Langsung ke konten utama

"Memeluk cinta"

"Sini cinta, kupeluk. sandarkan tubuhmu ke bahuku agar aku bisa merasai sedikit sakitmu. atau kirimkan sedikit rasa lelahmu ke pundakku, agar aku bisa sedikit meringankan bebanmu. jangan bayangkan aku beribu-ribu kilo meter jauhnya dari mu, tapi bayangkan saat ini aku ada di dekatmu, menatap kedua matamu dengan mesra dan menggenggam tanganmu, sekedar meredai sedikit gerah dan rasa pusingmu.
sini cinta,....ayo...buka mulutmu untuk kusuapi sesendok dua sendok nasi. agar tubuhmu tak lagi lemas dan kuat bertenaga. aku masak bayam untukmu hari ini..agar kamu bisa seperti popeye si pelaut yang hebat itu. tapi aku tidak ingin lenganmu bengkak begitu..cukup tubuhmu saja yang tak lemas. dan jangan lupa minum juice alpukat yang sudah aku siapkan di meja dekat ranjangmu. ayolah...jangan malu-malu....
jangan melihat ku sepeti itu. biarkan aku cerewet hari ini. aku tak ingin melihatmu besok sakit lagi dan salah makan lagi. aku juga heran kenapa aku cerewet sekali hari ini. padahal biasanya aku agak pendiam dan jarang mempedulikanmu, hanya kamu saja yang sering memesraiku lewat puisi-puisi cintamu. mungkin karena sudah beberapa hari kau sakit dan tidak sempat menyapaku. karena itulah aku cerewet...kalau saja kau dekat cinta..barangkali aku akan jadi orang yang paling cerewet lagi, jangan lakukan ini, janganlakukan itu, jangan makan ini, jangan makan itu..aku khawatir dengan kondisimu honey...
percayalah...
selalu ada cinta untukmu yang tidak pernah pupus.
selalu ada kerinduan yang menyeruak dari rongga jiwaku yang tidak seberapa besar ini
dan selalu ada penantianku pada waktu dhuha diesok hari, atau ketika jingga mulai bertaburan ke cakrawala.
(for my sweet sista)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.