Langsung ke konten utama

perempuan yang melelaki

apakah menjadi perempuan harus selalu mengikuti ketentuan tidak baku yang telah turun temurun dalam masyarakat? harus menjadi feminim, harus lembut, harus lebih memperhatikan tatakrama, harus bisa memasak, harus ini harus itu mengikuti sederetan ketentuan yang sangat panjang daftarnya itu.
apakah menjadi perempuan tidak boleh keluyuran malam, tidak boleh merokok, tidak boleh bersikap kasar dan segala macam hal lainnya yang sering bertengger kepada laki-laki? entahlah, semuanya berpulang pada masing-masing individunya.
tapi memang pemikiran seperti itu sudah berkembang dan melekat begitu kuat dalam kepala masing-masing orang didunia ini, bahwa menjadi perempuan ya harus seperti yang saya sebutkan tadi dan menjadi laki-laki tak apalah ugal-ugalan sedikit, boleh merokok, boleh sedikit-sedikit agak bandel.
makanya sangat sering saya mendapat "teguran sayang" dari orang-orang tersayang "jadilah sedikit perempuan han..." oow...apakah jenis kelamin saya sudah berubah? belum dong? lalu apa? mungkin karena saya yang ugal-ugalan dan suka kasar, ah, tidak, bukan kasar suka memukul tapi saya senang mengasari diri sendiri. senang menikmati diri sendiri, senang mengeksploitasi diri sendiri "maka jadilah perempuan" yang lembut, yang bisa berlaku lembut juga pada dirinya sendiri, mungkin begitulah makna tersirat dari si pengingat tersebut.
dilain waktu seorang kakak saya mengatakan begini " lho...adik saya ini ternyata sedikit tomboy juga ...kalau dilihat sekilas memang kelihatannya feminim" hehehe..si kakak mah bisa aja, saya cuma senyum-senyum aja dibilang seperti itu. malah ada yang menyarankan agar saya menggondrongkan rambut "agar lebih berkarakter" hahahah..semoga yang dikatakannya itu salah, salah dalam artian tak selamanya yang tidak berambut itu tak berkarakter....atau dia ingin mengatakan kalau perempuan itu terlihat lebih cantik dengan rambut yang panjang...hahahaha....tapi saya merasa lebih "perempuan" dengan model rambut saya yang sekarang.
saya bukan perempuan yang lembut, karena itu ketika ada seorang teman menyuruh saya agar bersikap lembut dengan cepat saya jawab "tidak semua perempuan lembut dan feminim, sama halnya seperti laki-laki yang tidak semuanya maskulin" hoho...sok tahu kah saya? mungkin, tapi itulah saya, saya bukan perempuan yang nyaman dengan sepatu hak tinggi lalu jalan dengan langkah teratur. gara-gara senang memakai sepatu sport dulu saya sering kena tegur oleh ibu, "beli sendal perempuan" selalu itu warningnya, pernah sekali waktu ditemani sampai setengah harian untuk nyari sendal yang "perempuan" untuk saya tapi ALhamdulillah tidak dapat dan akhirnya ketika saya pergi sendiri saya beli lagi sepatu sport. saya bukan perempuan yang suka memakai banyak perhiasan emas dan aksesoris keperempuanan lainnya, tapi..setidaknya akhir-akhir ini saya bisa menjadi sedikit lebih feminim, sepatu sport sudah mulai ditinggalkan, hanya ada kebiasaan-kebiasaan lainnya yang masih sulit ditanggalkan.
tapi satu hal yang tidak perlu disesalkan, lahir sebagai perempuan itu menyenangkan, sama senangnya seperti mengekspresikan diri dalam gelap dengan puntungan-puntungan yang berasap, seperti menikmati diri sendiri yang tak putus-putusnya...tapi juga melahirkan tangis dan air mata disekali waktu, tapi semuanya tak ada yang gratisan memang, kesenangan itu harus dibayar mahal, ada yang didapatkan, ada yang hilang dalam diri ini....tapi tak perlulah terlalu vulgar diceritakan disini, karena ada ruang-ruang pribadi yang tak boleh semua orang tahu, cukuplah terwakilkan pada dua lelaki hebat ku saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…