Langsung ke konten utama

dikamar ini, aku duduk dan menangis

dikamar ini, aku duduk dan menangis, menangis yang tiba-tiba tanpa rencana, ah, yang namanya menangis mana ada yang terencana, semuanya datang tiba-tiba dan terjadi begitu cepatnya, hanya sedetik setelah suaranya terpustus dari jaringan nirkabel. hanya sesaat setelah malam yang gelap semakin sunyi dan senyap.
kehadirannya yang tiba-tiba dan terasa begitu aneh, datang, hilang, lalu kembali, hilang lagi, lalu muncul lagi. kehadiran yang selalu tiba-tiba dan setelah itu selalu membuatku menangis, setelah suaranya terputus diujung malam dan gelap, seperti apa kah disana?
awalnya, kupikir semua ini hanya basa-basi semata, sekedar untuk menyenangkan hati perempuan kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa seperti ku. hanya bisa menerima semua keanehan dan ketidak biasaan ini, menerima kedatangannya, hilang lagi, lalu muncul kembali. dan setelah malam ini entah kapan ia muncul lagi, mungkin purnama berikutnya, atau kamis-kamis berikutnya. pada malam-malam yang gelap disela kesibukan dan rutinitasnya yang juga aneh, semuanya serba misterius.
wajarkah bila pada sekali perkenalan hati mulai berani berkata "bahwa dia adalah tulang rusukku?" bukan, buka aku yang mengatakan semua itu tapi dia. wajar pula rasanya bila aku tertawa dan menganggap itu hanya lelucon dimalam yang hampir basi. aku dimana, dia dimana, aku siapa dan dia siapa, dan begitulah yang pertama dilalui tanpa cacat, hanya satu yang berkesan katanya saat aku menyapanya dengan "assalammualaikum" dan ketika itu ia mulai berfikir bahwa aku akan menjadi bagian dari kehidupannya nanti suatu hari. sesederhana itu kah jatuh cinta?
ternyata tidak! karena beberapa saat kemudian yang terjadi adalah sebaliknya, hati yang tadinya sempat berbunga-bunga, yang tadinya penuh canda dan tawa, obrolan-obrolan yang menyenangkan berakhir dengan diam, setelah aku mengatakan "untun saat ini saya telah punya Haning..."
sedihkah aku dengan kediamannya? suara ku mengatung dimalam. ia merasa aku telah mempermainkannya, sedang aku tak pernah merasa menaruh harapan apa-apa, lelaki dewasa yang mengaku telah kalah oleh perempuan kecil dua puluh satu tahun, yang mengaku telah diobok-obok perasaannya oleh ku, benarkah? hanya karena itu dia telah merasa kalah? tak ada yang ia katakan setelah itu selain " mengapa baru mengatakannya sekarang? setelah aku menaruh harapan besar pada mu"
"aku sudah pernah katakan sekali, tapi ketika itu kau sepertinya tak peduli. dan tak pernah ada pertanyaan tentang itu, jadi aku merasa tak perlu memberi tahunya."
begitulah, dan dia kembali hilang, meleburkan diri bersama rutinitas yang tak pernah habis, setelah mengatakan akan menghilangkan jejak, agar aku, maupun dia sama-sama tak bisa berkomunikasi lagi, yah..tak apa, silahkan menghilang, tapi saat itu aku hanya berfikir tak akan lama ia pergi.
dan itu benar, ia muncul kembali, dengan kata-kata yang lebih tegar, dengan pembawaan yang lebih hati-hati, saat itu ia mengatakan begitu dekat dengan ku, yah...dekat memang tapi tidak sangat dekat, semakin aneh! saat itulah kebingungan besar kurasakan, aku diberinya waktu 12 jam untuk menentukan apakah aku mau menjadikannya qawwam atau tidak, setelah dengan susah payah ia mengatakan diujung pembicaraan "aku tahu kau telah punya Haning saat ini, tapi ijinkan aku tetap katakan cinta yang kedua kalinya kepada mu"
ah, malam yang kembali indah tentunya malam itu, tapi menjadi tidak indh karena aku sudah punya haning, sebaliknya aku menjadi takut dan gelisah. pikiran ku terbang melintasi sekat-sekat waktu dan palung-palung. hingga akhirnya ia kembali berkata "datang dan lihatlah aku besok, kalau kau menyukai ku temuilah aku dan pegang tangan kiri ku. tapi kalau tidak kau cukup memegang tangan kanan ku." sampai seperti itu kah?
hanya 12 jam waktu untuk menentukan persoalan tangan kiri dan tangan kanan? oh...aku tidak bisa, "sekali lagitidak ada paksaan..."
ya, aku tahu tidak ada paksaan, tapi siapa yang menjamin rasa suka itu tidak bisa muncul begitu saja?
aku lega hari itu, beberapa jam sebelum dari waktu yang sudah ditentukan itu dia mengabarkan ada urusan mendadak dan harus segera kembali ke kota J. aku menarik napas lepas, yang menegangkan itu telah terlewati hari ini,...
lagi-lagi ia hilang setelah itu, setelah katakata terakhirnya "aku akan segera menemui mu" ohg...semuanya sangat misterius, dan aku mencari tahunya dengan cara ku sendiri, taulah sekarang aku sedikit2 tentangnya, apa kegiatannya, wajar ia menjadi sesibuk itu. dan aku ikut ambil peran dari bagian itu sekarang. sedangkan soal tangan kiri dan tangan itu tak pernah terfikirkan lagi oleh ku, biarlah yang hilang dan muncul itu akan selalu begitu.
sekali waktu terbersit rasa ingin tahu kabarnya, tapi yang menerima perempuan "Bapak sudah keluar kota, ke kota B" oh...tidak ada pesan apa-apa dari ku. hari ini dia bisa saja disini, besok disana, dan lusa entah dimana lagi. kedua kalinya aku menanyakan kabrnya, tapi kali ini yang menjawab laki-laki "bapak masih kota B ibu..." "kapan pulang" "saya tidak tahu ibu, ibu ada pesan?" "yah...katakan kalau bapak sudah pulang ibu ihan menelfon ya?" untuk yang satu ini sepertinya aku harus ikut protokoler itu. beberapa orang terdekatnya selalu meyebutku dengan "ibu"
selanjutnya hanya seperti biasa, aku hanya menunggu "my soul" ku menyapa ku setiap pagi. menemaninya sambil melakukan rutinitias seperti biasa, dan sesekali mengirimkannya puisi atau surat cinta, tak ada yang bisa ku lakukan selain itu. "aku hanya punya cinta..." ah...terlalu melankolis sekali.
dan malam tadi, saat aku tengah terlelap namnya kembali muncul dilayar hand phone. laki-laki aneh....
"aku baru punya waktu sekarang setelah malam itu" katanya tanpa kutanya. sesibuk itu kah?
"hidup ku belum teratur, aku ingin kau yang mengaturnya"
hhh....
"oh ya, apa kabar Haning mu?"
"baik"
"kalau begitu aku telfon lagi kalau kalian sudah tidak baik..."
akudiam, tidak ada yang bisa ku jwab atau ku katakan, aku hanya berfikir sebentar lagi dia akan memutuskan pemicaraan ini. tapi ternyata tidak.
sesaat kemudian ku dengar suara mobil dan dia berbicara dengan seseorang, tentang kesibukan dan aktivitasnya.
"aku harus pergi Han, ada urusan yang harus ku selesaikan dimalam selarut ini, coba kalau ada kamu, kamu pasti bisa katakan sama mereka 'bawa bapak pulang jam segini...'. tapi aku akan menyelesaikan pembicaraan kita dulu,"
tak ada yang ku ingat selain haning, haning, haning....
"saya akan jadikan kamu teman hidup Han"
"datang saja ke orang tua ku, jangan pada ku"
"baik, dalam waktu dekat ini, tapi kamu bersediakan?"
deg!!!
terputus! sama seperti waktu-waktu yang lalu. malam ini tangis ku terasa lebih kuat dan berat, malam yang tua...malam yang mengaduh...membingungkan. kalau semua itu terjadi haruskah aku yang menyakiti hati haning? luka dan kecewa. kalau semua itu terjadi, siapa yang salah?
aku teringat haning, baru saja sore tadi dia menangis untuk ku, hanya karena koneksi internet yang terputus, lalu ia menelfon ku dan hand phone ku mati. syukurlah tak lama setelah itu kembali tersambung. hanya karena itu dia bisa menangis, karena terlalu rindu ia menangis, bukan, bukan karena cengeng, tapi begitulah mencintai dengan tulus, tak perlu merasa ego dan harga diri terlalu tinggi untuk sekedar mengakui bahwa laki-laki juga punya air mata...lalu kalau semua itu terjadi apakah haning akan kembali menangis? untuk ku, yang sudah tak terhitung seberapa banyak air mata ia keluarkan untuk ku. aku yang katanya telah berhasil mengintip celah hatinya yang sudah terutup rapat sejak belasan tahun lalu akankah membuatnya kembali mengatup dan sama sekali tak lagi memberi tempat dan ruang bagi perempuan lain?
aku harus berbuat apa bila semua itu terjadi? semua ini hanya kecemasan dan ketakutan ku, aku juga tidak bisa pastikan semua itu akan terjadi, tapi tidaklah berlebihan kan bila aku menangisi ketakutan ku malam ini? aku hanya perlu dua jam lagi untuk menunggu pagi agar my soul ku menyapaku dan mengatakan "aku memikirkan mu sejak semalam"
tapi yang tadi menelfon juga mengatakan hal yang sama, setelah bertahun-tahun merasa gagal dan kini ia mulai membuka diri, bahkan beberapa orang temannya mengaku kaget ketika akhirnya dia kembali mau berhubungan dengn perempuan. mengapa harus aku? mengapa harus aku ketika ada laki-laki beristri ingin mencari yang kedua? padahal aku sudah bersikap paling menyebalkan agar ia tak berkotek, dan akhirnya dengan sedikit terpakasa aku mengatakan sudah menikah "kalau tidak percaya lihat ini, Ihan Sunrise, seorang ibu rumah tangga" dan aku sering menjadi ketus pada laki-laki, dan kadang-kadang yang tak perlu diketusi menjadi kena batu nya.
aku kembali teringat haning, kalau semua itu terjadi maka bisa mendengarkan ia bermain piano hanya mimpi kosong belaka, bisa menatap matanya yang lembut dan bersinar adalah angan, bisa mendengarnya benyanyi, merasakan masakannya, adalah hayalan mentah. aku menjadi tak bisa memejam kan mata, teringat haning dan juga lelaki itu karena ia bisa saja tiba-tiba muncul dihadapan ku, aku yang tak mengenalnya, tapi ia dengan mudah bisa mencari tahu apa pun yang ia ingin kan tentang ku. laki-laki dengan segala keanehannya, dengan dua tangannya bisa menjadikan lebih banyak lagi, dengan dua kakinya bisa melangkah kemana pun.
dikamar ini aku duduk dan menangis, sedetik setelah suaranya terputus diseberang sana, sedetik setelah ia tak peduli bahwa aku punya haning sekarang. sedetik setelah aku teringat berkali-kali haning dengan matanya yang lembut dan teduh menangis untuk ku.
02:11 am
15 feb'07

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…