Langsung ke konten utama

Surat Tak Bertuan

anggap saja surat ini surat tidak bertuan, saat seseorang berjalan-jalan ditepi sungai ia menemukan surat ini terselip dibebatuan terbelah. mungkin sipemiliknya ingin melemparkan ke air sungai yang dingin dan deras agar semua yang dia rasakan menjadi beku dan tidak terbentuk. tapi mungkin saja tadi, saat pemilik surat ini melemparkannya ke sungai arusnya tidak cukup deras dan kuat, sehingga jangankan menghanyutkan tubuh yang besar dan berat ini, sekedar selembar surat tanpa amplop pun tidan sanggup ditenggelamkan. maka, seseorang itu menemukannya, lalu dengan rasa ingin tahu yang sangat ia mulai membuka surat yang sudah setengah basah itu. hingga akhirnya ia meremasnya menjadi seperti bola lalu melemparkannya keseberang sungai atau menjadikannya butiran kertas lalu ia terbangkan bersama angin, bisa saja salah satu dari pasir kertas itu kembali lagi pada si pemiliknya.

ini hanya catatan kecil dipenghujung malam, kumpulan-kumpulan waktu yang sempat tergraffir pada dinding tak utuh, atau juga pada seberapa banyak lembaran kertas yang berserakan. semuanya mengumpul, membentuk gumpalan yang oleh pemiliknya tak perlu diberi nama serupa perselingkuhan dengan dirinya sendiri. seperti asap-asap rokok yang menggumpal dimulut lalu berserakan diudara. entah bagaimana menyatukannya kembali agar utuh. atau paling tidak jangan terlalu cepat hilang, sebab yang sedikit lagi itu biasanya lebih berkesan dan tersirat, sebelum kata terkahir terkatakan, barangkali disanalah nikmat merindui itu ada.

semuanya barangkali hanya duplikat emosi sesaat, dan esok, esoknya, dan esoknya lagi tergantung bagaimana kata hari ini, tergantung pertanyaan hari ini, tergantung jawaban hari ini. meyiksa diri bisa diterjemahkan dalam dua rasa, nikmat dan pedih. tapai apa yang terjadi kalau nikmat itu bersanding dengan pedih? barangkali akan semakin banyak puisi hanyut dan surat tak bertuan yang dilemparkan kepada seluruh penjuru mata angin. atau dititipkan pada musafir, atau juga menjadi permainan anak-anak yang bertelanjang dada.

tapi, terkadang begini, kita suka menunda sesuatu. hingga akhirnya keinginan itu terbang bersama angin, melebur besama awan, megnalir bersama air sungai yang dingin tempat dimana seseorang tadi menemukan surat ini tadi. lalu, apakah setelah yyag tersirat itu mnjadi tersurat semuanya menjadi nyata? belum tentu, rindu memang telah terkatakan, sebab rindu adalah milik jiwa. rindu kepada Tuhan, rindu kepada Rasul, rindu kepada surga, rindu kepada kekasih dan yang ingin dikasihi.

sedang aku, pemiliksurat tidak bertuan itu, ah, seseorang yang menemukan surat ini tidak perlu tahu siapa pemiliknya. aku, terbiasa dengan semua itu, menyuratkan apa yang tersirat dijiwa ku. karena apa yang kupunya hari ini belum tentu besok bisa ku miliki, rindu yang bisa terkatakan hari ini belum tntu besok akan terulang, aku terbiasa menterjemahkan perasaan ku menjadi huruf-huruf balok lalu menjadikannya puisi dan kuberikan pada yan merindukan puisi itu. aku terbiasa mengatakan, bahwa sebenarnya ingin sekali menjadikan dia lebih berarti dari yang sebelumnya. berarti bukan berarti harus dikerangkeng dalam jiwa yang sempit, bukan juga harus diendapkan dalam hati yang kadang lebih sering membuat sipemiliknya merasa kesakitan, seperti sakitnya burung yang dijadikan pengantar surat, padhal ia sangat ingin surat itu ditujukan kepadanya. aku tidak ingin begitu, karenanya aku tak perlu merasa berkecil hati ketika bisa bilang rindu, sebaliknya aku merasa bebas, bebas menterjemahkan rasa dan hati ku.

sebentar, sepertinya seseorang yang menemukan surat ini sudah begitu lama berada ditepi ini, aku hanya khawatir kau kan tertular aku, menuliskansurat tidk bertuan lalu melemparknnya ke sungai yang dingin dan beku.

dan kali ini aku seprtinya benar-benar rindu pada seseorang yang ku panggil adik!

Komentar

  1. suratnya bagus dan sangat relevan namun saya memang tidak terlalu jurnalistis dalam menikmatinya...

    BalasHapus
  2. yahhh...surat yang dibuat sangat apa adanya...dan memang tidak memperhatikan unsur-unsur jurnalistisnya ...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…