Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 01 Juli 2014

Mengapa Mudahnya Pria Menganggap Perempuan Tak Ada?

ilustrasi

Mengapa laki-laki mudah sekali untuk tak 'menganggap' perempuan ada? Saya tidak pernah membuat penelitian khusus soal ini, tapi cerita di bawah ini mungkin bisa sedikit menjelaskan.

Sepasang suami istri yang cukup saya kenal, punya tiga anak dengan usia sekitar 14 tahun, 12 tahun dan 1 tahun. Mereka bukan keluarga yang berlebihan, tapi juga tidak terlalu kekurangan. Sudah punya rumah sendiri, dan punya kios kecil yang dikelola untuk membantu menopang kehidupan sehari-hari. Suaminya bekerja di sebuah bengkel dengan penghasilan yang tidak terjadwal.

Belum lama ini keluarga kecil itu mengalami cekcok. Masalahnya sepele, si istri rupanya membuka usaha sampingan tanpa sepengetahuan suaminya. Awal saya juga tak setuju dengan cara ini, bagaimanapun sepasang suami istri haruslah saling terbuka. Tak boleh ada yang ditutup-tutupi, begitulah salah satu 'trik' kelanggengan rumah tangga yang sering saya baca di buku-buku motivasi.


Setelah mengobrol lebih jauh dengan istrinya, sebut saja Annisa, barulah saya tahu kalau ia memang sengaja tidak memberi tahu suaminya.

"Nanti kalau semua persiapan sudah selesai baru saya memberitahunya," kata Annisa kepada saya.

Mengapa harus nanti? Terbersit tanya di hati saya. Ceritanya panjang kalau mau dijabarkan secara runut, yang pasti suaminya tak setuju kalau istrinya punya usaha karena takut kalah 'saing'.

"Baru punya usaha begitu saja sudah 'keras' bicaranya," begitulah tuduhan tak beralasan yang dilontarkan suaminya kepada Annisa.

Untuk memulai usahanya Annisa menjual emasnya yang tak sampai dua mayam. Ditambah dengan sedikit pinjaman dari tetangga, ia mulai memesan gerobak dorong, membeli peralatan dan juga perlengkapan lainnya. Annisa berencana membuka usaha martabak manis. Seorang keponakannya bersedia menjadi juru racik sekaligus penjualnya.

Baru beberapa hari Annisa berjualan meledaklah 'perang' di keluarga mereka. Si suami melontarkan semua uneg-uneg yang kadung menggunung di hatinya. Ia merasa tak dihargai, mengapa istrinya mesti main kucing-kucingan begitu? Si istri, demi menjaga 'keharmonisan' rumah tangga tidak sepatah kata pun ia membantah. Semua celaan dan ucapan-ucapan bernada mengungkit diterimanya begitu saja. Bukankah suami harus dihormati? Harus menjadi yang nomor satu?

Masih berdasarkan cerita Annisa, sejak dulu suaminya melarangnya untuk memiliki usaha. Saya perhatikan Annisa ini sangat cekatan, ia rajin membuat kacang goreng, kerupuk, kue, memotong buah untuk dijual di kiosnya dan dititip di kios lain. Uang itu ditabung dan dibelinya emas, pernah suatu kali saya mengetahui ia menjual emas yang belum lama dibelinya untuk melunasi hutang suaminya di rentenir.

Dulu waktu anak-anaknya masih kecil ia juga pernah berjualan cairan pemutih pakaian keliling. Belakangan suaminya tahu dan Annisa dilarang berjualan. Dalihnya, uang belanja yang diberikan suaminya sudah cukup.

Soal cukup mungkin memang ada perbedaan definisi antara laki-laki dan perempuan. Bagi laki-laki 'cukup' makan saja mungkin sudah cukup. Sementara bagi perempuan cukup itu artinya memiliki satu dua peralatan rumah tangga yang memadai, punya sedikit uang tabungan jika dibutuhkan mendadak sudah ada cadangan, belum lagi kebutuhan anak yang selalu merengek pada ibunya. Apakah semua itu bisa terpenuhi jika perempuan sama sekali tidak punya penghasilan sendiri?

Inilah yang dilakukan Annisa, ketika ia ingin sekali punya mesin cuci, ia rajin membuat kue dan uangnya ditabung. Setahu saya ia hanya meminta tambahan beberapa ratus ribu saja dari suaminya. Begitu juga ketika ia ingin membeli peralatan pecah belah.

Sebagai istri Annisa juga seringkali merasa tak dihargai. Suaminya selalu mengambil keputusan sendiri, ia tak pernah diajak bermusyawarah termasuk dalam memberikan uang pada anak-anaknya. Jika punya uang suaminya itu sering langsung memberikan uang pada anak-anaknya bukan melalui Annisa. Padahal sebagai istri Annisa ingin uang untuk anak-anaknya diberikan melalui dirinya. Supaya ia bisa 'mengatur' anak-anaknya sendiri.

Apakah bisa seorang istri tidak menggenggam uang sepeser pun ketika suaminya tidak di rumah? Bagaimana jika ada tamu datang tiba-tiba dan harus menjamunya. Untuk membeli sebutir telur dan sebungkus mie instan juga perlu uang. Bagaimana kalau anak tiba-tiba sakit? Apakah obat demam atau penghilang nyeri di apotik bisa didapatkan gratis atau ngutang dulu?

Tapi saya percaya tidak semua laki-laki seperti itu, mungkin kamu salah satunya :-)

9 komentar:

  1. Masih banyak kak pria yang seperti itu, yang melarang wanita ini dan itu tapi yang dia kasih juga hanya segitu saja.

    #eh
    #bukancurhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan curhat tapi curcol ya hahaha

      Hapus
  2. suka sama postingannya, tapi kelanjutannya gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe nanti kalau luang disambung lagi mbak :-)

      Hapus
  3. Sebenarnya semua bisa dikomunikasikan dengan baik, hanya saja perempuan lebih banyak yg segan mengutarakan isi hatinya kepada suaminya. Coba saja bicara jujur dan terus terang, alasannya ikut mencari uang. Asalkan tdk meninggalkan urusan rumah tangga. Kalau istri bicara dgn baik, tdk menyinggung suami, jujur, dari hati ke hati, dilakukan sambil mijitin suami atau nyuapin suami, pasti deh suaminya mau mendengar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahhaah kalau bisa kayak gitu enak kali mbak :-D

      Hapus
  4. Sebaiknya memang kudu jujur dan terbuka dengan suami. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kudu sama dengan wajib ya heheh

      Hapus
  5. Ini curhat atau apa ya kak? hehe
    tapi bagus cerita nya. Bisa jadi pelajaran :D

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email