Langsung ke konten utama

"Kembang Kehidupan"


kembang-kembang kehidupan.
sebuah taman akan lebih indah bila ditumbuhi tidak hanya dengan satu jenis bunga saja. siapa yang membantah kalau mawar itu cantik, tetapi akan terasa lebih sempurna jika dipadukan dengan kuntum-kuntum melati, kelopak mayang kenanga yang harum bisa juga lili dan asoka. tidak semua bunga harum, begitu juga tidak semua bunga cantik bentuknya. namun, dalam kelengkapan itu masih saja kurang lengkap bila tidak ditumbuhi oleh serumpun dua rumpun tanaman liar atau rumput.
rumput, kalau boleh diibaratkan adalah seperti kesedihan dalam catatan kehidupan kita, adakalanya ketika kebahagiaan itu tengah menyala-nyala, kesedihan menyelip tanpa disadari. mendesak-desa ruang jiwa hingga mengalirkan derai tangis yang tak tersuarakan. seperti terik siang yang tiba-tiba harus segera bertukar dengan hujan yang lebat bahka disertai angin lebat. ada saat-saat kita merasa tidak memerlukan rumput dalam catatan kehidupan kita, tapi hidup menjadi sangat tidak berwarna hanya dengan mengecap bagaimana rasanya bahagia saja.
hidup adalah butiran-butiran warna yang beraneka, sangat tidak lengkap bila hanya dihiasi oleh satu warna saja, karena pelangi saja berwarna-warni konon lagi kehidupan kita yang tak pernah lepas dari penat dan lelah, tidak cukup, airmata, gelisah dan cinta juga sayang. bukankah kita ingin kaya? tidak hanya dengan cukup mempunyai mobil saja? tapi juga rumah besar, kebun yang luas, ternak yang banyak. begitupun hidup, tidakkah kita ingin menselaraskan antara merah, kuning, hijau dan biru? agar semuanya terlihat sempurna dan mengagumkan. sehingga ketika ada yang membicarakan pelangi kita bisa merasakan dan membayangkan bagaimana indahnya pelangi dan ketika ad yangmenceritakan kegelapan kita juga bisa ikut merasakan kengerian yang ada dibalik kegelapan, walaupun gelap belum berarti selamanya menakutkan. tapi dengan kekayaan warna kehidupan tadilah kita bisa berempati kepada sesama. warna-warna yang tak ubahnya seperti kembang-kembang yang ada dalam taman hati kita.
bukankah kita tak pernah merasai bagaimana lelahnya mencabuti rumput-rumput tersebut bila tak pernah ada rumput dalam taman didepan rumah kita? lalu bagaimana pula bisa menghargai pelu orang lain tatkala mencari sesuap nasi untuk keluarga? bukankan kita tak pernah merasa bagaimana sakitnya menderita bila sekalipun tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya hidup? lalu bagaimana bisa mengeluarkan sekeping atau dua keping rupiah pada pengemis yang pagi atau siang tadi kita lewati di perempatan jalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.