Langsung ke konten utama

Episode Hilang

"salju" yang hilang

sekali ini aku aku benar-benar menangis, bukan sebuah kesia-siaan tapi karena aku benar-benar sedang cemburu. beginikah rasanya cemburu dengan perumpamaan yang tak serupa? beginikah rasanya kehilangan? beginikah rasanya memeluk salju?

bukan panas yang salah, tapi aku lah yang tidak bisa menjadi freezer yang berarti. aku benar-benar gemetar, melebihi geletar ketika aku merasa kesakitan. tapi tetap saja itu tidak bisa menjadikan yang cair kembali beku. tidak bisa mengembalikannya menjadi kristal-kristal air yang cantik dan mempesona. dan aku kehilangan "salju".



Peralihan Identitas

aku anak kecil yang telah membuatmu "pusing" kata mu semalam, aku mengerti dan aku sangat mengerti. semuanya hanya salah paham saja sebenarnya, aku memaknai lain dan kau memaknai lain. pun begitu mendengar kau memanggil namaku adalah sebuah keistimewaan, apalagi dengan sebutan-sebutan yang sering kau salah-salahkan, atau kau mulai terbiasa? dan aku menambahkan sebutan baru dibelangkan namamu, tapi kau termasuk kategori istimewa dalam catatan keseharian ku.

aku jujur, dan kau pun telah jujur, jujurku membuat ku sakit pun begitu juga kau. tapi sebelum semuanya menjalar jauh ku pikir pernyataan semalam adalah yang terbaik bukan? aku tak pernah merasa menang meski kau bilang akulah pemenang dalam hal rasa ini, aku juga tak menganggap mu kalah apalagi sampai kalah telak seperti yang kau kira. tak ada pemenang dan si kalah dalam urusan ini. aku bahkan sangat kaget ketika kau menyapaku dengan bahasa keseharian ku yang ku tahu itu sangat tak biasa bagi mu, aku merasakan kau pun hampir menangis dimalam tua itu tapi senyum mu selalu mengembang seperti kelopak melati yang tak pernah luruh. kakak... semuanya memang membingungkan ya???


Oase

aku sudah menemukan oase,
yang puisinya melekat dijari dan selalu kubawa kemana pun aku pergi
aku memeluk oase ditengan panas dan hujan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.