Langsung ke konten utama

Gubernur Pake Bahasa Apa?

tulisan sederhana ini muncul begitu saja saat tiba-tiba saya terkenang pada beberapa kejadian dimasa silam, sekitar tahun 1999, setelah DOM dicabut setahun sebelumnya. orang-orang gerakan saat itu sudah mulai berani muncul ketengah-tengah komunitas masyarakat, tidak tanggung-tanggung lengkap dengan paculan senjata AK - 47 nya. peristiwa itu tentu saja akan terlupakan begitu saja bila tida ada kejadian menarik yang sangat mengesanan dihati yang mau tidak mau harus diingat. karena apa yang terjadi setelahnya adalah rentetan dari apa yang terjadi saat itu. hingga pada suatu siang, dua orang gerakan datang kerumah dengan wajah sangar dan menakutkan, lengkap dengan senjata dibalik mantel panjangnya. saat itulah sesuatu yang mengesanan itu terjadi, saya yang seharihari terbiasa memakai bahasa nasional kena marah lantaran cakap bahasa nasional dengan adik didepan mereka. lucunya saya sadar mereka ureung nanggroe saat setelah dimarahi, lalu dengan jantung berdebar dan ketakutan saya minta maaf "peumeuah long...." kata saya dengan logat kacau pada waktu itu.

sekitar dua tahun setelah itu hal yang sama terjadi pada adik saya tetapi oleh orang gerakan yang berbeda, sejak sat itu anak-anak yang tadinya gemar berbahasaindonesia menjadi takut hingga pada akhirnya banyak yang lupa dan tidak mau lagi berbicara dalam bahasa nasional.

beranjak dari dua kejadian itulah tiba-tiba terlintas dipikiran saya, bahasa apakah yang dipakai oleh gubernur terpilih dalam menjalankan tugas kesehariannya? mengingat irwandi adalah seorang pentolan GAM.

tapibila memperhatikan petikan sumpah IRwandi ketika dikukuhkan menjadi gubernur Aceh oleh endagri pada tanggal 8 februari lalu sepertinya itu akan termasuk menyalahi aturan bila ia memakai bahasa Aceh dalam tugastugas kepemerintahannya. bahkan seulaweut prang sabi yang dulu menjadi simbol perjuangan mereka tidak dishalawatan ketika pelantikan. apakah ini berarti seuah perjuangan akan dengan begitu mudah dilupakan saat sudah berhadapan dengan kekuasaan? bukan ingin menghakimi siapapun, tapi mengingat yang dulu-dulu, rasanya mereka anti sekali dengan segala hal yang berbau Indonesia.

pun begitu selaku rakyat yang hanya bisa menonton penguasa dimenara gading sana sudah sepatutnya kita berdoa agar halhal sepele seperti persoalan bahasa dan atirbut dikesampingan agar prioritas utamanya tercapai; yaitu menyejahteraan rakyat. karena punca konflik sejatinya adalah rakyat yang tidak sejahtera sehingga muncullah perlawanan kepada para penguasa.

tapi selama ini, yang sering terjadi dan kita saksikan adalah sebaliknya, yang prioritas diabaikan sedangkan yang sepele tadi dibesar-besarkan. sehingga ketika urusan sepele ini selesai, persoalan utama tadi menjadi semakin kuat mengakar. tidak heran jika pada akhirnya label negara miskin dan negara korup terpaksa disandarkan pada bahu negeri ini. rakyat yang miskin semakin melarat sedangkan para penguasa ogah keluar dari ruangan ber AC karena takut kena panas sinar matahari, lalu dimana fungsi mereka sebagai pelayan rakyat? sudah terbalik, seharusnya pelayan yang melayani tuan tapi sekarang tuan melayani pelaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…