Langsung ke konten utama

cuek

cuek adalah sama dengan tidak peduli, mirip-mirip dengan tidak open bahasa kasarna tidak ada urusan dengan orang lain atau hana pakoe. seperti itukah definisi cuek? tentu beragam, dan itulah cuek versi saya.
tulisan ini saya buat beberapa saat setelah saya membaca pesan yang masuk dari teman saya magrib kemarin, teman dekat. dia mengatakan kalau selama ini saya telah cuek kepadanya, tidak tanggung-tanggung didepannya diikuti dengan embel-embel "banget" yang artinya sangat, seperti itukah saya? yang tidak enaknya ke-cuekan saya tersebut dikaitkan dengan sesuatu yang membuat saya tidak enak, saya sedih sekali menerima sms tersebut.
baru satu paragraf saya menulis tiba-tiba tinta pulpen saya habis, lalu mengambil pulpen yang satu lagi dan ternyata tintanya juga habis, langkah berikutnya adalah segera berpakaian dan pergi ke kios terdekat untuk membeli dua pulpen sekaligus, berikut satu amplop.
saya menuliskan surat singkat, hanya tiga paragraf, lalu memasukkannya kedalam amplop dan menitipkan kepada tetangga sebelah dengan harapan besok teman saya itu datang kesana dan mengambil titipan itu, tapi sepertinya dia memang tidak akan kesana.
cuek, seperti kata sifat yang lainnya, ketika hinggap pada seseorang tentu ada sebab musababnya bukan? dan seseorang yang mengatakan itu pasti punya alasan tersendiri juga. lalu bagaimana dengan status saya? yang "dituduh" cuek tanpa cross cek terlebih dahulu, jujur saja saya tidak bisa menerima itu. apalagi yang mengatakan itu teman dekat saya, padahal saya sama sekali tidak pernah bermaksud untuk bersikap seperti itu.
berkaitan dengan sikap saya yang seperti itu juga ada sebabnya, tapi tidak semua hal harus diketahui oleh orang lain termasuk teman dekat kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…