Langsung ke konten utama

Oleh oleh dari Kampung

Pulang kampung? Why Not! Belilah tiket di Agen Perjalanan, berangkatlah ke bandara lalu terbanglah ke kampung halaman. Sederhana sekali.
Secara teknis administrasi, ya benar, begitulah adanya.
Tetapi, dalam pulang kampungku, tidaklah sesederhana itu. Banyak hal terlibat. Ada rindu, ada ego, ada luka, ada enggan, ada kerinduan yang lain lagi, bahkan ada segudang rasa yang tak dapat diungkap, tak dapat dicerna.
Ada rindu, karena memang sudah banyak tahun berlalu aku tak pulang. Tak mengikuti ritual tahunan lebaran, mudik, tak juga di luar waktu itu. Tak tahu apa yang telah terjadi di kampung halaman itu selama waktu yang tidak singkat. Sudah banyak berubahkah atau masih ada sisa-sisa masa lalu yang layak dikenang, disaksikan.
Ada keinginan untuk tampil dengan berbagai kelebihan. Bagi-bagi oleh-oleh untuk sanak keluarga dan bagi-bagi sedikit uang untuk saudara-saudaraku yang oleh agama ini digolongkan sebagai kaum duafa. Bukan oleh-olehku, bukan juga uangku. Yang Maha Kuasa telah menyediakan semuanya dengan perantaraan tanganku, mereka mendapatkannya, jadilah aku sinterklas itu, memang aku ego, egois yang tak tahu diri!
Ada luka. Karena tanah yang di atasnya aku brol ke dunia ini, tanah lahirku, tanah tumpah darahku itu, seperti menolakku. Karena kalau memang ia menerima, kenapa ia tidak memberikan satu hati disana untuk kupauti. Kenapa ketika ada satu hati yang menyatakan setia, tanah itu melemparkannya jauh keseberang lautan, bahkan lebih jauh dari itu. Tanah itu, dengan setiap uap air di atas aliran sungainya, dengan setiap kabut paginya telah mengguratkan luka yang tidak pernah sembuh!
Penerbangan yang lancar-lancar saja telah mengantarkanku dengan selamat. Wow, aroma udara yang sangat kukenal. Kakak-kakak yang menyapa dengan sangat akrab dan bersahabat, orang tua yang merangkul dengan seluruh kasih sayang. Sanak famili yang datang silih berganti menanyakan kabar atau sekedar mengucapkan terima kasih atas bantuan atau oleh-oleh yang tak seberapa yang kuberikan. Tapi itu hanya bungkusnya, kulitnya. Permasalahan sesungguhnya belum tersentuh, dan setiap orang berusaha keras untuk tidak menyentuhnya. Tidak ada yang bertanya, kenapa setelah bertahun-tahun barus sekarang muncul lagi. Mengapa seperti menghilangkan diri, mengapa melarikan diri. Tak ada yang bertanya seperti itu dan kuyakin sekali memang tak bakal ada yang bertanya.
Emak sudah tua dan sering sakit-sakitan, terutama kakinya yang terkena asam urat dan rematik. Lebih-lebih ketika musim hujan dan suhu udara menjadi sangat dingin. Melebihi dingin pada hari-hari biasa. Ketika itu emak sudah tak dapat berjalan lagi. Beruntung ada dokter keluarga yang disediakan pemerintah untuk mereka yang senantiasa dengan sangat telaten mengobatinya.
Bapak masih gagah, walaupun sudah tidak memiliki rambut, hanya uban. Masih kuat ke kebun memungut salak atau memetik kelapa dengan mengerahkan beberapa orang pekerja. Kesawah? Sudah sejak lama tak diurusi sendiri. Selalu digarap orang lain.
Mmm, ada hal baru yang sangat menarik. Di kampungku sekarang dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air alias PLTA dengan kekuatan 3 x 70 MW. Lumayanlah. Dampaknya adalah terciptanya bendung yang sangat luas yang menjadi lahan usaha penduduk sekitar untuk membuat kolam terapung atau sekedar mencari ikan dengan jaring, jala atau pancing. Bagi anak muda sekitar, menjadi objek wisata. Dengan ongkos getek Rp. 5000,- sudah dapat menikmati pemandangan alam yang indah apalagi dengan seorang kekasih disamping, wah lebih indah lagi.
Sahabat-sahabat telah banyak berkurang, hanya tinggal beberapa orang saja itupun sudah berkeluarga semua. Jadi, tentu sudah tidak bisa lagi berlama-lama ngobrol. Masih ada satu yang masih bisa diajak rerasanan. Nah disinilah semuanya terkuak lagi.
Udara dingin, sangat dingin hingga menembus jaket, kaos, kaos singlet, kulit, daging, tulang hingga sunsum! Teh manis yang disajikan Anik istrinya yang ketika ditaruh di atas meja masih mengepul, hanya dalam beberapa kejap langsung dingin. Seruputlah ketika masih mengepul itu kalau mau merasakan hangatnya.
“Kemana kita?” Hadi membuka rencana.
“Emang masih bisa jalan-jalan?”
“Bisa aja.”
“Anik gak bakalan marah?”
“Gak lah, masa temen lama datang ngajak jalan kok marah. Traktir baso ya? Pengen ngrasain duit Jakarta, apa manis apa pahit apa asem gitu.”
“Boleh, kaya cewek aja makan baso.”
Dua pasang kaki kembali menyusuri jalan kampung itu.
“Gak mampir sini dulu?” Hadi bertanya ketika melewati sebuah gang.
Aku tahu yang dimaksudnya. Dulu dalam gang itu ada dua orang kekasihku. Erna dan Yudar. Erna yang putih bersih, dan Yudar yang cantik jelita. Cantik sekali. Lengkapnya Alda Yudarti. “Beli baso di mana?”
“Dibawah rumahnya Kamong aja.”
“Kamong? Kamong siapa?”
“Adiknya Ugeg. Dulu pacarmu juga.”
Oh my, iya baru ingat dulu Kamong pacarku juga. “Di mana dia sekarang ya?”
“Ya pasti dah nikah lah, katanya anaknya udah dua.”
“Ooh.”
Baso terhidang. “Dah ketemu Dewi?”
Ah nama itu lagi. Iya Dewi cinta pertamaku. “Bagaiman dia sekarang? Dulu dia meninggalkanku dengan menikah dengan mang Slamet itu. Uang memang bisa mengatur semuanya. Bahkan cinta yang sedang bersemipun bisa dilumat habis hanya karena keluarga Dewi menggantungkan hidup kepada mang Slamet itu.”
“Dia sekarang jadi gendut, disamping juga sudah tidak kaya lagi, sudah miskin. mang Slamet kalah judi terus. Tuh ada si Yani.”
Sekali lagi dadaku bergetar. Yani adalah perempuan yang dulu jadi pacarku juga. Bukan niat memacarinya, tetapi semata-mata menumpahkan sakit hati kepada keluarganya Dewi. Yani adalah pacar Prayit kakaknya Dewi. Aku merebutnya. Dan Yani memang jatuh cinta padaku.
Pulang sekarang, setelah kenyang dengan baso yang sebenarnya tidak begitu lezat, hanya murah. “Masih ingat jalan kesana?” Hadi menunjuk sebuah gang yang gelap. “He he he.” Aku tahu maksudnya, dulu di sana rumahnya Dain, pacarku juga.
Masih banyak lagi nama yang bisa disebut. Ada Mega, ada Nyayu ada Maini ada Ermida. Ada juga nama yang Hadi tidak tahu. Seperti Del, lengkapnya Delmiati, temen, tetangga, temen sejak SMP hingga kuliah, dia di fakultas hukum. Hingga saat ini juga belum menikah. Ada Dian, Ada Cui, ada banyak nama lagi dan ada yang aku lupa namanya.
“Sekarang kita dah sama-sama tua, boleh tanya sesuatu?” Hadi memecah sunyi di teras rumahnya, rumah mertuanya.
Tumben kok nanya seperti itu. “Boleh, mau tanya apa?”
“Dulu kamu naksir Aten juga?” Maksudnya Yatina
Oops pertanyaan macam apa itu? “Aku harus jawab apa?”
“Jawab sesuka hatimu saja. Gak ngaruh lagi kok. Dia kan udah menikah bahkan udah cerai lagi.”
“Tidak!”
“Bohong!”
“Kenapa?”
“Dulu uwak terang-terangan ingin menikahkan kalian, masih ingat?”
“Yaaaah..., mungkin begitulah.”
“Kamu memang penakluk sejati.”
“Terima kasih. Penakluk yang gagal. Kamu dah punya dua buntut. Sementara aku apa? Tak punya apa-apa....?
“Punya banyak uang, punya rumah punya pekerjaan bagus, punya mobil...”
“Gak, kalo mobil itu pinjam, punya pemerintah.”
“Apa susahnya bagimu memilih seorang pendamping hidup?”
“Iya..... tak tahu juga, mungkin memang nasib.”
“Aku ingat dulu bagaimana kami seperti hanya menunggu sisa-sisamu, bahkan ada kata-kata, biarkan Ijar puas dulu, kalau nanti ada yang gak kepake ama dia baru giliran kita.”
“Ha ha ha.” Emang luar biasa.
“Dengar-dengar dulu kamu pacaran sama Cina ya? Siapa namanya, Aili ya” Maksudnya Ai Lie, si Mei Ai Lie itu.
DEG!
“Sampai-sampai orang tuamu marah besar....”
“Dah dah, itu dah berlalu itu dah lama!”
“Oh maaf.”
“Hhhhhh.... iya Di, semuanya telah berakhir. Padam! Kita memang belum bisa menerima. Kita memang egois....”
“Kamu masih menyalakan orang tuamu?”
DEG lagi!
“Tidak-tidak...!”
“Iya, tapi kamu menghukumi dirimu sendiri!”
“Aku pamit dulu ya, dah malem.”
“Ooh kok cepet amat? Iya iya, Waalaikum salam...” Hadi tergesa menjawab ketika aku dengan sambil lalu mengucapkan salam.
Udara semakin dingin dan embun mulai pelan-pelan turun. Pulang kampungku baru hitungan jam dan luka itu sudah berdarah lagi. Udara yang dingin keliwat-liwat membuatku meringkuk, menggulung badan dibawah selimut tebal. Ketika itu benakku melayang jauh, menjangkau seseorang di ujung pulau, di ujung negeri, di ujung serambi. Betapa inginnya aku ketika itu menelusupkan kedua tanganku yang tertangkup kebawah ketiaknya agar mendapatkan walau sedikit saja hangat dari badannya, dari cintanya. Kekasih, inilah kerinduan yang lain itu, inilah oleh-oleh sesungguhnya dari kampung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.