Langsung ke konten utama

Rindu

@peterdraw.wordpress.com
Yang kupahami, bahwa waktu tak sanggup menggerus debar yang lahir karena rasa yang teramat dalam. Seperti ombak yang tak sanggup mengikis kokohnya karang. Waktu juga tak sanggup mengikis gugup yang lahir karena rindu. Bukan, ini bukan tentang waktu, tapi tentang rasa dan rindu yang muncul di antara aku dan engkau.

Aku sungguh rindu menatap biji matamu yang tak sempurna hitam. Senyummu yang terkulum penuh goda. Juga sepasang tanganmu yang mengepak sempurna kala merengkuhku. Dalam ingatanku semua itu lebih indah dari kepakan camar yang terbang melintasi awan.

Aku rindu wangi semerbak yang menguar dari setiap panca inderamu.

Bertengkar. Ya, aku juga rindu dengan pertengkaran kita tentang asal muasal rasa. Tak berawal tak berujung. Entah siapa yang memulai, namun tak satu pun yang berniat mengakhiri. Ah, kau lihat senja bukan? Matahari tenggelam bukan karena ia ingin berpisah dengan bumi. Tapi dengan itu ia membuat bumi menjadi lebih berarti. Memberi kesempatan bagi bulan untuk menunjukkan cahayanya, juga bagi bintang gemintang yang berkilau bagai kunang-kunang di dahan pohon.

Hm... siapa matahari siapa bumi? Kita berotasi Sayang. Saling menyuplai energi, saling membagi cerita. Adakalanya engkaulah si matahari itu, yang memberi hangat ke seluruh panca inderaku. Memberi kesempatan untuk bumi menyemai benih kehidupannya sendiri.

Di lain waktu kau bersedia menjadi bumi. Berada di posisi terendah hanya untuk menyaksikan bahwa aku selalu ada untukmu. Dalam diam. Tanpa riuh kata-kata. Kita mencoba saling memahami.

Rindu. Aku ingin bercerita tentang rindu. Pada mulanya bagai debu-debu batu kapur. Tapi debu-debu itulah yang mampu memancang tiang-tiang besi. Rindu itu terjalin Sayang. Pada akhirnya berujung pada kesetiaan.[]

Komentar

  1. yang masih aku penasaran smpe sekrng, segala tulisan tntg rasa Ihan ditujukan ke siapa??
    siapakah lelaki itu Ihan??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ferhatt??? =))

      Hapus
    2. jangan penasaran Hat, penulis bisa 'mewujudkan' apa saja dalam bentuk tulisan heheheh

      Hapus
  2. Bunuh rindu dengan ketemuan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. eueee.... pengalaman kali kayaknya yaaaa :-D

      Hapus
  3. sama kayak komen bang ferhat, liza selalu penasaran dengan tulisan dan status fb kak ihan yang selalu melambai2 dan bersemi indah. siapakah lelaki beruntung itu?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n