Langsung ke konten utama

Aneh!



semalam aku menangis lagi, tangis yang tiba-tiba dan tanpa sebab musabab yang jelas, bukan, tepatnya karena sakit, sakit sekali, tangis tanpa suara dan hanya air mata yang mengalir dalam gelap, dan ternyata air mata itu menyebabkan sakit yang teramat sakit lagi. mm...air mata memang nikmat, terlebih ketika dikeluarkan diatas sajadah merah dengan mukena putih berenda, tapi kalau setiap mengeluarkan air mata sakitnya seperti ini, memilih tidak mengeluarkan air mata bukanlah satu simbol kesombongan dan tak cengeng, sebab menangis tak selamanya harus mengeluarkan air mata, meminjam istilah kak haning, menangis tanpa air mata adalah tingkatan menangis yang paling tinggi dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya?

apakah aku termasuk salah satu dari orang-orang tertentu itu? mengingat terlalu seringnya aku menjerit, berteriak bahkan memaki tanpa suara. ah...amat berlebihan rasanya. tapi menangis seperti itu juga mempunyai kenikmatan tersendiri, orang lain tak pernah tahu kapan saat-saat kita menangis, bisa jadi ketika kita tengah tertawa riang dengan nya, atau ketika memperhatikannya berbicara, dan hati menangis.

dalam sakit dan pandangan yang mengabur, tangan yang gemetar mencoba mengirimkan sesuatu, tapi apa yang terjadi; salah alamat!!! syukurlah setelah itu aku tak sadarkan diri dan berita salah kirim itu baru terbaca besok pagi, itu pun setelah pusing tujuh keliling mencari benda mungil yang menjadi mediasi pengirim berita, dan entah bagaimana caranya kok benda itu tiba-tiba ada di lemari pakaian, padahal sebelum hilang kesadaran semalam ingat ku benda itu ku letakkan dibawah bantal tidur.

mungkinkah ketidak sadaran itu telah membawaku pada alam bawah sadar yang lainnya? mengingat terlalu seringnya aku seperti itu, berbicara ketika tidur, kadang duduk sambil tertawa memperhatikan seseorang, atau kadang mengambil pakaian dari lemari dan memakainya. aku juga heran ketika melihat dikamar tidur sudah ada stainless putih berisi air, entah kapan aku turun kedapur dan mengambil air. sebegitu anehnya kah semalam?

pagi ini pun, ketika bangun sisa demam semalam masih ada, sisa sakit semalam masih ada dan siangnya menjadi sama seperti siang yang kemarin, kembali bergetar dan hampir tak sadarkan diri lagi. dan entah gimana caranya kok jadi marah kepada kak haning, apa karena dia jauh? entahlah...

itu yang aku tak mengerti, kenapa bisa deman tiba-tiba, kenapa bisa pusing tiba-tiba, kenapa bisa gemetar tiba-tiba, kenapa bisa tidak mengantuk kalau sudah kelewat sakit tapi dilain waktu rasa ngantuk itu menyerang tiba-tiba dan biasanya kalau sudah tidur berangsur-angsur akan pulih.

menuliskannya disini berarti harus siap menerima omelan, nasehat dan serentetan petuah-petuah dari Mr. Haning besok pagi. juga aneh, tak bosan-bosannya ia menyuruhku ke dokter, berobat, beli obat, minum obat, juga tak bosan-bosan aku menjawab "tidak mau"

i luv u kakak...

han rindu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n