Langsung ke konten utama

Puisi Kepada Musafir

mencintaimu adalah pengecualian
dari semua kumpulan rasa dan hasrat
lorong-lorong yang terlewati pada penghujung malam yang gelap
abstrak dan tak berujung
masing-masing saling mentafsirkan sendiri sendiri
merangkak menterjemahkan bungkahan rasa yang menggelegak
tau kah kau tentang selembar selendang?
yang berfungsi sebagai penutup tubuh yang tak utuh?
juga tentang setitik noktah merah
untuk ditorehkan pada hati yang basah hingga akhirnya membeku


I

daun-daun mulai berganti warna
sedang kita tetap seperti ini
kuncup kuncup sudah berkali-kali mekar
kita tetap diam dalam selimut usang
saling pandang dan tanpa kata kata
sementara hati menjalar menaiki tebing rasa yang tinggi dan curam
ku serahkan sebuah kata sebagai pelampiasan
tentang amarah sekaligus hasrat yang meleguh

II

kau diam
hati mu berbicara
aku tertawa
hati ku menangis
pilih mana
menjadi aku atau kau
pilih mana menjadi angin atau pohon
sedang aku tetap daun

III


katakan saja kapan kau ingin berlayar
selembar surat sudah kusiapkan untuk kutitipkan
sebuah busur lengkap dengan anak panahnya
dalam diam
kau tetap tak berkata-kata
kau tahu malam kan?
yang membungkus matahari menjadi tak terlihat


IV

sebuah penutup tanpa pengantar
sebuah epilog tanpa prolog
rasa dan hasrat
tanya pada hati mu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

Pucuk Meranti SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah. Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar. Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yaki