Langsung ke konten utama

"Peringatan Pak Lubis"

banda aceh adalah kota yang rendah, bentuknya mirip-mirip seperti kuali yang tinggal sebelah, sebelah timurnya pegunungan Seulawah dan sebelah baratnya dikelilingi oleh pantai. kalau hujan lebat jangan ditanya seperti apa wajah kota ini, di jalan-jalan akan tergenang air dan becek. kalau pasang purnama maka got-bot disepanjang jalan T. Nyak Arief juga ketiban getahnya. got-got lebar itu menjadi luber dan air sampai ke permukaan jalan. kondisi ini memanglah sangat tidak nyaman. salah satunya yang paling sering kebanjiran adalah desa kampung laksana ini. akhir-akhir ini aku saya sering kemari dan selalu memperhatikan. hujan sedikit saja maka jalan darma ini sudah tergenang air. masih bisa ditolerir bila airnya bersih ini bentuknya sama seperti air got. belum lagi sampah-sampah kecil yang timbul diatasnya. padahal got-got disepanjang jalannya besar-besar, tetapi kurang perawatan alias tidak pernah dibersihkan. ternyata inilah yang membuat saluran airnya tersumbat dan menjadi tidak lancar sehingga ketika hujan got menjadi penuh dan meluap kejalanan. got-got tersebut dipenuhi dengan sampah-sampah yang notabenenya adalah kaleng minuman dan sampah kertas. kalaupun sesekali ada dibersihkan tapi itupun tidak dapat ditolong. karena gotnya sudah dangkal.
terkait dengan itulah beberapa minggu yang lalu seseorang yang bernama pak Lubis menitip pesan kepada saya agar got disekitar toko ini dibersihkan. saya sudah menyampaikan pesan itu tetapi bukan kepada pemiliknya melainkan kepada seorang teman saya yang saat itu ada disini, saya juga tidak tahu apa setelah itu teman saya itu menyampaikan ke pemilik toko ini. sayapun lupa mengatakannya lagi.
minggu pagi ini pak Lubis meronda lagi, ia melihat got disekitar ini masih seperti beberapa minggu yang lalu. masih penuh dengan sampah-sampah kardus dan botol minuman. dia kembali menyamperi saya dan menanyakan dimana pemiliknya. lantas saya memanggil seorang ponakan pemilik toko ini. setelah itu saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. si bapak pergi dan siponakan masuk kedalam.
sesaat kemudian saya melihat bang Aldie, ponakan yang lain telah memegang cangkul dan menguber-uber isi got, sampah-sampah ditariknya dengan pelan agar tidak jatuh lagi ke got dan tentu saja akan terciprat ke bajunya. wajahnya tampak meringis, mungkin karena panas atau bisa jadi karena menahan aroma got yang demikian sedapnya. celana jeansnya di sing-singkan hingga diatas mata kaki, dan beberapa butir keringat ikut meneriakkan yel-yel semangat untuknya. disebelahnya pak Lubis ikut mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di pinggir got, kemudian mengangkutnya dalam truk sampah yang sudah mangkal dipinggir jalan. itupun tidak seluruhnya, karena masih ada tumpukan sampah yang bertengger dipinggir got. sekedar menebak isi hati pak lubis, pastilah ia merasa dongkol karena got ini belum juga dibersihkan dan dia sudah ditegur oleh pak lurah, dan mau tidak mau terpaksa dia harus turun tangan. mengyomi mungkin. bukankah setiap perbuatan memerlukan contoh konkrit???

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.