Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 08 Agustus 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian VIII


Tidak sedikitpun berani ku pandangi wajah kedua orang tua ku. Dimata mereka tengah menyala api kemarahan dan kemurkaan yang luar biasa. Karena itu aku memilih bungkam daripada tambah memperkeruh suasana. Untuk sesaat memang tidak ada satu orang pun yang berbicara. Aura kengerian dan ketakutan jelas terpancar dari setiap penjuru ruangan yang senyap ini. Membuat ku semakin tak sanggup berkutik, walau hanya untuk mengedipkan mata.

Aku sama sekali tidak menyangka, obrolan mama dan bibi haryati kemarin ternyata berbuntut panjang seperti ini. Entah apa yang ia katakan pada mama sehingga mama kembali tidak menyetujui hubungan ku dengan Juan. Padahal tadinya mereka sudah menyetujuinya dan sekarang malah berbalik menyerang ku. Memaksa ku untuk memutuskan hubungan dengan Juan.

Aku benar-benar tidak habis fikir dengan semua yang terjadi didepan ku. Mama dan ayah memberiku dua pilihan. Juan atau mereka. Dua pilihan yang telah membuat ku tidak berdaya dan tak kuasa menahan air mata ku untuk tidak keluar. Namun sebisa mungkin ku tahan agar isak tangis ku tidak sampai meraung-raung. Walau sesungguhnya aku ingin sekali melakukan itu, agar ayah dan mama tahu bahwa mereka telah memberiku pilihan yang teramat sulit dalam hidup ini. Ku akui aku sangat mencintai mereka, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Juan.

Cinta ku kepada Juan memang tidak sebesar rasa cinta ku kepada Zal, tapi melepaskannya begitu saja bukanlah keputusan yang bijak. Tidak ada satu hal pun yang kurang dari Juan, dan tak ada alasan untuk tidak menerimanya. Ini yang tak mampu ku jelaskan pada kedua orang tua ku, aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mereka bahwa aku ingin mereka bisa menerima Juan apa adanya.

Terlalu buruk kah seorang gadis menikah dengan lelaki yang pernah menikah dan sudah mempunyai anak? Dan terlalu muliakah seorang pria lajang yang setelah menikah suka memperlakukan istrinya dengan semena-mena? Aku ingin berteriak, mengatakan tak setuju dengan hukum tidak tertulis itu. Mengatakan tak benar dengan cara berfikir yang salah dan ortodok seperti itu.

Tapi siapa yang akan mendengarnya? Orang-orang telah lupa bahwa tidak semua hati sama, tidak semua keinginan manusia sama. Dan tidak semua anak bisa dikendalikan oleh orang tua.

“Kami sama sekali tidak menyangka, demi laki-laki itu kamu rela membuang orang tua mu sendiri Jingga.” Suara mama terdengar lirih namun sangat menyakitkan.

Aku mendongak, mencoba menatap matanya yang hitam bening. Tapi rupanya mama membuang muka ke arah lain. Disebelahnya ayah berdiri bagai patung tak berbicara sepatah kata pun. Tapi dari rona wajahnya aku tahu ia tengah mengandung kemarahan yang luar biasa, pipinya yang putih terlihat memerah. Giginya bergemeretak membuat ku semakin takut dan khawatir. Takut ayah marah dan memukul ku.

“Sekarang semuanya terserah sama kamu, kalau memang kamu memilih kami orang tua mu itu artinya kamu harus meninggalkan laki-laki itu. Tapi kalau kamu masih bersikeras mempertahankan hubungan kalian…kamu bisa lihat pintu yang terbuka itu…jangan pernah masuk kerumah ini lagi sampai kapan pun.” Suara mama menajam.

Aku terhenyak. Tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan olehnya. Air mata ku yang tadi sempat mengering kini menetes lagi. Bahkan lebih sakit dari yang tadi. Bagaimana mungkin mama sanggup mengatakan itu kepada ku. Anak satu-satunya yang selama ini begitu ia sayang dan kasihi.

“Mama dan ayah tidak mau lagi menghalang-halangi kamu, kamu sudah besar, sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk diri mu sendiri. Sudah bisa cari makan sendiri, jadi untuk apalagi keberadaan kami bagi mu.”

“Mama…” Jawab ku lirih dengan air mata berlinang. “Mengapa mama ngomong begitu? Apa mama sudah nggak sayang lagi sama Jingga?”

“Mama sangat sayang sama kamu Nak, tapi kamu sendiri yang tidak ingin disayang, kamu yang meminta mama dan ayah bersikap begini.”

“Tapi mama dan ayah kan sudah ngomong sendiri dengan Juan, dan mama sudah setuju. Mengapa akhirnya jadi begini mama?” ratap ku

“Sudahlah Jingga, tidak perlu menangis begitu. Toh kamu sudah putuskan untuk memilih Juan kan?”

“Mama, jingga sangat sayang pada mama dan ayah, tapi…Jingga juga tidak bisa begitu saja meninggalkan Juan.”

“Tapi rasa sayang mu kepada kami tidak lebih besar dari cinta mu kepada dia Jingga.”

Aku tak lagi menjawab apapun setelah itu, tak ada gunanya lagi beradu mulut untuk masalah ini. Keputusan mereka sepertinya sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Aku tersungkur dilantai, memandangi bayangan diriku yang mengabur dilantai. Tak terperi perihnya jiwa ku, terobek-robek, berdarah-darah dan nyaris membusuk.

Tak lama berselang mama kembali muncul ke ruangan tengah, ditangannya bergantung ransel ku yang besar. Tanpa berkata apa-apa ia meletakkan ransel tersebut didepan ku. Aku mendongak. Memandangi raut wajahnya meminta penjelasan atas maksudnya.

“Ini ransel kamu” ucapnya sepatah lalu bergegas pergi lagi

“Mama....! Mama…!” teriak ku berulang-ulang. Tapi percuma saja, ia sama sekali tak mau menoleh kebelakang melihat ku meraung-raung seperti ini. Sudah demikian tertutup kah pintu hati nya? Sudah demikian rapatkah telinganya untuk sekedar mendengarkan teriakan pilu hati anakanya?

Setelah puas menangis segera ku hapus sisa air mata ku dengan sapu tangan yang pernah diberikan Zal kepada ku. Tak ada lagi yang bisa ku pertahankan untuk tetap berada dirumah ini, walau hanya untuk malam ini. Tak ada yang sanggup melukiskan luka yang menganga diruang hati ku. Dan berakhirlah semua cerita antara anak dan orang tua pada malam ini. Aku telah putuskan untuk memilih Juan, tapi bukan berarti aku benci kepada orang tua ku. Tidak! Mereka tetap orang tua ku sampai kapan pun. Bahkan sampai aku mati nanti.

“Jingga pergi Mama…” ucap ku lirih seraya menyeret langkah kaki ku keluar rumah. Sebelum benar-benar pergi ku pandangi sekali lagi seisi ruangan rumah ini. Aku hanya berharap agar mama tidak memindahkan foto-foto ku yang menggantung disetiap dinding rumah ini. Tak ada lagi yang sanggup ku harapkan selain daripada itu.

Pelan ku lajukan sepeda motor ku, melewati gulita malam, melewati jalan-jalan panjang yang berliku dan berkerlipan bintang diatasnya. Aku menengadah, bulan terlihat sabit dan agak gelap. Langit juga tak begitu indah, kalaupun banyak bintang berkerlipan tentu tak mampu membuat alam menjadi sangat indah karena mendung mulai menggelantung.

Tujuan ku kali ini adalah mendatangi rumah Aliya. Aku ingin menginap disana malam ini, aku ingin berbagi penderitaan dengannya, dan berharap ada setitik pencerahan nantinya. Aku berharap, semoga bulan yang sabit ini pertanda masih adanya secercah asa bagi kehidupan ku yang lebih baik dikemudian hari.

Rumah Aliya terlihat sepi, lampu luar yang biasanya selalu terang benderang kali ini sepertinya sengaja tidak ia nyalakan. Sudah dua kali aku menguluk salam tapi belum ada jawaban sekali pun. Ku ketuk sekali lagi sambil memegang gagang pintu. Tidak terkunci, Aliya pasti ada dirumah, batin ku sambil melangkah masuk.

Sampai didalam aku masih terus memanggil-manggil Aliya, pikiranku yang tadinya begitu kacau beralih pada Aliya yang entah dimana. Tubuh ku yang lelah dan mata yang mengantuk membuatku terpaksa menunda untuk beristirahat secepat mungkin sebelum aku bertemu dengan sang empunya rumah. Hati ku kembali gelisah dan cemas, teringat pada Aliya yang mengandung sementara firman tidak mau bertanggung jawab. Betapa kasihannya dia. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, mendadak aku jadi sangat rindu pada perempuan itu.

“Aliya…Aliya, dimana kamu?” panggil ku berulang-ulang. Tetap tidak ada sahutan. Aku jadi tambah cemas. Aku berjalan keruang tengah, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Korongkongan ku yang sejak tadi kering menjadi lebih segar.

“Aliya” panggil ku sekali lagi.

Saat itulah aku mendengar sesuatu dari dalam kamar mandi, seperti orang mengerang karena menahan sakit. Sesekali terdengar rintihan dan desisan, serta gumaman yang tidak begitu jelas. Pikiran ku jadi semakin tidak enak dan bergegas berlari kekamar mandi. Aku mengetuk sambil memanggil nama Aliya, tapi karena tidak dijawab aku berinisiatif masuk karena pintunya memang tidak terkunci.

“MasyaAllah! Aliya! Apa ini?!” teriakku ku kaget melihat darah segar mengalir dilantai. Tubuh Aliya terkapar lunglai sementara tangannya masih terus meninju-ninju perutnya. Sepertinya ia ingin menggugurkan kandungannya.

“Aliya sudah! Jangan dipukuli lagi, ini berbahaya, kamu bisa pendarahan.”

“Jingga…” desisnya pelan

Kepala ku jadi pusing melihat darah kehitaman berceceran. Mata ku jadi berkunang-kunang, aku memang tidak bisa melihat darah. Tapi demi Aliya ku paksakan untuk membersihkan badannya yang berlumur darah.

“Kenapa kamu melakukan semua ini Al?” Tanya ku prihatin

“Aku frustasi Ngga,”

“Iya aku tahu, tapi ini bukan penyelesaian. Ini sangat berbahaya bagi jiwa kamu.”

“Aku hidup juga ngga ada gunanya lagi. Firman hilang dan tidak mau bertanggung jawab, aku tidak mau punya anak tanpa ayah Ngga.”

Aku menghela napas berat. Mengapa semuanya jadi kacau balau begini? Siapa yang bisa ku mintai tolong untuk mengantarkan Aliya kerumah sakit? Naik motor tidak mungkin, kondisinya sangat lemah sekali. Aku juga tidak bisa mengemudi dengan kondisi begini.

“Al…bersabarlah menghadapi semua ini. Percayalah bahwa Allah tidak akan menguji hamba Nya diluar kadar kemampuan kita sebagai manusia. Kamu masih punya aku. Kamu tidak sendiri menghadapi kemelut ini.” Aku memeluk Aliya kuat-kuat, tak ku pedulikan pakaian ku yang ikut terkena darahnya.

“Jingga…jangan terlalu percaya dengan laki-laki melebihi sebilan puluh persen. Aku sudah merasakan semuanya, cinta itu hanya omong kosong, yang ada hanya pemanfaatan dan pengkhianatan.”

“Aliya, sudahlah, jangan banyak bicara. Darahmu masih terus keluar, Kita harus segera ke dokter.”

“Aku tidak kuat lagi.”

“Kamu harus kuat. Sebentar aku hubungi Juan dulu.”

Entah mengapa tiba-tiba aku jadi teringat dia, padahal sejak tadi hanya Zal yang bermain dicangkang kepala ku. Barangkali ini juga satu pertanda dari Tuhan.

“Sabar ya Al, sebentar lagi Juan datang. Kita akan kerumah sakit”

Aku membopong tubuh tak berdaya Aliya kekamarnya, menggantikannya pakaian dan membersihkan wajahnya dengan air hangat. Semoga jiwanya masih bisa tertolong.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email