Langsung ke konten utama

surat untuk kekasih

Kpd Ytc
Kekasih Ku
Wherever You Are


kekasih ku, hari ini aku bangun agak siang, pukul tujuh lewat satu menit saat ku lihat jam digital disampingku, mungkin ini pagi yang indah, karena langit begitu cerah, setidaknya cahaya mentari yang menerobos hingga ke kamar ku bisa jadi pertanda, sebuah perjalanan akan dimulai lagi hari ini. pun, begitu juga aku.

tapi ketakutan ku semalam masih mencekik ku hingga pagi ini, sekedar turun ke bawah untuk membasuh diri pun aku tak berani, sedemikian hebatkah rasa takut itu? mungkin bagi mu atau yang lainnya sama sekali tak berarti, munkin juga mengejekku, dasar pengecut!

kekasih ku, yang berwujud dalam angin dan hujan, panas dan siang, malam dan gelap, matahari dan bulan, juga bintang dan meteor. hari ini kerikil-kerikil ketakutan itu menjadi gunung, mungkin sebentar lagi akan mengeluarkan magma yang panas, yang merah dan beracun. mungkin juga akan menjadikan ku batu atau cairan lumpur yang tak terbentuk, dan aku tidak lagi bisa menemui mu.

kekasih ku, silahkan mentertawa kan ku.
mungkin kau akan berfikir hari ini aku terlalu rapuh, aku terlalu lemah, dan begitulah, aku memang tak sekuat yang kau sangka, tak sehebat yang kau katakan, dan terlalu satir semua ini ku tulis disini.

kekasih ku yang berwujud batu, gunung, sungai dan laut, kepada mu semua luka dan perjalanan kulukiskan, semoga kau tahu hari ini aku begitu takut, takut melihat mu, takut melihat diriku, takut menemui waktu.

salam cinta untuk mu selalu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…