Langsung ke konten utama

Merenung Bersama Senja

Menjelang usia 30 tahun

Pelan tapi pasti usia 30 tahun kian mendekat dan hampir menjelang membuatku takut...usia seperti ini adalah usia yang dikatakan tidak muda lagi. Aku takut karena diusia ini belum ada satu pun wanita yang bisa menemaniku dan bagaimana kehidupanku selanjutnya?....Rasa takutku ini membayangiku setiap kali aku berada dalam kesendirian dan tatapan orang-orang membuatku malu. Usia ini adalah usia yang matang dan usia ini seharusnya aku telah memiliki pendamping wanita di sisiku sungguh ini keinginan yang diidam-idamkan setiap orang baik Laki laki mau pun wanita di mana pun dia berada.

Usia 30 tahun adalah permulaan hidup bagiku sesungguhnya dan aku ingin memulainya dari usia ini. Pelan-pelan semua akan berlalu akan kusambut kedatangannya dan hadirnya seorang wanita yang telah lama ku tunggu-tunggu dan waktu adalah jawabannya.

Tapi benarkah usia 30 tahun adalah batas akhir sebuah perjalanan? Aku coba mencari jawabannya dilembaran hidupku dan jawabannya aku sendirilah yang menjalaninya maka kan ku arungi perjalanan ini sendiri. Toh semua orang berhak atas keputusannya sendiri dan orang lain juga berhak untuk menjalani hidupnya dengan cara sendiri-sendiri dan aku adalah orang yang tidak terikat dengan hal ini. Aku bebas menentukan hidupku sendiri, dan jalan inilah yang menuntunku ke dermaga terakhir dimana aku berlabuh di situ pula aku akan kembali.

Ya aku tidak perlu pusing untuk memikirkan usia ini seperti saat aku menjelang usia 17 tahun akhirnya sudah berapa tahun telah terlampaui mungkin begitu juga sekarang aku pasti bisa melampauinya tanpa perlu takut apa yang akan terjadi kemudian.

Aku kadang merasa orang paling beruntung karena sudah 30 tahun aku menjalani hidup ini sudah selama inikah waktu yang telah terlewati apakah masihkah aku diberi kenikmatan seperti ini yaitu tuhan telah memberi usia yang panjang dan kira-kira apa yang telah aku lakukan dalam hidup ini? Adakah yang berarti? Atau kah telah membuat diriku bahagia?

Dan selama 30 tahun ini kebahagiaan apa saja telah kudapatkan kurasa membahagiakan orang tua adalah yang pertama yang kedua bagaimana membahagiakan diriku sendiri. Yah bagiamana kita hidup adalah bagiamana kita bisa menyiasati setiap kesempatan yang ada dimana ada jalan ambil saja tidak usah dipikir-pikir lagi, semakin lama dipikirkan semakin banyak pertimbangannya.

Usia 30 tahun bagi sebagian orang adalah usia yang sempurna kenapa? Aku sendiri tidak tahu diusia segini kok aku belum juga didampingi satu wanita pun masih betah aja sendiri apa enggak minder sama teman-temannya yang sekarang sudah ada punya anak lusinan, aku sendiri aja belum apa-apa. Sudahlah enggak usah dipikir terus nanti malah sakit.

Terima kasih kepada Ihan Sunrise yang mau mengunjungiku hingga membuatku terkaget kaget karena dia langsung menemuiku untuk menulis pesan ini diblognya...untuk Ihan Sunrise ku persembahkan pesan ini Terima kasih..

catatan kecil dari mas Fery Indawan
--------------------------------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…