Langsung ke konten utama

Rokok

kapan pertama kali mengenal rokok? jawabannya tentu beragam untuk setiap orang, tapi dominan menjawab pada masa-masa smu, sedikit yang mengatakan ketika kuliah, pun begitu sekarang ini sudah banyak anak sltp yang merokok, anak es de pun sudah mulai mencoba-coba, namun tak sedikit yang memberi jawaban "saya bukan perkokok"

saya sendiri mengenal rokok ketika kelas satu smu, kenal dalam artian "kencan" bukan kenal hanya sebatas "tahu". kalau kenal tahu sudah sejak belum sekolah pun sudah tahu, dulu masih jamannya rokok panama, commodore dan kisaran, tidak seperti sekarang, nama rokok aneh-aneh dan mahal-mahal pula.

pertama coba rokok mild, panjangnya kurang lebih 9 cm, bentuknya lebih ramping dan agak "feminim" menruut saya, rasanya agak lebih manis dibandingkan yang lainnya, uniknya meskpun pertama coba tapi tidak ada batuk-batuk, malah asapnya langsung ditelan dan keluar dari hidung. setelah itu ya sudah, cerita tentang rokok selesai.

namun siapa nyana, cerita rokok bersambung bertahun-tahun setelah itu. tak tanggung-tanggung lima batang dji sam soe premium habis sekali duduk ketika itu, tiga malam berturut-turut entah berapa batang rokok yang ku habiskan, dan sisa yang terakhir kusimpan dalam lemari dan masih ada sampai hari ini. kalau ingin paling hanya dipandangi saja bungkusnya.

memang bukan kebanggaan bisa mengenal rokok, dan itu sudah berlalu berbulan-bulan yang lalu, keinginan itu ada seperti saat ini, bahkan ingin mencoba seluruh rokok yang ada, dan yang pasti bukan ardath, rokok itu tidak cocok untukku, kalau ikan dia seperti ikan asin hiks hiks...

lalu, apakah saya merasa "perempuan" dengan merokok seperti halnya laki-laki yang merasa "lelaki" ketika merokok? juga tidak, saya hanya menganggap rokok bukan mutlak milik laki-laki sehingga perempuan haram merokok. pun begitu saya tidak suka perempuan yang merokok...aneh ya???
dan malam ini, keinginan itu kembali datang, tapi tidak boleh dong....kasian orang-orang yang sayang pada saya.....

Komentar

  1. aduh bos,, tolong jangan singgung merk dong bos.. saya agak tersinggung nih,, karena menurut saya Ardath adalah rokok yang paling enak dan berharga bagi saya.. Saya sudah 3 tahun menikmati Ardath.. Kalau anda menyinggung bahwa anda tidak menyukainya (apalagi menghinanya) sebaiknya jangan cuman sebutkan 1 merek tersebut bos.. Anda bisa menyebutkan merk lain juga, karena saya yakin anda tidak berlangganan lebih dari semua merk lain yang kecuali, saya yakin BUKAN Ardath.. Setidaknya hal itu bisa 'sedikit' lebih sopan...
    Terima kasih dan maaf sebelumnya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…