panggil bu Rohimin, juga cantik. Tiga anak mereka, Siti, Priyo, dan Dewi juga tak kalah cantik gan tampan.

Ada juga pak Suwanto, yang menjadi guru olah raga kami. Orangnya juga tampan, tinggi, humoris dan suka bercanda dengan anak-anak. Selebihnya aku lupa bagaimana menggambarkan pak guru berkulit putih itu. Aku pun lupa siapa nama istrinya. Yang jelas beliau tinggal di kompleks sekolah.

Kemudia bu Lailan Qadri, kami memanggilnya bu Il saja. Ia sudah almarhumah sekarang, dan kami kenal agak cerewet. Orangnya kecil, mungil. Anaknya dua, Rosnah dan Dewi. Suaminya kami panggil Lek Man, Lek artinya paman/om. Kepada bu Il ini, aku harus berterimakasih banyak, karena saat melanjutkan ke sekolah menengah aku kost di rumah orang tuanya di ibu kota kecamatan.

Siapalagi yaaa...oh bu Ru, aku lupa namanya, entah Rubama, entah Ruhama, atau yang lainnya. Ini guru terkiller yang kami kenal waktu itu. Badannya lebar, dengan tinggi sedang. Kejam, suka teyot (jewer) kuping anak-anak. Suaranya besar, dan wajahnya tak pernah ramah. Ibu yang berkulit gelap ini punya suami tampan namanya pak Khaidir yang biasa kami panggil bang atau lek Ider saja hahahahaha. Beruntung pula anak-anaknya cakep-cakep mirip ayahnya, tapi judesnya nurut maknya....

Selain mereka juga ada bu Juleha, bu Nur, dan kepala sekolah bu Irianti. Tentang mereka ini tak banyak yang kuingat. Kalau bu Irianti, dia punya toko pakaian di kota dan waktu itu langganannya adalah para orang tua murid di sekolah kami. Hahahah... beliau ini orang Padang, jadi kemana saja selalu bergadang eh berdagang.

Ingin kembali ke Kampung Surga? Jelas, aku sangat ingin, rindu teramat sangat bahkan. Tapi itu kampung sekarang sudah hidup segan mati tak mau. Setelah beberapa kali didera konflik, Kampung Surga di kaki bukit itu mulai kembali ditempati warga. Keluarga kami termasuk yang tidak kembali lagi. Dan sekolah itu, setelah sempat kembali dibakar kini telah berdiri lagi dengan tegak, meski masih sederhana namun tak menghilangkan wibawanya. Seperti gambar di atas itu, begitulah penampakannya sekarang heheheh...dulu jauh lebih asri.

Alumni SD N Padang Peutua Ali di Lorong Pelita itu pun kini sulit terlacak jejaknya. Hanya beberapa yang sekarang kuketahui sudah "menjadi", walau bukan menjadi pejabat tapi mereka tumbuh dan besar menjadi seseorang yang penting menurut pandangan masing-masing. Sebagian besar aku yakin mereka berada di Sumatera, mungkin juga di Jawa. Kadang-kadang, aku berandai-andai meski itu tak mengubah keadaan. Jika saja (negara) memberi kesempatan sama kepada anak-anak di pelosok, mereka pasti lebih luar biasa dibandingkan anak-anak kota.

Bayangkan, untuk tetap bersekolah dengan jarak berkilo-kilo meter sambil jalan kaki, hanya beberapa yang bersepeda, itu bukan perkara mudah. Untuk tetap fokus belajar sementara mereka tetap harus bekerja, semisal mengangon ternak atau membantu orang tua ke ladang, itu juga bukan perkara gampang. Sehari-hari mereka tumbuh dan besar di ladang, akhir pekan mereka habiskan bersama tanaman-tanaman dan hewan ternak. Tapi mereka (kami) tak pernah alpa sekalipun menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah. Dan juga bukan hal mudah bagi orang tua kami untuk membimbing anak-anaknya dengan kemampuan mereka yang terbatas. Membantu mengajari pekerjaan rumah, dan mengajarkan budi pekerti.[]


Selamat Hari Pendidikan Daerah Aceh 2 September 2013

Banda Aceh, 2-3 September 2013.

Baca juga

2 komentar:

  1. Nostalgia masa kecil ya... Hihi...lucu. Bersyukurlah menjadi salah satu orang yang pernah bersekolah di pedalaman. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya heheheheh.....bersekolah di pedalaman itu menantang dan menakjubkan

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email