Langsung ke konten utama

Airmata Merpati

"Kalau Mengenalku Adalah Kesakitan
Maka Lupakan Atas Nama Kesembuhan"

kawan, maukah kau mendengar sebuah kisah?

tentang seekor merpati liar yang senang berpetualang, dia senang terbang dari satu negeri kenegeri lainnya, dari satu penjuru mata angin ke mata angin yang lain, dari satu lembah ke lembah yang lain. dari petualangannya ia megnenal banyak burung, ia kenal dengan kakak tua, kenal dengan burung perenjak, kenal dengan burung puyuh dan burung-burung lainnya. hingga suatu hari ketika ia sedang bersiul-siul kecil diatas dahan pohon Sentang seekor burung beo menyapanya, sekilas ia menangkap bahwa burung beo ini bukanlah sembarang beo, dia tampak sopan dan pintar, bukan berarti burung-urung yang lain tidak pintar tetapi beo yang satu ini sepertinya sangat mengedepankan tatakrama, begitulah...

dari hari je hari, dari obrolan demi obrolan, akhirnya keduanya sah menjadi sahabat, mereka menjadi dekat, mengenal beo memang sebuah keistimewaan tersendiri bagi merpati liar itu, apalagi beo secerdas ini, meskipun beo tidak pernah mengatakan itu tapi merpati tahu kalau beo ini banyak sekali pengalaman hidupnya, pengetahuannya luas dan ilmunya tinggi. bila dibandingkan dengan merpati maka ia sangatlah tidak ada apa-apanya. tapi entah kenapa beo yang pintar dan baik budi itu mau menjadikan merpati liar ini menjadi temannya, mau menemaninya berjam-jam hingga jemarinya barangkali terasa kebas dan letih, padahal apa yang emreka bicarakan bisajadi sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi dia. itupula yang tidak dimengerti oleh merpati, mengapa masih ada jenis burung seperti itu, bukan hanya pintar berkat bijak tapi dia memang bijak, dari ceritanya merpati mengerti siapa sebenarnya beo unik tersebut. dia burung besar yang bersembunyi dibalik namanya yang hanya dari tiga huruf sedangkan merpati adalah burung liar yang tak mengerti apa-apa yang mencoba berlindung dibalik namanya yang panjang. karena itu perkenalannya dengan beo adalah berkah besar bagi merpati.

namun akhir-akhir ini merpati merasa kalau beo banyak berubah, mungkin hanya perasaannya saja tapi memang itulah yang dia rasakan. beo cantik itu menjadi pendiam, tidak seperti ketika awal-awal mereka berkenalan tidak juga seprti beberapa waktu sebelum-sebelum ini. bodohnya merpati masih juga mencari jalan agar bisa bersiul bersama-sama dengan beo, kadang ia mencegatnya ditengah jalan sambil berteriak tidak karuan, ia gemar mencari-cari alasan yang kadang tidak masuk akal. bukahkah merpati kecil itu tidak tahu diri? bukankah sebagai makhluk yang punya akal seharusnya dia bisa mencerna dan berfikir dengan sinyal yang diperlihatkan beo.tapi itulah dia, dengan keluguan dan kenaifannya ia semakin merasa tidak berarti jika berhadapan dengan burung beo yang pintar dan cerdas. dia tidak pernah bisa merasa leluasa berbicara sepereti ia megneluarkan apa yang ia rasakan kepada burung-burung lainnya, sebab beo selalu mewanti-wantinya dengan isyarat tujuh detiknya. dia tidak bisa mengutarakan riak hatinya secara spontan seperti kepada elang atau burung balam. dan memang begitu, ia selalu menyenangkan hatinya sendiri, mencoba memahami dengan siapa ia sedang berinteraksi, ia kadang merasa malu dan tak enak hati setiap kali beo mengingatkan "tenanglah..." dan setiap kali megnatakan itu paasti beo akan berfikir, mengapa ada burung seriuh ini.

merpati yang liar, yang kadang-kadang merasa bahwa menanyakan kabar beo adalah keharusan baginya. lagi-lagi kali ini ia merasa amt bodoh, mengapa ia terlalu bersemangat seperti ini?

merpati memang sama sekali tidak ada apa-apanya bila disandingkan dengan beo, yang ada hanyalah ia terlalu sering membuat beo kesusahan dan sakit. yah...merpati yang liar, berhadapan dengan beo yang santun, beo yang berakal budi, sudah pasti akan membuat beo terkaget-kaget dan shock dan kadang-kadang ia harus meringis-ringis menahan sakti dijantungnya. dan itu terjadi bukan sekali dua lagi. sebegitu susahnya kah menjadi bermanfaat bagi orang lain? kenapa sering sekali yang terjadi adalah sebaliknya, menyusahkan, membuat sakit,....

lagi-lagi merpati merasa terlempar begitu jauh ke ceruk bumi, ia hanya boleh berhadapan dengan burung-burung yang liar saja kah? sedangkan dengan burung-burung terhormat seprti beo tidak boleh??? beo adalah jenis burung terhormat yang hidup di tempat-tempat enak, makanannya bukan sembarang biji-bian yang tidak jelas kandungan gizinya, dan beo juga burng cerdas yang mengerti bahasa manusia. karena itu setiak kali berhadapan dengannya beo selalu memeras otak agar dia bisa nyambung dengan apa yang dia bicarakan, kalaupun masih belum tahu tanpa malu dia akan bertanya, dan dengan santunnya beo aka bilang "perlu di up grade lagi..." merpati hanya bisa temangu mendapatkan jawaban itu, ia mematung memandangnya tak berkedip, beo memang bukan seperti elang atau seperti burung balam yang bisa sesuka hati ia berceracau, bahkan kadang-kadang tanpa memperhatikan sopan santun. maka sore itu setelah merpati membuatnya sakit lagi, setelah beo pamit dan minta ijin, merpati terpekur sendiri, ia merenung,

"kalau mengenalku adalah kesakitan maka lupakan atas nama kesembuhan...."

kawan, itulah sepotong kalimat terakhir yang dikirimkan merpati kepada beo. setelah itu merpati menghapus semua jejak kaki beo yang ia punyai, ia menghilangkan nomor rumahnya dan alamatnya. sampai kapanpun merpati memang tidakakan pernah bisa menyamai beo, dan sayangnya catatan-catatan tentang beo berserakan dimana-mana, ia melakukan semua itu dengan menangis hingga tersedu-sedu, dengan tangan gemetar dan rasa sakit yang teramat sangat, baru sekali ini ia merasa sangat tidak berarti seperti itu. merpati kecil yang liar, akankah ia selalu liar dan bertemu burung-b urung liar? dan tidak boleh berteman dengan burung-burung bangsawan seperti beo yang pintar bahasa manusia?

entah mengapa, tiba-tiba merapati merasa sangat marah pada dirinya sendiri, ia marah mngapa sore kemarin dan pagi tadi ia melangkah kedapur, menyalakan api dan memasak air untuk ia mandi setelah membaca apa yang dulu pernah dituliskan oleh beo. ia marah....ia semakin menangis....

apa karena beo sudah mendapat tempat dihatinya sehingga ia merasa perlu menuruti sebagiannya? dalam sakitnya ia berfikir, berteman dengan elang yang liar dan buas ternyata lebih menyenangkan, ia bebas mengekspresikan dirinya, keliarannya, semuanya....bukan beo yang salah, tapi dialah yang tidak sanggup.

kawan, aku memang bukan siapa-siapanya mepati, tapi aku tahu semua tentangnya. ketika pertama kali mengenal merpati beo menyodorkan komitmen, dan merpati menyetujuinya, ketika merpati menanyakan nomor rumahnya maka beo mengajukan sumpah. lalu untuk apa dipertahankan kalau semua itu menjadi berat seperti ini. kalau tidak bisa menjadi ayah bagi seorang anak, tidak bisa menjadi penuntun bagi pelabuh, tidak bisa menjadi mata air bagi pengembara....terlalu berat merawat angka-angka yang suci itu, kadang hampir tidak bisa dibedakan mana yang mata air mana yang air kubang, mana yang angin sepoi-sepoi mana yang angin beliung. merpati tak sanggup dengan semua itu, pemilik angka-angka yang suci dan tak berdosa adalah emreka yang suci dan tak berdosa, sedangkan penerima angka adalah yang tak suci, liar dan berdosa. maka semakin jelas, nama yang diukir dengan pasir cukuplah dinikmati sebentar saja.

merpati kecil yang liar

12:45 wib
06/02/07

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…