Langsung ke konten utama

"Apa itu cinta ?"

Aku bertanya kepada alam
Apa itu cinta



Dan Mentari menjawab
Cinta adalah ketulusan memberi tanpa berharap untuk menerima
Memberi kehangatan kepada mereka yang diterjang beku
Memberi terang kepada mereka yang terjebak gelap
Cinta adalah memilah bulir kejernihan
Dan mengirimnya ke ladang yang tandus
Dan turun menemui dedaunan pagi sebagai bulir sejuk embun




Dan
Pohon menjawab
Cinta adalah jemari kasih yang menghunjam kokoh ke dalam sanubari kehidupan
Cinta adalah keteguhan hati diterpa angin semakin kau menumbuhkannya
Cinta adalah rindang tempat kau berlindung dari terik perjalanan
Cinta adalah kelapangan jiwa ketika kau mampu memberi buah kebaikan walau kau dilontar oleh batu keburukan




Dan
Angin menjawab
Cinta adalah kekuatan
Yang dapat menghantarkan biduk citamu menuju pantai harapan




Dan
Tanah menjawab
Cinta adalah keikhlasan Ketika saripati kasihmu membuahkan beragam makanan
Tatkala kau diinjak dan diludahi



Dan
Samudera menjawab
Cinta adalah sebuah misteri
Kau hanya akan mendapatkan keindahannya
Jika kau benar-benar menyelami ke dasarnya
Dan Lilin menjawab Cinta adalah pengorbanan
Ketika kau mampu memberikan semua yang terbaik demi terang terpercik
Menuntun mereka untuk mendapatkan titian hidup yang benar




Dan
Bunga menjawab
Cinta adalah ketelatenan dalam menumbuhkan,
mengembangkan dan menjaga
Selalu menyiraminya dengan air dan matahari
Dan Ketika semua sisi alam seolah berlomba untuk mengungkapkan jawabannya
Aku bertanya pada diriku sendiri....
Sudahkah aku mencintai ?




"Akan ada pelangi yang cantik setelah turunnya hujan.."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.