Langsung ke konten utama

90 menit bersama “Meunasah di Gampong Kamoe”

Sore yang indah menjadi lebih indah, terasa lebih nikmat dan menyenangkan, nikmatnya bukan karena banyaknya snack yang disediakan oleh panitia ataupun teh manis yang menjadi pelengkap sajian kecil itu. Tetapi karena diskusi hangat yang membahas tentang buku anak “Meunasah di Gampong Kamoe” yang ditulis oleh sastrawan Aceh, Sulaiman Tripa.

Kenikmatan itu justru menjadi lebih nikmat lagi saat “Meunasah di Gampong Kamoe” dibedah oleh seorang redaktur seni Koran Tempo yang juga seorang sastrawan Aceh yang saat ini menetap di ibu kota, siapalagi kalau bukan Mustafa Ismail yang tulisannya banyak kita jumpai dimana-mana, terutama yang menyangkut dengan sastra.

Selain Mustafa Ismail ada beberapa orang lagi yang namanya cukup popular dimasyarakat, yah…sebut saja seperti LK. Ara, penulis buku anak sekaligus pelopor tari Didong yang berasal dari Aceh Tengah, ada lagi Al Chaidar penulis buku Aceh Bersimbah darah yang berasal dari Lhokseumawe, juga sederet nama seperti D. Kemalawati, Din saja, Murizal Hamzah, Fardelyn Hacky Irawani, Alkaf dan Sulaiman Tripa selaku penulis yang sepertinya sangat ‘enjoy’ menikmati setiap kritikan dan masukan yang diberikan oleh para ‘eksekutor’ buku.

Membaca judulnya saja jelas tergambar pesan religi yang begitu kuat dari sang penulis untuk kembali mengajak para generasi muda Aceh agar back to meunasah, bukan apa-apa, sekedar menebak, barangkali inilah kegelisahan si penulis terhadap anak-anak muda Aceh yang kian hari kian jauh dari tata kehidupan islami yang bermuara dari meunasah atau madrasah.

Walau baru membaca sekilas, sepertinya buku tersebut enak dan ringan dengan gaya bahasa yang sederhana, yah…namanya juga buku anak-anak. Meskipun oleh pembedahnya dikatakan ada sebagaian kosakata yang tidak ‘kekanakan’ seperti halnya kata-kata galian C yang diucapkan oleh si tokoh Aku dalam cerita tersebut yang masih anak-anak, dan ada beberapa kosa kata lainnya, menurut saya ini bukanlah kesalahan yang berarti mengingat anak-anak sekarang daya nalarnya bahkan seringkali diluar fikiran orang-orang dewasa walaupun terkadang mereka tidak mengetahui apa yang mereka pikirkan.

Hal unik dan menarik lainnya dari buku ini adalah, cirri khas ke-Acehan yang sangat ditonjolkan oleh penulisnya. Mustafa Ismail sendiri mengakui, bahwa ada kosa kata-kosa kata yang telah dilupakan oleh banyak orang kembali ‘diingatkan’ oleh Sulaiman Tripa. Seperti halnya kata keujreun, meutiree dan lainnya.

Sebagai penulis yang telah terbiasa dengan buku-buku berat, karyanya yang satu ini saya kira patut diberi acungan jempol, karena, meski kita pernah menjadi anak-anak, tetapi membuat cerita anak itu tidaklah mudah, sebagai orang dewasa yang berusaha menyelami dunia anak-anak sangatlah sulit, jadi wajar saja jika ungkapan seperti galian C, atau kata dominan ikut terbawa dalam cerita.

Tidak ada gading yang tidak retak, buku sesempurna itu tetap saja ada celah untuk menjadi tidak sempurna, kecil sekali, seperti misalnya bahasa daerah yang tidak dicetak miring, atau tidak adanya foot notes atau catatan kaki sehingga ini mungkin agak sedikit menyulitkan bagi pembaca yang tidak mengerti bahasa Aceh. Tapi itu tentu saja bisa direvisi kembali.

Akan lebih sempurna lagi jika buku ini ada disetiap sekolah-sekolah dasar, karena selama ini buku anak-anak banyak yang ditulis oleh penulis dari luar Aceh, sehingga ketika dibaca oleh anak-anak Aceh secara tidak langsung akan ikut mempengaruhi pola pikir mereka juga bisa mengakibatkan lunturnya budaya local. Terus terang, saya iri dengan Sulaiman Tripa, produktif sekali. Salut Bang!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…