Langsung ke konten utama

Kegelisahan Laki-laki

Kegeisahan Laki-Laki
(Catcil Bagi Uda dan Mas)
menjadi yang lebih muda tidaklah enak-enak amat, tidak bisa asal suruh saja kepada para tetua, atau kalaupun ingin sekali maka harus melewati fase yang panjang dulu, harus ada hantaran berupa senyuman dan bujuk rayu yang memikat, barulah keinginan tersebut dipenuhi oleh para "tetua" tadi.
catatan kecil ini merupakan hasil dari kesewenangan sang "tetua" tadi yang dengan seenaknya menyuruh adiknya tanpa tendeng aling-aling, "Han, buatkan kisah tentang Uda..." perintahnya tanpa basa basi. uuwh...kok main todong begitu aja, memangnya saya ahli tulis biografi orang.
"Ihan coba deh...."
teringat sudah beberapa kali ada temen yang nyuruh dituliskan kisahnya, dan setelah saya coba ternyata hasilnya memuaskan. "Pas banget dengan kejadian yang sebenarnya nih Dek..." ucapnya senang, atau..."makasih ya....kamu baik deh..." yang ini pasti ada maunya hehehe...
sudah beberapa kali tulisan kecil ini akan dibuat tetapi selalu mandeg hingga akhirnya malam ini kembali mendapat ilham dari yang kuasa, sebenarnya jauh sebelum diberi PR untuk menuliskan sesuatu tentang dirinya sudah banyak teman-teman yang lain menggelisahkan hal yang sama, lelaki yang gelisah. gelisah karena saat usia dirasa sudah cukup matang, maisyah sudah mapan tapi kok belum ada bidadari yang datang. hm...timba menunggu sumur datang, mungkinkah?
tapi sepertinya ada yang kurang pas disini, meminta dibuatkan kegelisahannya oleh seorang perempuan kecil yang tentu saja tidak memahami seluk beluk jiwa laki-laki. tapi...anggap saja perempuan kecil ini sedang bermetamorfose menjadi laki-laki dewasa yang sedang menggelisahkan hal yang sama pula!
setiap orng merasa hidupnya menjadi lebih berarti ketika dia mampu menggenapkan setengah dien nya (menikah) lalu setengahnya lagi dicari sebelum dan setelah itu, bersama bidadari dan bidadara yang kelak menjadi teman hidupnya. namun, apakah kalau itu tidak terjadi apakah hidup menjadi tidak berarti? tidak begitu juga tergantung bagaimana kita menjalani dan mengisi kehidupan itu sendiri.
hanya saja begini, secara dangkal saya berfikir kita akan menjadi "kita" setelah melakukan tugas-tugas ke "kita" an itu. misalnya, selaku perempuan tugas ke "kita" an itu adalah mengandung, melahirkan dan berbagai kodrati lainnya yang sudah ditentukan oleh Allah SWT begitu juga dengan laki-laki. maka wajar, saat usia sudah matang gejolak-gejolak tadi begitu menggelegak, apalagi bagi mereka yang sudah berusia kepala tiga, gejolak-gejolak tadi berubah menjadi ketakutan-ketakutan yang sangat, ketakutan akan terus hidup sendiri karena merasa sulit mendapatkan pendamping karena dinilai dirinya sudah tidak muda lagi, ketakutan akan tidak punya keturunan (lha menikah saja tidak gimana ngga takut), juga ketakutan akan todongan-todongan orang tua yang takut anaknya menjadi perjaka ting ting atau perawan tung tung. lalu berfikir sebegini susahkah untuk membuktikan diri cukup dewasa? untuk bisa menerima amanah itu? untuk menjadi imam atau makmum? tapi kemana, dimana bidadari itu bersembunyi?
beberapa waktu yang lalu saat mengobrol dengan seorang teman maya dia mengingatkan "sunah Rasul itu menikah umur 25 lho bang" saya hanya tertawa, teman itu masih berumur 23 tahun jadi katanya dia masih ada waktu dua tahun lagi untuk menjalankan sunnah Rasul itu, sedang saya? "umur saya baru tiga puluh tahun" jawab saya kalem, dia hanya tau saya sebagai laki-laki ya jadilah saya menyesuaikan diri sebagai sangkaan dia. "apa?! itu bukan baru tapi sudah...."
begitulah, orang selalu merasa sudah tua ketika dia sudah atau hampir memasuki usia tiga puluh tahun, sedang saya selaku perempuan, lelaki umur segitu baru tahap memasuki untuk menjadi laki-laki yang sebenarnya. ini tentu saja berbeda untuk setiap individu.
dulu, saya pernah tanya pada seorang teman, seperti apa kira-kira calon yang dia suka? jawabannya cukup sederhana, yang tinggi, putih, langsing, cantik, rmbut panjang, pinter masak, romantis dan sayang kepada suami.yah...sederhana sekali. dalam hati saya menjawab kalau begitu dia bukan kriteria saya, sebab saya hitam, jelek, pendek, gemuk, rambut pun hanya 10 cm lengkap dengan seabrek kata tidak lainnya.
ada yang lain menjawab begini, asal tidak neko-neko, jujur, baik dan setia. yang lain lagi, asal lengkap secara fisik sudh cukuplah...mata tidak tiga, telinga tidak satu.
persoalannya hanya pada ikhtiar saja, kalau hanya duduk dibelakang meja, jangankan bidadari cicak aja ngga berani lewat. sebaliknya terlalu bersemangat nanti malah dapat kucing dalam karung, maunya kucing anggora eh malah dapat kucing liar.
tapi, persoalannya sederhana saja, dalam al quran sudah dikatakan bahwa laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik-baik, sedangkan laki-laki yang tidak baik kepada mereka yang tidak baik juga, jadi sebenarnya tidak perlu resah soal segala macam kriteria itu asalkan kita terus memperbaiki kualitas diri, karena apapun ceritanya, Dian Nitami hanya Untuk Anjasmara, jadi jangan berharap bakal dapat yang sperti DIan Nitami karena dia hanya satu.
tetapi yang namanya kegelisahan itu adalah sesuatu yang abstrak dan datang sendiri, kala malam menjelang tidur, atau saat sedang lelah dan sedang malas membuatkan kopi sendiri. maka ketika itu sensitivisme merajai diri kita. tapi sebaiknya kembalilah berfikir, tua atau mudanya seseorang bukan pada takaran 30 tahun atau lebih, tapi jiwanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…