Langsung ke konten utama

Mel, aku jatuh cinta lagi...

Mel,
memperhatikannya berbicara memang menyenangkan
mendengarkan suaranya selalu membuatku berdebar-debar. kau masih ingatkan cerita beberapa waktu lalu? saat aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta. hari ini aku kembali mengatakan, bahwa mencintainya memang luar biasa. pengecualian itu Mel...


Mel,
aku sempat mencari-cari alasan apa yang kira-kira masuk akal untuk jatuh cinta pada nya, tapi seperti tak pernah ku dapatkan selain alasan yang itu-itu saja. terlalu klise untuk mengakui semuanya. apakah aku sudah cukup dengan cinta luar biasa itu saja menurut mu Mel? jawabanku adalah tidak, karena aku belajar mencintai bukan untuk memeluk adalah darinya.


aku belajar berinteraksi agar cinta lainnya kudapatkan dengan cara yang lebih istimewa, meski sempat berganti peran sebagai ini dan itu, meski aku harus menjadi sesuatu yang memang belum layak kulakukan. tapi toh tak ada yang bisa membuatku istimewa seperti dia memperlakukan ku.


aku belajar mencintai laki-laki dengan cara ku yang berbeda Mel, disaat yang bersamaan aku juga membenci laki-laki dengan rasa yang sukar kujelaskan. laki-laki yang kutemui, ingin rasanya ku buat mereka sesakit mungkin dengan cara ku sendiri, tapi tentu saja itu tidak berlaku untuk dia Mel. aku tak perlu mengajarkan mereka menjadi pengkhianat sebab mereka memang sudah menjadi pengkhianat.


kau berfikir aku kejam kan Mel?
tidak untuk Zal, tidak untul Haning, juga bukan untuk seseorang yang kupanggil "adik kecil"
mungkin aku memang kejam, mungkin aku terlalu tidak berperasaan, tapi itulah yang terjadi. kadang aku harus berpura-pura menyanjungnya agar aku bisa mengatakan "diagnosaku tak salah" tentang mu. ah Mel...entah sejak kapan aku menjadi kejam dan jahat seperti ini, mungkin sejak mereka mengajarkan sesuatu tentangku dengan cara mereka yang menjijikkan itu. sesopan apapun bahasanya Mel, tetap saja larinya ke tanjung air keruh itu.


salam cinta kepada zal, haning dan adik kecil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.