Langsung ke konten utama

yang datang diam-diam

han, pagi ini, pukul 06.50. wib, aku menelponmu lagi, tapi sama seperti kemarin, jawabannya adalah "anda belum beruntung, telpon yang anda tuju lagi dimatiin, cobalah beberapa saat lagi kalau yang punya udah bangun......"
sekali lagi aku mencoba, tetap saja seperti itu. ah betapa tidak mudahnya untuk mendengar suara seseorang yang kita sayangi. kelirihan yang kubutuhkan untuk menambah semangat tuk memulai hari yang berat dan penuh kesibukan ini ternyata alangkah mahal harganya. keterburuanku beradu cepat dengan perginya kabut pagi ternyata tidak memberikan hasil yang menggembirakan.ah sudahlah, toh hari ini telah dimulai dan kita tetap harus melewatinya.
bila memang masih terlelap, selamat melanjutkan lelapmu itu, aku meninggalkan secarik kertas ini di sisi tempat tidurmu untuk memberitahu saja bahwa aku merindukan suara nafasmu yang kudengar ketika kamu sedang mengarungi mimpi pagi ini, maaf aku tak tega mengganggu, dan maaf lagi tadi aku mengelus pipimu dengan punggung tanganku tuk sekedar memberi tahu kalau dihatiku ini ada cinta untukmu, atau dengan meminjam kata-katamu, "i luv u"
note:mohon reparasi blog-ku diteruskan, kalau memang harus lewat gmail, silahkan masuk dengan password yang sama, n kecuali untuk keperluan membenahi blog tersebut dimohon kiranya untuk tidak menyentuh apapun disana.
satu lagi, kalau sempat, juga untuk soal salam-menyalam dan perkenalan dengan segala macam basa-basinya di xxxxxxxx itu, mohon perkenan yang tercinta ihan sunrise melakukannya untukku, he he he mau enaknya sendiri ya, sebelumnya tak ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…