Langsung ke konten utama

sakit

dan hari ini adalah perulangan dari hari-hari kemarin, sakit yang jika menemuiku maka lama sekali kembalinya. dan aku harus merayunya, mencandainya dengan mengajak mataku untuk terpejam lalu sedikit otak kecilku membayangkan yang indah-indah hingga akhirnya aku benar-benar tertidur.

seperti malam kemarin, sakit itu kembali datang tapi ia mungkin membawa temannya yang lain, bayangkan aku yang sedang tertidur lelap bisa terbangun dan merasakan sekujur tubuhku dingin dan gemetar, kepala seperti digerogoti oleh ratusan bahkan ribuan kepiting, terasa panas dan berdenyut. sangat sakit kah? tetapi ada yang lebih sakit lagi dari ini.

aku berusaha mencandainya, meninabobokannya tapi tak berhasil. justru rasanya mereka semakin beringas dan menyedot habis cairan yang ada dikepalaku. membuatku nyaris lupa sedang dimana aku? membuatku mengingat-ngingat sesuatu yang sama sekali tak bisa menolongku.

sekali waktu ingin sekali mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik cangkang kepalaku, tapi ke keras kepalaan ku selalu berhasil membuat ku bertahan. cukup tidur sambil berusaha menyenangkan diri dikamar yang gelap. berharap dengan sendirinya sesuatu yang menyakitkan itu akan hilang dengan sendirinya. dan memang hilang tapi untuk kembali lagi. perulangan yang tidak ada habisnya.

sekali waktu aku berfikir, pelan-pelan dengan cara seperti ini maka stok nafsku akan semakin berkurang. bukan ingin menyaingi takdir dan ketentuan Tuhan. tetapi bukankah otak bagian terpenting dari tubuh manusia? dan kalau dia sudah tak tertolong lagi lalu apa yang bisa dipertahankan oleh tubuh?


sebenarnya keinginan ku sederhana sekali, ingin membuat orang-orang terdekat ku senang. karenanya kupikir, tidak berbagi dengan mereka adalah jalan keluar yang baik, biarlah kalau nanti suatu saat aku jatuh dan tak bisa bertahan lagi baru aku akan katakan, sakit ini sudah bertahun-tahun, dan akhir-akhir ini air mata yang keluarpun begitu menyiksa....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.