Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 17 Maret 2015

Semerbak Seulanga


SORE masih bergayut mendung ketika saya mengunjungi Taman Hutan Kota awal Desember lalu. Hujan baru saja reda. Bercak-bercak air masih tersisa di jembatan kayu yang berfungsi sebagai jalan masuk utama. Kedatangan saya ke taman itu seolah disambut barisan aneka pepohonan dan bunga-bunga yang berwarna-warni.

Lima belas langkah menyusuri jembatan, pandangan saya tertuju pada tanaman perdu yang ditanam di sebelah kiri saya. Tingginya sekitar satu meter dan ditanam di drum minyak bekas. Dari jarak beberapa langkah semerbak aroma menguar dari perdu itu. Saya mendekat, lantas melekatkan hidung pada salah satu tangkai bunganya. Hm… semerbak.

Kenanga. Itulah nama yang disematkan kepada bunga yang mempesona ini. Dalam bahasa Aceh bunga bernama latin Cananga Odorata itu disebut Seulanga. Wanginya tak hanya semerbak, tapi juga eksotis. Barangkali inilah yang menginspirasi perusahaan multinasional asal negeri Napoleon Bonaparte Chanel No. 5 memilih Seulanga sebagai salah satu ingredient-nya.

Ada perbedaan mencolok antara Seulanga muda dan yang tua. Yang muda berwarna hijau, sama dengan warna daunnya, sementara Seulanga yang tua terlihat kekuningan.


Dari belasan tangkai bunga itu, saya melihat hanya ada empat bunga yang sudah mekar sempurna berwarna kuning pekat. Dari bunga-bunga yang sudah tua inilah aroma semerbak tadi berasal. Di sana ada lima pot Seulanga yang ditanam dengan jarak terpisah beberapa meter.

Saya kemudian beranjak menuju ke lokasi pembibitan yang hanya berjarak beberapa meter dari perdu Odorata. Mata saya jelalatan, mencari-cari jika ada bibit Seulanga yang disemai di sana. Namun harapan saya untuk melihat “bayi” Seulanga pupus. Seorang pekerja mengatakan di Taman Hutan Kota itu memang tidak ada pembibitan Seulanga.

BUNGA yang dijuluki flower of flowers ini terbagi menjadi tiga kelompok forma, yaitu Macrophylla, Genuina, dan FruticosaMacrophylla dikenal sebagai Seulanga biasa. Dewan Atsiri Indonesia (DAI) dalam situs resminya menjelaskan, Seulanga biasa berupa pohon yang ketinggiannya mencapai 30-35 meter. 

Genuina adalah Seulanga Filipina yang dikenal dengan nama Ylang-Ylang (baca: ilang-ilang). Bentuknya juga berupa pohon, tetapi ketinggiannya hanya mencapai 15-20 meter saja. Ylang-Ylang memiliki kualitas fragrance paling unggul dan menjadi komoditas utama bahan baku parfum. Tanaman ini tidak mudah terserang hama penyakit dan mampu bertahan hingga usia 50 tahun.

Adapun Fruticosa dikenal sebagai Seulanga perdu yang biasa ditanam sebagai tanaman hias. Tingginya maksimal tiga meter. Jenis Seulanga ini paling sering ditemui karena dapat tumbuh di lahan sempit, biasa ditanam di taman-taman atau pekarangan rumah. Jenis inilah yang saya lihat di Taman Hutan Kota yang terletak di Gampông Tibang, Banda Aceh.

Cananga Odorata merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Diduga berasal dari Maluku (Indonesia) dan Filipina. Di Indonesia tanaman ini  ditabalkan sebagai flora identitas Provinsi Sumatera Utara. Seulanga juga tumbuh di Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia. Di Indonesia tanaman ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Seulanga tumbuh baik di dataran rendah beriklim tropis dan dekat dengan pantai hingga ketinggian 1.200 mdpl. “Pada dataran tinggi (500 mdpl) yang berhawa dingin, pertumbuhan akan sangat lambat,” mengutip keterangan Dewan Atsiri Indonesia di situs mereka, www.atsiri-indonesia.com.

Tanaman ini juga membutuhkan curah hujan antara 300-500 milimeter dan sinar matahari yang cukup. Menyukai tanah yang memiliki kandungan asam di dalam habitat aslinya di dalam hutan tadah hujan dengan suhu 25-30 °C.
Di masing-masing daerah, Seulanga memiliki nama yang berbeda-beda. Di Pulau Jawa ada yang menyebutnya Kananga (Sunda, Madura) dan Kenanga/Kenongo atau Wangsa (Jawa). Di Sumatera, masyarakat Simalungun menyebutnya Ngana-Ngana, Selanga (Gayo), Ananga atau Kananga (Minangkabau). Di Bali bunga rupawan ini dinamai Sandat Kananga atau Sandat Wanga. Adapun di Nusa Tenggara ada beberapa nama seperti Adat (Sasak), Anga (Bima), Tenanga (Sawu) dan bunga Kaeik (Roti).

Di Sulawesi Seulanga disebut Lalingiran, Amok, Wungurer, Kumpul, Pum-Pum, Wal Im Puket dan Luit (Minahasa). Masyarakat Bugis menyebutnya Kananga. Di Maluku khususnya di Seram masyarakat menyebut Sapalin, Kupa Apale, Sukalone, Kupa Aitetui, Kupa Aiouno, Sipaniune dan KupaleuoSapalen dan Walotol (Ulias), Kumbang (Buru), serta Kananga Wangi (Ambon). Dalam bahasa Spanyol dijuluki sebagai Cadenia, sedangkan dalam bahasa Fiji disebut Makosoi.

Tumbuhan tropis ini memiliki ciri-ciri fisik dengan diameter batang mencapai 70 sentimeter dan tinggi hingga 20 meter. Batangnya bulat, lurus, dengan kayu keras dan cocok untuk bahan peredam suara (akustik). Daunnya berbentuk bulat telur dengan pangkal mirip jantung dan ujung daun runcing. Panjang daun mencapai 10-23 sentimeter, lebarnya mencapai 4,5-14 sentimeter. Permukaan daun halus dan berkilau.

Bunganya muncul di batang pohon atau ranting dengan formasi mirip bintang laut terjurai ke bawah. Ujung mahkota bunganya keriting. Mahkota bunga biasanya berjumlah lima atau enam, kadang berjumlah delapan atau sembilan. Mahkota ini juga berdaging sehingga terasa tebal saat dipegang. Satu sama lainnya terlepas dan tersusun dalam dua lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah tiga. Seulanga memiliki benang sari yang banyak. Daging mahkota ini mengandung biang, disebut juga Cananga Oil yang wangi.

Sementara buahnya berbentuk bulat telur sepanjang dua sentimeter, berdaging tebal, saat muda berwarna hijau, lalu berubah hitam setelah tua. Jumlah bakal buah sekitar 7-15. Kepala putik berbentuk tombol. Biji Seulanga sekitar 8-12 per buah yang tersusun dalam baris, berbentuk bundar, pipih, berkulit keras, dan berwarna cokelat.

INDONESIA merupakan salah satu negara pengekspor minyak Seulanga, dikenal dengan sebutan Java Cananga Oil. Minyak atsiri (essentialSeulanga diambil dengan cara disuling dan dipakai untuk industri wewangian, parfum, sabun, dan kosmetik. Tak hanya itu atsiri Seulanga juga dipakai dalam industri farmasi dan food beverege sebagai flavor (aroma). Di beberapa daerah di Indonesia tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai obat-obatan herbal untuk mengobati beberapa penyakit.

Minyak atsiri biasanya diproses lebih lanjut di industri penyulingan seperti PT Djasula Wangi dan Petrokimia. Produk turunannya kemudian diekspor ke mancanegara, seperti India, Singapura, China, Prancis, Jerman, Inggris, Brasil, hingga Amerika Serikat. Dalam konteks perdagangan dunia, kata Dewan Atsiri, Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan pengekspor minyak atsiri terbesar.

Atsiri Seulanga banyak diperoleh dari bunga yang pohonnya mencapai 5-10 meter dengan rentang usia sekitar lima tahun. Karena biang Seulanga mudah menguap, sebaiknya pemanenan/pemetikan bunga dilakukan pada pagi hari.
Sentra Seulanga terbesar di Indonesia adalah Blitar, Boyolali, dan Magelang. Sentra lainnya ada di Banten dan beberapa daerah lain di Jawa Timur. Umumnya budidaya Seulanga dilakukan secara generatif, dengan menanam bijinya. Meskipun begitu, Seulanga dapat juga dibudidayakan secara vegetatif melalui cangkok dan stek.
Seulanga memang identik dengan Sumatera Utara. Namun bagi masyarakat Aceh keberadaan bunga Seulanga memiliki arti penting. Sering ditanam sebagai bunga hias karena rupanya yang cantik dan wangi. Bunga ini juga  memiliki peranan penting dalam ranah sosiokultural masyarakat Aceh.

Ahli Ekologi Hutan Tropika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr. Saida Rasnovi M.Si, mengatakan, secara etnobotani (ilmu botani mengenai pemanfaatan tumbuh-tumbuhan dalam keperluan kehidupan sehari-hari dan adat suku bangsa) masyarakat Aceh hanya menggunakan Seulanga untuk keperluan adat istiadat dan kebudayaan.

Ia memberi contoh, sejak dahulu masyarakat Aceh telah memanfaatkan Seulanga sebagai sumber wewangian alami. “Orang tua dulu sering menyelipkan bunga Seulanga di sanggul mereka. Selain itu juga sering dipakai untuk mengawetkan minyak rambut yang diolah secara tradisional. Caranya dengan menumis bunga Seulanga ke dalam minyak panas,” kata Dr. Saida saat ditemui di ruang Herbarium FMIPA awal Desember lalu.

Bersama bunga-bunga lainnya Seulanga juga menjadi bagian penting dari upacara-upacara adat. Pada prosesi kematian, misalnya, Seulanga sering dijadikan campuran untuk membuat air setaman. Begitu juga saat berziarah ke makam. Kita juga sering melihat Seulanga digunakan untuk menghiasi kepala mempelai pengantin wanita. Bunga ini juga dipakai untuk ritual peusijuek atau tepung tawari. Dalam cerana yang dipegang oleh penari dalam tari Ranup Lampuan, Seulanga termasuk di dalamnya. Lebih dari itu, Seulanga juga sering dipakai sebagai aroma terapi alami di rumah-rumah dan di tempat perawatan kecantikan.

“Di Aceh Barat Seulanga biasanya juga dipakai untuk menghiasi ranup mamèh yang biasa digunakan untuk acara lamaran atau perkawinan,” katanya. “Sejauh ini berdasarkan penelitian yang kami lakukan di beberapa daerah di Aceh, kami belum menemukan adanya pemanfaatan Seulanga untuk obat-obatan,” ujarnya. Selain itu, katanya, Seulanga di Aceh juga belum bernilai ekonomis. “Padahal jika ini dikembangkan prospeknya sangat bagus,” katanya.

Karena keistimewaannya ini pula, Bank Aceh menjadikan kuntum Seulanga sebagai logo mereka. Warna kuning kehijauan-hijauan dinilai melambangkan pertumbuhan dan kemakmuran serta kesejahteraan.
DI rumah Fairuziah di Gampông Ilie, Ulee Kareng, saya menemukan Seulanga perdu yang tingginya sekitar dua meter. Bunga itu ditanam di selasar rumah. Usianya diperkirakan sekitar sepuluh tahunan. Cabang-cabangnya dipenuhi bunga-bunga muda nan hijau dan tua kekuningan. Seulanga menjadi salah satu tanaman hias yang ada di halaman rumah Fairuziah.

Perempuan paruh baya itu mengaku menyukai Seulanga karena wanginya yang eksotis, Selain itu juga tidak perlu perawatan khusus. Paling hanya memangkas ranting-ranting yang kering dan menyiramnya jika diperlukan. Di kampungnya, para tetangga sering memetik bunganya jika ada acara kematian ataupun pesta perkawinan.
Dibandingkan bunga hias lainnya, merawat Seulanga sangatlah mudah. Menurut pemilik toko bunga Flower Garden, Safwan, Seulanga hanya membutuhkan cahaya matahari yang cukup. Jika ditanam dalam pot, cukup dengan tanah biasa. “Jika mau memberi campuran cukup tambahkan sekam saja, tidak perlu pupuk,” ujarnya.

Di toko bunganya di Jalan Panglima Nyak Makam Banda Aceh, setiap bulannya Safwan menjual sekitar 20 bibit Seulanga. Bibit-bibit tersebut ia pasok dari Medan, Sumatera Utara. Setiap bulannya ia memasok sekitar 30-50 polybag bibit. Satu polybag harganya dipatok Rp25 ribu. “Di Aceh tidak ada pembibitan Seulanga, makanya kami pasok dari Medan,” ujarnya.

Mendung masih menggantung. Di Taman Hutan Kota saya memandangi bulir-bulir air yang tersisa di pucuk Seulanga. Saat angin berkesiur, aroma wangi dari mahkota bunga menembus indera saya, memberikan sensasi tenang dan menyenangkan. Tangan ini tergerak-gerak ingin memetik kuntumnya, tapi urung. Saya lebih suka melihatnya bertengger di sana dan membiarkan angin mencandainya.[] 

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah The Atjeh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email