Langsung ke konten utama

"Menebus Cemburu"

dengan ditemani
hujan dan gelisa....
kalau hari ini kau bertanya padaku siapa yang paling aku sayangi dan cintai, jawabku adalah kamu. kalau kau bertanya mengapa jawabku adalah karena kau sering membuatku ingin menangis. bilapun kau masih bertanya begityu aku akan menjawab begini,
sekarang duduklah dengan manis dihadapanku, tatap kedua bola mataku, apa aku sanggup membalas tatapanmu yang lembut itu? kemudian pegang kedua tanganku, apa aku terasa gemetar? lalu, letakkan sebelah tanganmu ke dadaku, apa kau merasakan deguban jantungku yang tak beraturan? lihatlah bibirku, apa kelihatan bergerak-gerak seperti ingin berbicara namun tak ada sepatah katapun yang terkatakan? apa aku menunduk? apa aku berusaha melepas genggaman tanganmu?apa aku kelihatan pucat? apa aku sesekali terpejam dan mafasku tak beraturan?
baik, sekarang sudah cukup. cukup kau menjawabnya dalam hati saja. sekarang, apa kau percaya bahwa rindu dan sayangku hanya untuk mu seorang? apa kau percaya bahwa malam-malam yang terlewati hanya kau yang ada dalam teriakan-teriakan rinduku? kau percaya ketika aku ingin tidur tetapi tiba-tiba aku bangun hanya untuk menulis sesuatu untukmu, itu karena aku ingat kamu.
ah, rasanya kamu tidak akan percaya, tanganku telah pegal. tubuhku letih dan penat, kepalaku pusing tetapi aku tidak ingin beranjak dari dekatmu hingga kau yang meninggalkanku. tanpa permisi, tanpa pamit. pun begitu aku tidak marah, hanya ada sedikit rasa kesal dihati, bukan hanya padamu tapi kepada semua orang yang melakukan hal yang sama, aku tidak suka cara begitu, tidak sopan. tapi baiklah, aku tidak akan menyalahkanmu, mungkin saja disconect atau listriknya sedang mual, itu semua bisa saja terjadi.
apa sekarang kau percaya dengan semua yang kukatakan?
tidak percaya juga tidak apa-apa. bukankah kata orang-orang, cinta adalah banyak memberi kalaupun harus menerima itu bukan karena dipinta. cinta adalah kerelaan dan bukan paksaan. ups, maaf, bukan aku sok tahu tentang cinta, ituhanyalah kata orang-orang saja. atau kau akan menjelaskannya padaku?
lihatlah sekarang, kantukku hilang, mataku melebar. bukan karena yang lain tapi karena kamu. lagi-lagi terlalu jujur. sekarang jantungku benar-bernar berdebar, melebihi debaran ketika dua bocah saling berebutan dipangkuanku, ketika keduanya berebutan mintal untuk diperhatikan lebih dari yang satunya. anak-anak ku yang lucu, penghilang rasa lelah dan kantukku. tetapi kamu bisa melakukan lebih hebat lagi dari apa yang mereka lakukan. kalau mereka sesekali hanya membuatku kesal, maka kau bisa membuatku menangis, entah karena sedih atau karena terharu. kalau mereka senantiasa membuatku terpingkal-pingkal, maka kau membuatku terbang dengan cara yang tidak biasa. yang hanya kau yang bisa melakukannya.
lihatlah bagaimana ketika kau cemburu melihatku menuliskan sesuatu untuk seseorang yang isinya sangat biasa sekali, padahal hampir setiap ahri aku menuliskan surat cinta untukmu, untuk kau baca disela-sela lelahmu. sebenarnya kita sama-sama cemburu hanya saja aku berbeda menyikapinya. tapi aku suka caramu cemburu, terlalu vulgar. katamu, pembagian cemburu yang tidak adil.
untuk untuk kamu ketahui, aku ingin menebus rasa cemburumu itu dengan ini. entah kamu berbunga atau tidak, atau malah cemberut nantinya. mungkin aku akan segera tahu, itupun kalau kau berkenan berbagi isi hatimu denganku. ini adalah jawabanku atas pertanyaanmu kemarin siang.
sini, mendekatlah padaku. sekarang letakkan kembali tanganmu di dadaku, sudah mulai normalkah detakannya? dan aku mulai sanggup membalas tatapan matamu yang lebmbut itu. aku tak takut untuk tidak menunduk lagi, malam ini hujan, aku harap kau tahu apa yang ku inginkan.
sekarang, kamu percayakan tidak akan ada yan gmeninggalkanmu, dan akan selalu ada yang menemanimu menangis, menemanimu dalam sesak karena gedung yang telah menjerembabmu didalamnya. bahkan aku ingin mendengar suara-suara jangkrik itu disetiap malam denganmu, sampai telinga kita bising hingga akhirnya kita menutup jendela.
aku ingin selalu merasai panas dan dingin, terik dan hujan hanya bersamamu. ah, lagi-lagi terlalu jujur.
jujur tidak selamanya menyakitkan tetapi terkadang juga memalukan.
semalam, ketika kau tidur aku menatapmu lekat-lekat. nafasmu begitu pelan dan teratur. aku jadi tak tega untuk membangunkanmu dan megnatakan semua isi hatiku saat itu. siang ini, bila kau sudh menyelesaikan semua pekerjaanmu maka bertandanglah kesenarai cintaku, ada sesuatu yang telah kupersiapakan untukmu, isinya adalah seperti yang telah kau baca tadi.
jika sudah selesai, jawablah beberapa pertanyaan dariku.
apa kamu tersenyum setelah membacanya? apa hatimu berdebar? apa kamu bahagia? apa kamu ingin cepat-cepat pulang setelah ini? dan memelukku dengan erat? atau kamu bermaksud membalas surat cintaku ini? apa setelah ini masih ada keraguan? apa setelah ini m,asih ada air mata yang berlinang? terakhir, apa kau akan mengajakku melihat bintang nanti malam?
dari gazebo kecil yang ada kolam dibawahnya, yang ada bunga-bunga bergantungan disekelilingnya, yang aromanya masuk ke tempat dimana sebagian waktu kita habis disana, menekan tuts-tuts piano yang hitam putih itu dan kita hanyut dalam gerakan yang berirama.
kalau semuanya sudah terjawab, sekarang ijinkan aku beristirahat. ijinkan aku tidur sejenak sebelum kau pulang dan menggodaku lagi, tetapi sebelumnya aku ingin mendengar sesuatu darimu, katakan dengan tulus dan ikhlas, dengan lembut nyaris berbisik, disini, ditelingaku, katakan, aku sayang kamu cinta...dan aku akan memejamkan mata.
burung kecil
22:32 wib
10/07/06

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.