Langsung ke konten utama

Wijaya Kusuma


Assalamualaikum wr wb



Pernah liat bunga seperti ini? Aku juga baru liat sekali seumur hidup. Cantik kan? Itulah bunga yang tumbuh dihalaman rumahku di kampung, yang ku ambil gambarnya dengan meminjam hanphone seorang kakakku yang baik hati (thanks ya kak). Menurut cerita orang-orang, bunga itu bernama wijaya kesuma. Yang menarik adalah tidak setiap pohon yang ditanam akan menghasilkan bunga. bahkan bisa dikatakan jarang terjadi. Pernah ada orang yang menanam pohon bunga ini tidak pernah melihatnya berbunga walaupun sudah berumur lebih dari tiga tahun.

Pohon bunga ini termasuk aneh, karena pohonnya terdiri dari lembaran daun. Jadi dari daun yang sudah tua akan keluar daun muda dan daun tua tadi menjadi batang atau dahannya. Pun dengan bunganya. kalau nanti memang akan berbunga, maka bakal bunga itu akan keluar juga dari daunnya. Setelah keluar kuncupnya hingga beberapa minggu, maka bunga akan mekar.


Anehnya lagi, bunga hanya mekar sekali setelah itu layu dan tidak akan mekar lagi. mekarnya pada malam hari, mulai kira-kira pukul 21.00 hingga pukul 02 dinihari. Jadi, kalaupun kita sudah melihat kuncupnya, belum tentu juga akan dapat melihat bunganya karena bisa saja terjadi saat bunganya mekar, kita sedang tertidur lelap.Orang-orang juga menyebutnya dengan bunga Sri Rejeki, karena ada kepercayaan bahwa siapa saja yang menanam bunga itu lalu dapat melihat bunganya maka itu suatu pertanda bahwa ia orang yang akan banyak rejeki. Menurutku yaaa... dapat rejeki melihat bunga itu, karena jarang kan orang beruntung seperti itu.Nah, menurutku aku memang sangat-sangat beruntung.


Tidak pernah menanam bunga itu tetapi ketika aku pulang kampung bertepatan dengan dia berbunga. Dan ketika bunga itu mekar bertepatan pula dengan aku pulang dari rumah seorang teman lama untung ngobrol panjang lebar tentang masa lalu. Segera pinjam kamera dan jepret-jepret jadilah gambarnya dihadapanmu sekarang.Sampai sini dulu, maaf oleh-olehnya hanya bunga. Bunga Wijaya Kesuma dan bunga rindu juga tentunya


Wassalam

----------------------------
aku juga termasuk orang yang beruntung itu karena orang beruntung mengirimkannya kepada ku, thanks alot honey....





Komentar

  1. Salam...

    Bolehkah saya mencicipi sedikit keberuntungan tersebut? Jika boleh, sudilah kiranya kawan kirimkan bibit wijaya kusuma tersebut, atau sekedar batang untuk stekannya... :)

    Kalau boleh, tolong kontak saya di ganjar.kuswara@gmail.com atau sms ke 022-70051133

    terima kasih

    -tabik

    BalasHapus
  2. wah bunga langka ya? baru kali ini ane tahu...nice info gan...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.