Langsung ke konten utama

"perjalanan"


perjalanan ini,
terasa sangat menyedihkan,
sayang engkau tak duduk disampingku, kawan………


barangkali inilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, kenapa belum menikah? padahal usia sudah mencukupi, kehidupan juga sudah layak untuk membiayai seorang istri dan ditambah dengan beberapa orang anak untuk beberapa tahun kedepan. kau tidak tahu jawabmu selalu. tepatnya bukan tidak tahu tapi menyembunyikan apa yang kau rasakan, terlalu pintar kau menyembunyikan rasamu. dan aku tahu itu, karenanya aku tidak memaksa lagi dengan pertanyaan yang sama, aku yakin kau pasti akan menjawabnya dengan cara yang berbeda. dan benar saja, sekarang kau sudah menjawabnya. dengan sangat jelas sekali.
tanpa kau sadarai, karenanya kau bukan hanya menyiksa dirimu sendiri tapi juga orang lain. aku bukanlah siapa-siapamu, tetapi aku pernah mengambil peran dalam bagian hidup seseorang dengan menjadi merpati kecil tempat berkirim pesan. aku pikir kau tidak perlu menangis ketika harus kehilangan seseorang seperti beberapa waktu lalu, kau sudah punya cinta seumur hidupmu, kau telah memiliki kekasih seumur hidupmu, rasanya sangat tidak pantas bila kau pernah menangisi kepergian seseorang karena ia mondok ke hati yang lain. bagaimana mungkin bisa mencintai orang lain sepenuh hati bila dihatimu sudah ada sosok lain yang telah lebih dulu kau penjara disana, bagaimana mungkin satu hati ada dua nama dengan porsi yang sama untuk dicintai. dan sangat tidak adil rasanya, bila meminta orang lain untuk mencintaimu dengan tulus sementara kau mencintai orang lain melebihi kau mencintai dirimu sendiri. kau boleh menampik, kau boleh membantah, tapi kau telah membuktikan apa yang kau lakukan itu adalah benar. kau telah menyakiti dirimu dengan cara mu sendiri. aku sungguh tidak sanggup membayangkan apa yang akan dirasakan oleh adik kecilmu yang dulu seandainya kau memilikinya.
sekarang aku tahu, mengapa kau tidak pernah berani mengatakan apa yang kau rasakan padanya, mengapa kau tidak pernah berani berterus terang, padahal kau tahu dia pun sebenarnya merasakan hal yang sama sepertimu. aku tahu diantara kalian selalu ada rindu yang terpendam, dan aku juga tahu kalau dalam keseharian kalian pernah ada waktu-waktu khusus yang seolah menjadi kewajiban. tapi kau membendungnya demi seseorang, demi janjimu, demi cintamu yang telah kau pupuk sejak lama. salahkan jika kemudia dia pergi dari kehidupanmu, meski sebenarnya pada titik-titik vital dalam hidupnya dia masih menangisi mu? pernahkah berfikir seperti itu? kau begitu memperhatikan cintamu pada kekasihmu yang jauh, tapi kau tidak pernah memperhatikan orang lain yang mencintaimu.
sekarang, aku juga tahu mengapa kau tidak bisa mencintai orang lain dengan sepenuh hati...
pesanku...teruslah mencintai cintamu itu...
teruslah mencarinya untuk memenuhi janjimu...
aku salut dengan caramu mencintainya.....
perjalanan ini,
terasa sangat menyedihkan,
sayang engkau tak duduk disampingku, kawan………

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.