Langsung ke konten utama

D H

beberapa minggu terakhir ini kondisi kesehatan ku memang ngga jelas, kadang aku hampir-hampir jatuh kalau sudah terlalu sakit. kadang juga aku sama sekali tidak bisa membuka mata dan kepalaku sakitnya luar biasa. terutama bagian depan dan belakangnya.

selama itu pula aku tak pernah mengurusi rumah maya ku lagi, kubiarkan terbengkalai dengan halaman yang tidak bersih, aku sama sekali tidak merapikannya. bukannya tidak ingin, tapi melihatnya saja sudah membuat kepalaku terus berdenyut dan berdenyut. memang tidak ada yang berarti selama ini yang bisa kulakukan.

kemarin ada beberapa tulisan kumal yang sebenarnya tak layak untuk dipublish disana, tapu setidaknya lumayanlah untuk membuat suasana baru dirumah tak berpintu itu. dan hari ini sepertinya memang tidak bisa ditunda lagi kalau aku tidak mau dihukum. ingin menuliskan sesuatu dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. menulis apa saja tetapi bukan soal perasaan ku. karena perasaan ku sedang kosong. mungkin aku akan mati tak lama lagi.


dear haning...
puisi cinta untuk mu ada dijari manis ku sekarang, jangan lagi berfikir tidak ada apa-apa untuk mu, jangan lagi berfikir semuanya hanya catatan usang yang sama sekali tidak ada artinya. aku sudah belajar untuk mengutuhkan semuanya, tidak ada bukan berarti lupa atau dihilangkan, tidak ada bukan berarti tak ingat atau sengaja tak diingat.


tangan ku mulai dingin, bukan karena puisi yang selalu bergantung dijari ku, bukan juga karena yang satunya masih ada dilemari pakaian ku. entah apa yang membuat tiba-tiba aku pucat dan kedinginan dan aku merasa sangat lelah, lelah sekali. tangan ku gemetar ketika sedang menuliskan kalimat-klimat ini, but...semua ini untuk mu. sekotak cinta dari perempuan biasa kepada satu lelaki hebat, kamu!

kedepan aku cuma butuh sedikit energi dari mu untuk memapahku berjalan dari taman kecil yang banyak melatinya itu,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.