Senin, 01 Mei 2017

Kangen Zatin!

Kencan akhir pekan di Uncle.co 

SECANGKIR es kopi pabrikan yang kuhabiskan petang tadi, ditambah segelas mungil kopi hitam yang kusesap lepas isya, cukuplah sebagai 'syarat' membuat mata tetap terbelalak hingga selarut ini. Sudah lebih dari tengah malam, tapi belum ada tanda-tanda mata ini akan segera layuh.

Setelah 'menyadari' kalau ini akan menjadi malam yang cukup panjang, aku menyalakan laptop. Menuliskan satu atau dua kalimat panjang mungkin bisa membuatku segera tertidur, setidaknya bisa menghadirkan lelah sebagai syarat utama untuk tidur.

Aku ingin menuliskan tentang Zatin, seorang karib yang telah mengisi ruang khusus di hatiku. Beberapa hari ini ingatanku terus tertuju padanya, sejak mengetahui bahwa ia secara 'diam-diam' telah meninggalkan kota yang tak seberapa riuh ini. Emosi sentimentilku mengatakan, dia meninggalkanku. Hiks...

Minggu, 30 April 2017

Happy Graduation dan Selamat Berjuang My Beloved Sista

gaya selfie generasi milenials


KUSEMPATKAN untuk menuliskan cerita ini di sela-sela bekerja di akhir pekan. Maklum, aku tergolong 'bukan orang biasa', di mana bekerja di saat orang lain libur, dan tetap bekerja saat orang lain bekerja. :-D #abaikan #justjoke

Yang benar adalah, aku sengaja menuliskan ini untuk memberi semangat kepada adik bungsuku yang saat ini sedang berjuang di step pertama menuju gelar sebagai mahasiswa.

Baiklah, akan kuperkenalkan sedikit tentangnya. Namanya Nurul Muhdiah. Lahir 13 Oktober 1999, saat gejolak konflik di Aceh sedang 'hot-hotnya'. Satu hal yang mengingatkan pada peristiwa kelahirannya adalah Referendum. Bahkan salah satu tetangga kami memberikan nama anaknya 'Referenda' untuk mengenang peristiwa bersejarah itu.

Back to Diah, si bungsu ini baru saja tamat SMA. Kamis, 27 April lalu dia diwisuda dari SMA Unggul Nurul Ulum, Peureulak, Aceh Timur. Btw sejak enam tahun terakhir dia mondok di sana, tapi entah kenapa sifat manjanya sampai hari ini belum hilang juga. Mungkin karena anak bungsu, entahlah.

Kamis, 20 April 2017

Hikayat Kunang Kunang; Kebahagiaan Itu Harus Diciptakan, Dia Tidak Datang Sendiri


"Hai, kau sudah pulang?" seekor kunang kunang mencegatku dari balik pintu kamar. "Kami sudah menunggumu sejak tadi," sambungnya.


Sedetik kemudian seekor kunang kunang yang lain muncul, diikuti sekor yang lainnya. Ada tiga kunang kunang yang sekarang berputar-putar di depanku. Salah satunya adalah Ratu kunang kunang. 

Mereka memamerkan kepakan-kepakan sayap yang indah dan perut mereka yang berkilauan hijau kekuningan. Mereka adalah kunang kunang yang pada malam malam sebelumnya datang bergantian.

"Maaf telah membuat kalian harus menunggu lama. Tadi aku ada urusan di luar. Sebenarnya tadi aku berharap kalian datang lebih awal, ada yang ingin kuceritakan. Tapi, karena kalian tak muncul-muncul juga aku memutuskan pergi sebentar, mencari angin segar," kataku panjang lebar sambil merebahkan badan di kasur. Lelah dan kantuk menggayutiku. Aku melirik jam dinding, hampir setengah dua belas.

"Kami tahu dengan siapa kau berurusan tadi." Salah satu dari mereka membuka suara. Sambil mengulum senyum. Seperti mengetahui sesuatu. Aku melotot.

Kemudian salah satu dari mereka berbisik-bisik kepada yang lainnya. Aku berusaha menguping, tapi tetap tak tahu apa yang mereka bicarakan. Hingga salah satu dari mereka seperti memberi kode.


Lalu sekawanan kunang kunang lain bermunculan di kamarku. Jumlah mereka tak terhitung. Mereka membentuk berbagai formasi indah dan kelihatannya seperti sedang berpesta merayakan sesuatu.

Rasa kantuk yang menghinggapiku menyusut. Mataku berbinar-binar menyaksikan atraksi ini. Kesenangan merayapi urat syarafku. Senyumku mengembang. Aku mengerjap-ngerjap bersuka cita.

"Ini hadiah untukmu. Hiburan atas kerisauan yang sempat kau rasakan tadi," seekor kunang kunang berusaha menjelaskan situasi ini. "Semoga kami selalu bisa memberikan kebahagiaan dan senyuman untukmu wahap penikmat rasa."

"Tidak, tidak, sekarang aku tidak cemas lagi. Aku sedang berbahagia sekarang," jawabku malu-malu.

"Kami tahu, hiburan ini untuk melengkapi kebahagiaanmu malam ini. Hmmm...ngomong-ngomong tadi diam-diam kami mengekori kalian."

"Hah?! Kalian mengikutiku? Untuk apa? Untuk memata-matai aku?"
"No no no...bukan, tentu saja bukan untuk itu. Kami hanya ingin memastikan dengan siapa kau membersamai waktu."

"Lalu?"

"Kami merasa kau tidak biasa melakukan ini. Tak pernah kulihat kau keluar rumah sekadar hanya untuk mencari angin segar selarut itu."

"Hm.... Kalian pandai sekali mengorek-ngorek.... Eh, tunggu dulu, kalian bilang 'tak pernah kulihat...' bukankah kalian baru beberapa malam saja datang menemuiku? Bagaimana kalian tahu malam-malam sebelumnya yang aku lalui?"

"Belum saatnya kau mengetahui itu. Jika waktunya tiba akan kami ceritakan semuanya."

"Baiklah. Lalu apa yang kalian lakukan setelah mengetahui dengan siapa aku mencari angin segar?"

"Setelah mengetahui dengan siapa kau menghabiskan waktu lalu kami pulang dan merencanakan semua ini."

"Terimakasih atas kejutannya, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarga kunang kunang."

"Kami sengaja datang untuk menjadi temanmu, agar kau bisa berbagai dengan kami. Karena..."

"Karena apa?"

"Kehadirannya lagi-lagi bukan untuk diceritakan. Benar, bukan?"

"Tapi untuk dinikmati..." aku menjawab lugas.

Lalu kami tertawa bersama. Ya, kunang kunang itu benar. Banyak hal yang tak bisa diceritakan, bahkan kepada diri kita sendiri. Terlalu banyak rahasia.

Tapi entah mengapa tiba-tiba kesenduan kembali menghinggapiku. Sebulir bening mengapung di pelupuk mataku. 

"Kebahagiaan itu harus diciptakan, dia tidak datang sendiri. Untuk saat ini, nikmati kebahagiaan ini, meski hadirnya hanya sebentar... Kau telah menciptakan kebahagiaanmu sendiri." Ratu kunang kunang yang sebelumnya hanya diam mengampiriku. Ia berusaha menyeka air mataku dengan tangan mungilnya. 

Aku membentangkan tangan. Hanya sekali lompatan Ratu kunang kunang sudah ada di telapak tanganku. Aku memandanginya dengan takjub. "Tidak, bukan aku, tapi kalian yang sudah menciptakan kebahagiaan ini. Melalui dia bukan?"

Ratu kunang kunang tersenyum. Menyejukkan. "Sekarang tidurlah.... Semua yang kalian bicarakan tadi akan menjadi dongeng pengantar tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak. Lupakan semua takdir belasan tahun. Kita akan menciptakan takdir berbeda untuk hari-hari selanjutnya."

"Terimakasih."

Dan aku tidur dengan cerita-cerita yang kuciptakan sendiri, sebagai dongeng pengantar tidur.[]

Rabu, 19 April 2017

Hikayat Kunang Kunang; Menikmati Misteri


ilustrasi


"Hari yang menakjubkan, hah?" Kehadiran kunang kunang yang tiba-tiba lagi-lagi mengagetkanku. Pertanyaannya tanpa basa-basi. Teras menodong dan menohok.

"Menakjubkan apanya?" Aku menggerutu. Terusik dengan kehadirannya. Aku berusaha mengabaikannya dengan menarik selimut. Mataku sudah layuh.

Kunang kunang itu malah berputar-putar di sekitar pelipisku. Kilau cahaya di bawah perutnya membuatku silau.

"Aku tidak tahu siapa yang mengirimmu ke sini. Atau.... mungkin kamu adalah robot kunang kunang yang sengaja dikirim untuk memata-matai aku. Jika memang begitu sebaiknya kau pergi saja, jangan ganggu istirahatku."

"Hei... kau bahkan belum tidur. Lalu kau tuduh aku mengganggu istirahatmu? Kau keterlaluan." Mata kunang kunang terlihat mengkilat. Mungkin dia tersinggung. Tapi mengapa aku harus peduli.

Selasa, 18 April 2017

Kuberlari

ilustrasi


Ada kenangan yang tak mau pergi bila aku hanya berjalan saja

Maka aku berlari

Menyongsong pagi

Menyambut matahari 
Berlari, 
Mengenyahkan masa lalu lewat tetesan keringat 
Lewat helaan nafas panjang 
Lewat lelah yang segera menemui sudah

Sebab ada kisah yang terus membayangi jika aku hanya berjalan saja

Maka aku berlari

Menimpa kisah lama dengan kisah baru 
Membilas kesenduan dengan embun pagi dan semilir 
Membungkus sesal dengan harapan baru

Maka aku berlari

Berlari

Berlari

Agar tergerus semua lemak di pinggang masa lalu. 



Hikayat Kunang Kunang; Wujud Rindu


Aku baru saja akan tidur ketika seekor kunang kunang mendekatiku. Entah darimana munculnya hewan mungil itu. Sepasang sayapnya mengepak-ngepak, seperti mencari landasan yang tepat untuk mendarat.

Mataku yang mulai layuh kembali membeliak. Sesaat aku hanya memandanginya dalam diam, sampai kunang kunang itu mengeluarkan suara. Membuatku terkesiap. Hampir saja kunang kunang itu tergelincir saat tubuhku bergoyang. "Aku hanya ingin berteman denganmu," katanya kemudian. 

Dahiku mengernyit. 

"Siapa kamu? Kau pasti bukan kunang kunang biasa, kau bisa bicara layaknya manusia." 

"Apa bedanya manusia dan kunang kunang, kita sama sama diciptakan Tuhan sebagai makhluk, sama-sama memiliki anggota tubuh, memiliki hati untuk merasakan perasaan," jawabnya penuh filosofis. 

Senin, 17 April 2017

Hikayat Kunang Kunang; Nama yang Dibisikkan Hati

ilustrasi


SATU dari berjuta-juta lusin bintang di atas sana menjatuhkan secarik kertas, tepat di hadapanku. 


Aku menjulurkan tangan, meraih kertas berwarna kelabu. Ada gambar kunang kunang dengan kilau cahaya di perutnya. Juga setangkai kalimat bertuliskan; akan kuceritakan sebuah dongeng, tentang kunang kunang.

Aku menengadah, menatap ke ketinggian. Bintang-bintang melambai. Menjatuhkan secarik kertas lainnya.

Kertas lainnya kembali berjatuhan, lagi, lagi, hingga banyak sekali kertas. Aku mengambilnya satu persatu. Semua isinya sama: gambar kunang kunang dengan cahaya di perutnya. 


"Sebutkan satu nama di hatimu, maka kunang kunang ini akan hidup," sebuah suara tiba-tiba muncul di telingaku.