Langsung ke konten utama

catatan usang di terminal tua

hidup memang kumpulan puzzle yang rumit, tidak cukup umur belasan tahun untuk bisa memecahkan teka-tekinya. begitulah, kian hari makin banyak keanehan dalam hidup yang kutemui yang semakin membuatku tidak mengerti. belakangan aku sedikit meraba, penyebabnya adalah cinta. kadang timbul pertanyaan di hati kecil ku, kenapa cinta harus semanis ini tetapi juga sekejam ini sampai aku pelan-pelan telah berubah menjadi manusia kejam dan sadis.

aku berbicara begini bukan karena sangat mengerti soal cinta, bukan pula kerena aku pernah kecewa oleh cinta. aku beruntung sampai sekarang masih punya cinta yang mencintai ku dan aku mencintai cinta. dua lelaki hebat!

aku hanya heran pada cinta yang mabuk, cinta yang mengenyampingkan logika, cinta yang mengabaikan nasehat orang tua, cinta yang mengatakan " mari kita kawin lari!"


aku pernah jatuh cinta dan aku gila sampai hari ini, aku bisa melakukan apa saja dengan kegilaan ku sampai hari ini. dan hanya aku yang tahu kegilaan ku sampai hari ini. tapi aku punya cinta yang mengajarkan bagaimana cara mencintai yang hebat dan gila tapi menjunjung tinggi akal dan pikiran.

apapun alasannya, cinta dan mencintai adalah fitrah manusia. aku berkaca dari hidup dan kejadian, ketika malang datang memang tidak dapat ditolak. sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi. dan sudah begitu hukumnya.

sesuatu yang tak kurasakan membuatku mempunyai persepsi berbeda tentang dunia laki-laki, laki- laki dan perempuan sebagai satu kesatuan yang utuh dan saling membutuhkan namun terkoyak oleh banyaknya tikus-tikus yang ku temui. kadang aku begitu membenci mereka, tapi disisi lain, dua lelaki hebat ku mengejawantahkan semua itu.

aku menjadi kejam karena sering berdialog dengan mereka, jangan salahkan aku tapi salahkan tikus-tikus itu. setiap kali berdialog, ketika mata kami bertemu, ketika balasan-balasan mungil itu muncul setiap itu pula aku selalu berteriak Dasar Tikus!!! hahahahaha....dan sayangnya ada yang tidak menyadari itu. padahal aku sudah katakan dengan sangat vulgar.

sebuah catatan usang dihati dari terminal tua, saat bayangan-bayangan rindu saling berkelebat dengan kebencian dan kebengisan. bukan dendam tapi entah apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.