Langsung ke konten utama

"Bapak Bercelana Pendek"


sore-sore bila kebetulan cepat pulang ada yang menarik untuk dilakukan, kebetulan kamar saya terletak diatas, jadi ada keasykan tersendiri. salah satunya adalah duduk didekat jendela, kadang dijendela belakang, yang terlihat adalah puncak gunung Seulawah yang sangat anggun. apalagi kalau sedikit mendung atau baru hujan, subahanallah, cantik sekali. saya sering melihat bintang ataupun purnama dari jendela belakang ini, disini kadang saya juga menangis bila mengingat sesuatu, kerinduan.

tetapi bukan itu yang akan saya ceritakan, saya ingin menceritakan sesuatu yang terkait dengan jendela depan, apa yang saya lihat bila saya kebetulan duduk disana. lupakan jendela belakang, dan mari ke jendela depan. pasti akan terlihat seorang bapak yang setiap sore setia nongkrong diwarung sebelah. dengan kaos dan celana pendeknya yang khas. diam-diam saya memperhatikan, bukan sekali dua kali lagi. bahkan ketika ada beberapa orang dari jamaah tertentu beberapa waktu yang lalu memberikan ceramah singkat, bapak itu masih dengan celana pendeknya. jelas saja, karena kelompok jamaah itu tidak memberi tahu kalau mereka akan berkhutbah didepan para anak muda dan bapak bercelana pendek yang sedang bermain batu. kepada mereka yang nongkrong diwarung. tiba-tiba sudah ada dihadapan, penampilang serba tertutup dan putih-putih.

bapak itu, adalah seorang ayah yang mempunyai tiga orang anak. bapak itu bisa jadi adalah gambaran dari anda-anda semua yang kebetulan diberi Allah jenis kelamin sama seperti bapak itu. seorang bapak yang idealnya memberikan contoh teladan yang baik kepad anak dan istrinya, bukan hanya dengan perkataan tapi juga melalui perbuatannya. barangkali mempraktekkan memakai celan apendek juga adalah contoh kepada anak. so, jangan salahkan jika anak menaikkan sedikit dari kependekan yang dipakai bapaknya. memendekkan sedikit lengan bajunya dari yang dipakai oleh orang tuanya, mengecilkan sedikit bajunya, menaikkan sedikit kerudungnya, toh semua itu dia contoh dari rumahnya. dan tidak ada larangan, lho, bagaimana mau melarang bila bapaknya saja memakai celana pendek. nanti kebalik jadinya antara yang dilarang dan yang dilakukan jadi tidak sinkron.

bapak itu tidak sendiri, diwarung tempatnya nongkrong ada satu orang lagi yang mempunyai hobby yang sama dengannya, baru saja menjadi ayah, anaknya masih berumur dua bulan. kami jadi hafal warna apa saja yang dipakainya. karena terlalu seringnya, tetapi jelas-jelas tidak ada kerisihan pada sipemakainya. kerisihan itu mungkin tidak berasal dari celana pendek yang dipakaianya, tetapi bisa saja dari rambut-rambut yang tumbuh dikaki mereka. tetapi yang jelas intinya mereka membiarkan auratnya terbuka, padahal aurat mereka tidaklah seperti perempuan yang boleh nampak hanya muka dan telapak tangan saja. tetapi toh tetap saja mereka keberatan menjalankannya, konon lagi perempuan? ini bukanlah pembenaran bagi mereka yang belum sanggup menutup auratnya dengan baik. tetapi bukankah ar rijalu qawwamuna alannisa'? laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. bagaimana memimpin rumah tangga jika diri sendiri saja belum sanggup memimpin...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.