Langsung ke konten utama

berlayar

I am sailing

I am sailing,

home again cross the sea

I am sailing stormy water to be near you to be free

I am flying I am flying,

like a bird cross the sky

I am flying passing hihg clouds to be with you to be free can you hear me,

can you hear me through the dark night far away

I am dying forever trying to be with you who can say We are sailing We are sailing,

home again cross the sea We are sailing stormy waters To be near you to be free, oh love,

to be near you to be free
***
aku pernah berlayar, dan sampai sekarangpun masih berlayar, bedanya dulu aku hanya berlayar berdua dengan kekasihku dan sekarang dikapal ini ada tiga pelayar, aku, kekasih ku dan seseorang yang secara kebetulan ikut berlayar dengan kami. semuanya hanya kebetulan. seandainya kami tengah berbulan madu tentu aku tidak akan mengajaknya serta secara diam-diam, dan dia ku pikir beruntung -sama beruntungnya seperti aku- berawal dari kebetulan itu ia menjadi bagian yang amat penting dari si pemilik kapal layar ini.
dan sekarang posisinya menjadi berbalik, tapi walau bagaimana pun pelayaran ini tetap menarik, ditengah laut lepas, bukan hanya ada gelombang tapi juga cemburu dan air mata, ada gelisah dan senyuman yang mengapung bersama riak-riak gelombang yang saling mengejar.
entah bagaimana suatu hari kekasih ku mengetahui dibalik yang diam-diam itu ternyata ada yang bergerak-gerak, ku pikir dia bukanlah seorang yang bodoh untuk tahu itu, dan aku berhasil membuatnya percaya bahwa dia hanya seorang sesat yang perlu ditolong, yang perlu diberi waktu agar bisa ikut berlayar bersama kami. dan memang benar. aku tak bohong. lalu setelah itu aku menghilangkan jejak kepada si penumpang kebetulan itu, mengunci rapat-rapat pintu kamar ku hingga ia kehilangan ku. tapi aku tak pernah memberi tahu soal pertengkaran hebatku kepadanya, yang dia tahu aku hilang. tapi...ku pikir dia akan tahu karena ada layar yang dulu terkembang kini telah diturunkan satu "my soul"
hingga suatu hari, aku muncul sebagai orang lain, menanyai kabarnya, mengirimkan pesan rindu kepadanya dan berusaha menjadi guru yang dulu sempat hilang, aku merasa kehilangan. karena itu aku kembal secara diam-diam. hingga suatu hari layar yang dulu sempat diturunkan itu terkembang lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…