Jumat, 05 Mei 2017

Cemburu yang Hangat dan Berisik

Ilustrasi

Zenja,

Ada apa gerangan tiba-tiba kau muncul di mimpiku semalam? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak saling mengingat, tidak saling bertukar pandang, tidak saling mengunjungi, sekalipun dalam mimpi?

Ah, tapi kita tidak pernah membuat perjanjian khusus tentang itu bukan? Artinya, kita (masih) boleh saling mengingat, boleh saling bertukar pandang, boleh saling mengunjungi, sekalipun hanya dalam mimpi.

Atau, karena ini Mei. Bulan yang selalu mengembalikanmu kepadaku, seperti aku yang kembali padamu di setiap September. Bulan di mana kau selalu berusah payah untuk membuat sepotong dua potong puisi, hanya untuk mengatakan bahwa aku begitu berarti untukmu.

Entahlah, aku hanya berpikir mengapa dua orang yang sama-sama keras kepala seperti kita bisa punya cerita sepanjang ini. Jika cerita ini kuilustrasikan sebagai benang, dan kita berdua memintalnya, sudah menjadi sebuah permadani yang berlapis-lapis tebalnya.

Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tentang langit jingga yang menyedotku dalam pusaran rindu, tentang ricik air pegunungan yang menghanyutkanku pada cerita-cerita kita, juga tentang kilau mentari pagi yang menghangatkan, sehangat ucapanmu yang tak pernah luntur.

Tentang ricik air ini, aku punya cerita khusus untukmu. Di sanalah aku memadamkan semua gejolak dan melumatkan semua rindu yang bersarang di dalam jiwa. Sebagiannya kuhanyutkan bersama riak yang mengalir deras. Entah ke mana riak membawanya.

Zenja,

Kau tahu, kemarin malam aku menikmati kembali seperti apa rasanya cemburu. Seperti apa rasanya hati ini menghangat dan berisik. Ya, rasanya indah, karena katamu cemburu yang sesuai takaran adalah tanda cinta yang sedang mekar bukan?

Kembali jatuh cintakah aku?

Padamu aku pernah mengatakan; tak apa cinta jatuh berulang-ulang, asalkan kepada orang yang sama. Sekalipun dalam mimpi jatuh cinta tetap saja menyenangkan, membuat bahagia, menggembirakan.[]

Kamis, 04 Mei 2017

Salah Pilih Warung Kopi

Hidangan kopi Arabika Gayo dan sejumput gula aren untuk sweetener-nya @Ihan Sunrise

INI pertama kalinya aku duduk di warung (kafe) kopi ini. Salah satu dari sekian banyak warung kopi yang ada di Jalan P. Nyak Makam Banda Aceh. Letaknya hanya selemparan batu dari hotel berbintang yang ada di jalan ini. 

Secara fisik warung ini cukup good looking. Satu pintu toko yang ditata seapik mungkin. Di dalamnya tertata kursi dan deretan sofa empuk yang nyaman diduduki. Di bagian luar ada beberapa meja. Ruangannya dicat dengan dominasi warna merah dan hitam. Dua warna yang sangat kusukai.

Maka ketika tadi melangkahkan kaki masuk ke warung ini, kupikir aku tidak akan salah. Ada banyak sekali warung kopi di Banda Aceh ini. Itulah kenapa kota mungil yang menaungi sembilan kecamatan ini dijuluki Negeri 1001 Warung Kopi. Selain sudah punya beberapa warung langganan, sesekali aku dan teman-teman juga ngopi di warung-warung yang belum pernah kami datangi. Itung-itung cari suasana baru. Sekalian mencicipi menu-menu istimewa/interiornya yang makin ke sini makin keren-keren.

Makanya pagi tadi ketika Risa memberi kode di grup untuk minum kopi, aku segera menyambutnya. Lagipula sudah lama tidak ngopi bareng dengan dokter gigi muda ini. Aku diberi hak oleh Risa untuk memilih warung mana yang akan kami datangi. Akupun memilih warung kopi ini, karena memang belum pernah ke sini. Dan ternyata semuanya di luar ekspektasi.

Rabu, 03 Mei 2017

"Kapan Kawin" dan "Kapan-Kapan" Lainnya

Ilustrasi


"Kapan nih?"

Itulah pertanyaan yang dilontarkan tetangga di kampung, setelah ia melepas kangen dengan ibu karena sudah lama tidak bertemu. Pertanyaan itu tentu saja ditujukan kepadaku, yang secara tersirat bermakna; kapan kawin?

Aku yang tak menduga bakal langsung disodorin pertanyaan seperti itu, -bahkan sebelum pantatku rapat benar dengan kursi- tak spontan menjawab.

Tetangga tersebut adalah ibu teman SMA-ku. Jika tak salah ingat terakhir kami bertegur sapa sudah lama sekali, waktu aku masih SMA. Kupikir, setelah belasan tahun tidak melihatku, si ibu ini akan bertanya aku kerja di mana, dan hal-hal lainnya yang menyangkut dengan karier. Ternyata dugaanku meleset. Pertanyaan kapan kawin ternyata lebih seksi dan menggoda.

Seperti biasa, aku hanya membalas dengan senyuman saja sebagai 'kode'. Tapi sayangnya saat aku memberi jawaban berupa senyum, si ibu itu malah tak melihatnya. Dia sedang menyiapkan dua mengkok mie so pesanan kami.

"Tuh ditanyain." Ibu memberi kode.

Aku yakin ibu pun menunggu jawabanku dengan penasaran, soalnya selama ini setiap kali ibu mulai menyerempet ke pembicaraan itu aku tak pernah menanggapinya dengan serius. Buatku membicarakan pernikahan belum ketemu di mana asyiknya.

Senin, 01 Mei 2017

Kangen Zatin!

Kencan akhir pekan di Uncle.co 

SECANGKIR es kopi pabrikan yang kuhabiskan petang tadi, ditambah segelas mungil kopi hitam yang kusesap lepas isya, cukuplah sebagai 'syarat' membuat mata tetap terbelalak hingga selarut ini. Sudah lebih dari tengah malam, tapi belum ada tanda-tanda mata ini akan segera layuh.

Setelah 'menyadari' kalau ini akan menjadi malam yang cukup panjang, aku menyalakan laptop. Menuliskan satu atau dua kalimat panjang mungkin bisa membuatku segera tertidur, setidaknya bisa menghadirkan lelah sebagai syarat utama untuk tidur.

Aku ingin menuliskan tentang Zatin, seorang karib yang telah mengisi ruang khusus di hatiku. Beberapa hari ini ingatanku terus tertuju padanya, sejak mengetahui bahwa ia secara 'diam-diam' telah meninggalkan kota yang tak seberapa riuh ini. Emosi sentimentilku mengatakan, dia meninggalkanku. Hiks...

Minggu, 30 April 2017

Happy Graduation dan Selamat Berjuang My Beloved Sista

gaya selfie generasi milenials


KUSEMPATKAN untuk menuliskan cerita ini di sela-sela bekerja di akhir pekan. Maklum, aku tergolong 'bukan orang biasa', di mana bekerja di saat orang lain libur, dan tetap bekerja saat orang lain bekerja. :-D #abaikan #justjoke

Yang benar adalah, aku sengaja menuliskan ini untuk memberi semangat kepada adik bungsuku yang saat ini sedang berjuang di step pertama menuju gelar sebagai mahasiswa.

Baiklah, akan kuperkenalkan sedikit tentangnya. Namanya Nurul Muhdiah. Lahir 13 Oktober 1999, saat gejolak konflik di Aceh sedang 'hot-hotnya'. Satu hal yang mengingatkan pada peristiwa kelahirannya adalah Referendum. Bahkan salah satu tetangga kami memberikan nama anaknya 'Referenda' untuk mengenang peristiwa bersejarah itu.

Back to Diah, si bungsu ini baru saja tamat SMA. Kamis, 27 April lalu dia diwisuda dari SMA Unggul Nurul Ulum, Peureulak, Aceh Timur. Btw sejak enam tahun terakhir dia mondok di sana, tapi entah kenapa sifat manjanya sampai hari ini belum hilang juga. Mungkin karena anak bungsu, entahlah.

Kamis, 20 April 2017

Hikayat Kunang Kunang; Kebahagiaan Itu Harus Diciptakan, Dia Tidak Datang Sendiri


"Hai, kau sudah pulang?" seekor kunang kunang mencegatku dari balik pintu kamar. "Kami sudah menunggumu sejak tadi," sambungnya.


Sedetik kemudian seekor kunang kunang yang lain muncul, diikuti sekor yang lainnya. Ada tiga kunang kunang yang sekarang berputar-putar di depanku. Salah satunya adalah Ratu kunang kunang. 

Mereka memamerkan kepakan-kepakan sayap yang indah dan perut mereka yang berkilauan hijau kekuningan. Mereka adalah kunang kunang yang pada malam malam sebelumnya datang bergantian.

"Maaf telah membuat kalian harus menunggu lama. Tadi aku ada urusan di luar. Sebenarnya tadi aku berharap kalian datang lebih awal, ada yang ingin kuceritakan. Tapi, karena kalian tak muncul-muncul juga aku memutuskan pergi sebentar, mencari angin segar," kataku panjang lebar sambil merebahkan badan di kasur. Lelah dan kantuk menggayutiku. Aku melirik jam dinding, hampir setengah dua belas.

"Kami tahu dengan siapa kau berurusan tadi." Salah satu dari mereka membuka suara. Sambil mengulum senyum. Seperti mengetahui sesuatu. Aku melotot.

Kemudian salah satu dari mereka berbisik-bisik kepada yang lainnya. Aku berusaha menguping, tapi tetap tak tahu apa yang mereka bicarakan. Hingga salah satu dari mereka seperti memberi kode.


Lalu sekawanan kunang kunang lain bermunculan di kamarku. Jumlah mereka tak terhitung. Mereka membentuk berbagai formasi indah dan kelihatannya seperti sedang berpesta merayakan sesuatu.

Rasa kantuk yang menghinggapiku menyusut. Mataku berbinar-binar menyaksikan atraksi ini. Kesenangan merayapi urat syarafku. Senyumku mengembang. Aku mengerjap-ngerjap bersuka cita.

"Ini hadiah untukmu. Hiburan atas kerisauan yang sempat kau rasakan tadi," seekor kunang kunang berusaha menjelaskan situasi ini. "Semoga kami selalu bisa memberikan kebahagiaan dan senyuman untukmu wahap penikmat rasa."

"Tidak, tidak, sekarang aku tidak cemas lagi. Aku sedang berbahagia sekarang," jawabku malu-malu.

"Kami tahu, hiburan ini untuk melengkapi kebahagiaanmu malam ini. Hmmm...ngomong-ngomong tadi diam-diam kami mengekori kalian."

"Hah?! Kalian mengikutiku? Untuk apa? Untuk memata-matai aku?"
"No no no...bukan, tentu saja bukan untuk itu. Kami hanya ingin memastikan dengan siapa kau membersamai waktu."

"Lalu?"

"Kami merasa kau tidak biasa melakukan ini. Tak pernah kulihat kau keluar rumah sekadar hanya untuk mencari angin segar selarut itu."

"Hm.... Kalian pandai sekali mengorek-ngorek.... Eh, tunggu dulu, kalian bilang 'tak pernah kulihat...' bukankah kalian baru beberapa malam saja datang menemuiku? Bagaimana kalian tahu malam-malam sebelumnya yang aku lalui?"

"Belum saatnya kau mengetahui itu. Jika waktunya tiba akan kami ceritakan semuanya."

"Baiklah. Lalu apa yang kalian lakukan setelah mengetahui dengan siapa aku mencari angin segar?"

"Setelah mengetahui dengan siapa kau menghabiskan waktu lalu kami pulang dan merencanakan semua ini."

"Terimakasih atas kejutannya, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarga kunang kunang."

"Kami sengaja datang untuk menjadi temanmu, agar kau bisa berbagai dengan kami. Karena..."

"Karena apa?"

"Kehadirannya lagi-lagi bukan untuk diceritakan. Benar, bukan?"

"Tapi untuk dinikmati..." aku menjawab lugas.

Lalu kami tertawa bersama. Ya, kunang kunang itu benar. Banyak hal yang tak bisa diceritakan, bahkan kepada diri kita sendiri. Terlalu banyak rahasia.

Tapi entah mengapa tiba-tiba kesenduan kembali menghinggapiku. Sebulir bening mengapung di pelupuk mataku. 

"Kebahagiaan itu harus diciptakan, dia tidak datang sendiri. Untuk saat ini, nikmati kebahagiaan ini, meski hadirnya hanya sebentar... Kau telah menciptakan kebahagiaanmu sendiri." Ratu kunang kunang yang sebelumnya hanya diam mengampiriku. Ia berusaha menyeka air mataku dengan tangan mungilnya. 

Aku membentangkan tangan. Hanya sekali lompatan Ratu kunang kunang sudah ada di telapak tanganku. Aku memandanginya dengan takjub. "Tidak, bukan aku, tapi kalian yang sudah menciptakan kebahagiaan ini. Melalui dia bukan?"

Ratu kunang kunang tersenyum. Menyejukkan. "Sekarang tidurlah.... Semua yang kalian bicarakan tadi akan menjadi dongeng pengantar tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak. Lupakan semua takdir belasan tahun. Kita akan menciptakan takdir berbeda untuk hari-hari selanjutnya."

"Terimakasih."

Dan aku tidur dengan cerita-cerita yang kuciptakan sendiri, sebagai dongeng pengantar tidur.[]

Rabu, 19 April 2017

Hikayat Kunang Kunang; Menikmati Misteri


ilustrasi


"Hari yang menakjubkan, hah?" Kehadiran kunang kunang yang tiba-tiba lagi-lagi mengagetkanku. Pertanyaannya tanpa basa-basi. Teras menodong dan menohok.

"Menakjubkan apanya?" Aku menggerutu. Terusik dengan kehadirannya. Aku berusaha mengabaikannya dengan menarik selimut. Mataku sudah layuh.

Kunang kunang itu malah berputar-putar di sekitar pelipisku. Kilau cahaya di bawah perutnya membuatku silau.

"Aku tidak tahu siapa yang mengirimmu ke sini. Atau.... mungkin kamu adalah robot kunang kunang yang sengaja dikirim untuk memata-matai aku. Jika memang begitu sebaiknya kau pergi saja, jangan ganggu istirahatku."

"Hei... kau bahkan belum tidur. Lalu kau tuduh aku mengganggu istirahatmu? Kau keterlaluan." Mata kunang kunang terlihat mengkilat. Mungkin dia tersinggung. Tapi mengapa aku harus peduli.