Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 21 Januari 2014

Padamkan Lilinnya, Sayang!

Ilustrasi lilin hias. foto by fanpop
Kau lihat lilin di dalam gelas warna-warni bertabur gliter itu kan, Sayang? Sungguh membuai mata, tak sedikitpun memberi kesempatan bagi kita untuk menjedakan pandangan dari menatapnya. Kutamsil lilin-lilin itu adalah tubuh kita, yang disempurnakan Tuhan dengan kelengkapan pancaindera dengan segala fungsinya.

Cahayanya yang meliuk adalah pancaran dari letupan emosi penuh cinta yang bersumber dari dalam jiwa. Cahaya yang memantul lewat sorot mata kala kita beradu tatap. Cahaya yang mampu menyedot kita dalam pusaran emosi terdalam dari diri kita. Cahaya yang mampu mengirimkan seribu luluh kala hati terbakar cemburu dan amarah.

Sayang, coba kau lihat lilin-lilin itu. Pesonanya kian memancar saat ia bertemankan keremangan. Bak suar di tengah laut lepas yang menjanjikan pertolongan, harapan, juga kehidupan. Kerak-kerak yang menempel di sekujur tubuhnya bak urat-urat akar yang menempel di batang pohon. Atau jalinan karang-karang yang bebal dari gempuran ombak berombak?


Aku tak tahu, perumpamaan mana lagi yang bisa kutamsil untuk menukilkan perkisahan ini. Kurasa kita tak sepenuhnya bahagia menjadi lilin, sebab kefanaan itu begitu cepatnya berwujud. Tubuh lemah kita tergerus waktu begitu cepat dan hebat. Meninggalkan luka perih yang menganga di relung jiwa. Cerita tentang keinginan untuk rukuk sujud bersama itu sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Meleleh bersama cahaya lilin yang kian meredup. Pada akhirnya kita selalu tak bisa menolak pada takdir Tuhan yang Maha.

Bagaimana mungkin aku lupa pada detik-detik ketika lilin-lilin itu menyala. Mulanya hanya satu persatu. Kian kemari cahayanya semakin besar dan pijarnya semakin tinggi. Menyusup jauh di bawah kesadaran, menembus batas rasa paling sensitif yang tersembunyi di dalam diri kita. Saat itulah kita mulai kalang kabut. Bagaimanakah cara memadamkan menara api yang kadung tinggi ini?

Kita bertengger di sebatang logika yang mengapung di tengah kepungan sekarat rindu yang beranak pinak. Memberi ruang untuk menentukan kemudi dari labirin hasrat yang berputar-putar. Semoga sejauh mata memandang bukan fatamorgana yang terbentuk dari ekspektasi imaji dan ilusi.

Sayang, bilakah kita memadamkan lilin warna-warni ini?

Aku hanya ingin menjadi yang biasa saja. Mungkin sebagai lampu minyak dengan nyala yang tak begitu menarik. Sekalipun berjelaga namun tak ada jiwa yang tergerusi rindu, tak ada fisik yang mengaduh karena luka batin yang tak kunjung kering. Tak ada 'karang' atau 'urat' yang terlihat garang padahal sebenarnya di sanalah ketakutan kita bersumber. Sayang, bilakah? Bilakah itu terjadi?[]

1 komentar:

  1. kak ihan.. kalinyo rap sama selera tanyo, abu abu
    :D

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email