Langsung ke konten utama

Perindu Sempurna

entah mengapa tiba-tiba saya menjadi sangat gugup, berkeringat dan tangan gemetar, jari jemari berubah pucat dan lemas. segaris senyum tipis membentuk membayangkan apa yang tengah terjadi pada diri sendiri. untuk menghilangkan rasa gugup ini sayapun melakukan beberapa hal kecil seperti meremas-remas tangan, merapatkannya dan meniup-niup agar hangat, dan terakhir melepas kaca mata. tetapi tindakan ini juga tidak efektif, dan saya masih gugup, jantung berdebar kencang dan hati seperti bergetar.

saya kembali tersenyum, dalam perjalanan beberapa menit yang lalu, di sebuah tikungan tiba-tiba sesuatu terlintas di benak saya. bagaimana bila saya bertemu dengan seseorang yang saya sangat sayangi dan dia bertanya "apakah saya merindukan dia?". ketika itu saya berfikir keras, kira-kira jawaban apa yang akan saya jawab. lalu, entah darimana timbullah ide. kalau benar pertanyaan itu ada saya akan menjawab begini " Rindu itu seperti obat, kalau digunakan sesuai dosis dia akan bermanfaat, tetapi bila disalah gunakan dia akan menjadi racun."

nyatanya, pertanyaan itu memang tidak ada, karena orang yang amat sangat saya sayangi ada nun jauh di sana. tetapi entah mengapa, ketika berada di tempat ini saya selalu menjadi gugup dan gemetar. terbayang beberapa bait kata-katanya yang begitu membekas di hati dan terus terngiang di telinga. seolah-olah orang itu ada di dekat saya dan sedang memperhatikan saya, tatapan matanya, senyumnya yang lepas, wajahnya yang dewasa, dan kata-katanya yang hangat cukup mampu membuat saya salah tingkah seperti ini.

namun, dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang semuanya tidaklah seindah yang ada dalam fikiran kita. artinya, dalam setiap interaksi kita dengan orang lain tidak berjalan se ideal yang kita harapkan. seorang teman pernah memberi komentar terhadap statement saya begini " Jangan terlalu mudah merindu, karena kadang ia menyapa orang yang tak pantas dirindukan. dan jangan mudah minum obat kadang daya tahan tubuh kita lebih kuat dari dugaan."

bukan bermaksud menyalahkan, dan tidak pula membenarkan, karena saya sendiri adalah tipe orang yang gampang merindui. banyak hal yang membuat saya bisa dengan mudah merindui orang lain, dan anehnya kadang-kadang proses merindui itu bisa sangat lama dan bertahun-tahun tanpa pernah berubah. Rindu itu seperti pemantik bagi saya, yang setiap saat bisa memacu adrenalin sehingga setiap aktivitas yang saya lakukan selalu penuh dengan antusias dan semangat.

dalam pekerjaan saya misalnya, di mana saya di tuntut untuk bisa menjadi motivator dan mampu menggali impian dari orang-orang yang saya bina, tentu itu tidak mudah, apalagi yang menjadi binaan adalah orang-orang yang dari sisi usia berkali-kali lipat bedanya dengan saya. kadang-kadang muncul rasa jengkel dan sebal, tetapi pada saat itu saya menghadirkan rasa rindu kepada banyak orang. saya balikkan posisinya, saya bayangkan, orang-orang yang ada di depan saya adalah wajah-wajah orang yang saya cintai, sayangi dan rindui, dengan begitu rasa jengkel dan sebal itu akan hilang dengan sendirinya.

dan yang paling menggelikan adalah kalau dalam rute yang saya lalui ada foto caleg yang saya kagumi, saya akan sangat senang melewatinya, dan bisa dipastikan pekerjaan saya saat itu berjalan dengan lancar. karena saya bisa mensuplai energi positif dari foto caleg tersebut ke dalam diri saya. saya akan tersenyum terus sepanjang perjalanan. bahkan kadang-kadang teman saya suka memperhatikan pohon-pohon besar yang kami lewati. begitu ada foto caleg idola saya dia akan berkomentar .....tuh...ada foto si bla bla bla (menyebutkan nama seseorang yang sangat berarti di hati saya ) di sana. dan kami terbahak bersama.

saya akan sulit menceritakan hingga saya benar-benar bisa membuktikan. contoh lain, beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah perjalanan, di sebuah kota, saya mempunyai sesuatu yang layak untuk dirindui, hingga sampai sekarang saya masih terkenang dengan kota itu. meski hanya beberapa jam saya singgah di kota tersebut. kadang-kadang saya heran, rasa rindu dalam diri saya bisa muncul dari efek rasa tidak nyaman yang timbul di hati saya, rasa rindu yang melesak-lesak dan mendorong saya untuk melakukan sesuatu yang fenomenal di tempat tersebut.

rasa tidak nyaman itu lama-lama muncul seperti lilin kecil yang kemudian membuka jalan dan memberi terang dalam proses berfikir saya. bahwa segala hal negatif bila kita kelola dengan baik akan menjadi positif. dan sesuatu yang fenomenal itu hanya tinggal menunggu waktu hadirnya, dan pembuktian itu akan segera terwujud. pada saat itulah kerinduan akan kota itu tertebus, dan saya akan membuat kenangan yang lebih indah yang berawal dari rasa ketidak nyamanan.

karena, dari rasa tidak nyaman itu saya mulai membuat perencanaan tentang apa yang saya inginkan dan hasilkan dari rasa tidak nyaman itu. misalnya, siapa yang harus saya dekati di kota tersebut, lalu program apa yang harus saya kembangkan di sana, dan kepada siapa saya ingin membuktikannya.

pada dasarnya saya senang bertemu dengan orang-orang baru, apakah mereka yang mempunyai hobby yang sama dengan saya maupun dari latar belakang yang berbeda dengan saya. karena dari setiap pertemuan itu pasti ada sesuatu yang bisa didapatkan untuk mengayakan diri. terlepas dari pertemuan itu akan berakhir dengan baik atau tidak, berakhir indah atau dramatis, berakhir menyenangkan atau memilukan. yang pasti, setiap pertemuan adalah rindu yang berfungsi sebagai pemantik.

saya adalah perindu sempurna, bisa pada kata yang dingiangkan ke telinga saya, bisa pada kata yang dikirimkan melalui pesan pendek, bisa pada sinyal yang dikirimkan melalui isyarat mata dalam diam... bisa pada bahasa tubuh yang tanpa sengaja...

banyak cara untuk merindui, sama seperti banyaknya cara untuk tersakiti, tetapi mampukah mengelola rindu dan sakit itu menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi perkembangan diri kita? setiap orang punya jawaban berbeda, dan setiap orang punya cara sendiri untuk mengelolalnya. (Ihan)

Komentar

  1. Perindu sempurna :)

    Kali ini Abu kehilangan kata-kata...

    Soalnya....

    Hahahaha...

    BalasHapus
  2. jangan terlalu banyak bersoal-soal....nanti kalau sudah numpuk susah lho nyari jawabannya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…