Langsung ke konten utama

satu pohon banyak cabang, wajar kan?

lagu dangdut memang tengah naik daun, sedang marak, tidak heran kalau disetiap warung kopi, dirumah-rumah hingga ke kafe-kafe dan tempat nongkrong dipinggir jalan menyuguhkan dangdut era baru, musik-musik pun terdengar mbelinger hingga bagi yang tidak biasa harus menutup telinga karena bising. deretan lagu-lagu terbaru pun menjadi koleksi, katakanlah seperti jablay, sms dan masih banyak lagi, atau lagu-lagu lama yang dipoles dengan gaya dangdut masa kini, dengan goyang yang menggoda, pakaian seksi dan terkesan sedikit nakal.
saya bukan penyuka musik, apalagi musik dangdut, dan kalaupun menikmati cukuplah pop sebagai menu pilihan saya. tapi dengan merebaknya musik dangdut sekarang ini yang seperti cendawan dimusim hujan rasanya tak masuk akal juga kalau kita sama sekali blank dengan jenis musik yang berasal dari india ini.
tapi tetap tidak ada yang menarik -menurut saya- jika dibandingkan dengan lagu-lagu dangdut era sembilan puluhan, penyanyi-penyanyi dangdut sekarang tak lebih cuma jual tampang dan goyang, sehingga diciptakanlah macam-macam jenis goyangan untuk mendukung lagu dan suara mereka. maka muncullah goyang ngebor ala inul, goyang kayangan ala uut, goyang gergaji ala dewi perssik. huh...banyak bener ya? walhasil yang diingat orang bukanlah syair lagunya, tapi nama goyangannya.
apakah dengan adanya modifikasi seperti itu menandakan kalau musik dangdut telah mengalami perubahan? dari yang katanya musik orang kelas menengah kebawah menjadi musik orang-orang berkelas? entahlah...
belum lagi tema lagu yang -menurut saya- terasa sangat monoton dan membosankan, taruhlah lagu "sms" yang sudah dijadikan menjadi banyak lagu dengan judul dan lirik yang berbeda, intinya padahal sama aja ; kekasih selingkuh lewat hape. lagi-lagi yang ditonjolkan pada lagu-lagu tersebut adalah ke-erotisan penyanyinya. keseronokan cara berpakaian dan kenakalannya. yang senang siapa? kameramennya yang pasti hahahahah...juga penonton yang memang senang menonton keseronokan itu. anda barangkali salah satunya.
dari awalnya sms yang dibawakan oleh ria amelia, kemudian berkembang-berkembang dan banyak dinyanyikan oleh penyanyi lain, namanya juga berkreasi lah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…