Langsung ke konten utama

Menangis

menjadi orang-orang kuat memang pilihan, karena tidak semua orang sanggup melakukan itu, dan aku masih sangat jauh dari karakteristik orang-orang kuat itu, bagaimana tidak, sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit menangis, mengeluh, berteriak, menjerit. ah...begitulah manusia seperti yang diceritakan dalam Al Quran, banyak mengeluhnya dan sedikit sekali rasa bersyukurnya.

baiklah, sepertinya perlu kuceritakan sedikit kenapa hari ini terus menangis, menangis dan menangis, hingga matahari bergulir ke barat dan terus kebarat sampai akhirnya ia tenggelam ditelan belahan bumi yang lain. betapa cengengnya hari ini, pada saat yang bersamaan menenangkan orang lain menangis tapi diri sendiri juga terus menangis hingga orang yang didiamkan itu hilang. dan meninggalkan secarik pesan yang isinya begini; kamu justru lebih sering menangis untuk ku, ah...tanda hijau itu menjadi kali lagi. dan sekarang aku harus beli obat dan itu artinya aku harus segera meninggalkan mu, semoga demam mu cepat sembuh, i luv you...oh ya, mohon tidak mengatakan yang----------untuk diri mu, hati ku perih mendengarnya...peluk cium untuk mu, sampai besok, wassalam.

waalaikumsalam, jawaban yang agak dipaksakan sepertinya. karena pada saat yang bersamaan aku masih ingin bersamanya, yah...setidaknya bisa melambaikan tangan sebagai pengantar pulang sore ini. tapi apa boleh buat, dijaman modern seperti ini saat semua orang menggantungkan kehidupannya pda kecanggihan teknologi, ternyata teknologi itu sendiri masih menggantungkan hidupnya pada teknologi lain, listrik. begitulah... ia pulang setelah pamitan pada secarik pesan yang dititipkannya pada email.

sebenarnya yang terjadi hari ini adalah kumpulan yang kemarin-kemarin, tiga hari lalu saat ia pulang dengan janji akan membawakan rindu yang banyak untuk ku pada pagi hari ini. pagi-pagi sekali saat aku bahkan kadang masih terlelap dalam tidur ku, lalu ia hadir menyapaku dengan tutur katanya yang lembut dan menenangkan, tak lupa dengan kecupan hangat sebagai penutup.

dan pagi ini, sejak subuh dengan suasana hati yang riang seperti burung yang senantiasa berkicau aku menunggu-nunggu ia hadir dengan rindu yang banyak itu. setelah mengganti kartu utama lalu tidur lagi sambil memeluk benda mungil trsebut dengan harap-harap cemas, menunggu-nunggu kalau-kalau sebentar lagi akan berdering nada khusus yang sengaja dipakaikan untuknya. tidur dengan senyum dan hati senang. tapi setengah jam, satu jam, tiga jam....hingga matahari setinggi diriku nada khusus dan gambar hati yang biasa muncul itu tak segera berdering.

"han menangis?" tanyanya saat ia melihat warna hijau kecil di inbox nya.
"kakak janji membawa rindu yang banyak pagi ini untuk ku...." jawab ku begitu polosnya, entahlah..aku merasa perlu memberi tahu perasaan ku pada nya. yang sebenarnya tanpa ku beri tahu pun dia sudah tahu. dan memang aku menangis. jadilah koor menangis hari ini, masing-masing berlomba untuk mengatakan perasaannya, tak peduli umur sudah sangat tua untuk dikatakan seorang yang masih cengeng, dan menangis bukanlah monopoli anak balita saja bukan? aku, atau dia bisa saja menangis, karena menangis bukan semata-mata untuk menunjukkan ke cengengan atau ke tidak berdayaan, tetapi karena sewaktu-waktu sifat kekanakan kita bisa saja muncul. dan begitulah....lucu sekali rasanya, menangis sama-sama, saling mengatakan ketidak berdayaan masing-masing, saling menyalahkan diri masing-masing dan akhirnya sama-sama bilang; aku menangis karena rindu yang banyak itu. duh...

sebenarnya bukan itu saja, supaya tidak terbuang waktu, sambil menangis itu coba-coba membuat tulisan, coba-coba chatting dengan yang lain agar perasaan bisa teralihkan, coba-coba sharing soal kepenulisan dengan yang lain, sambil mendengar curhat teman yang lain juga. nah, saat tulisan itu hampir selesai dan tinggal satu paragraf lagi, tiba-tiba listrik mati. duh...lengkap nian hari ini...seketika saat itu air mata yang tadinya sudah berhenti tumpah lagi. ilang semua tulisan ku. lebih sedih lagi ketika beberapa saat kemudian hanya mnemukan secarik pesan dari nya seperti yang diatas tadi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…