Langsung ke konten utama

"Geliat Hidup"



jalan menakar hidup adalah geliat gelisah yang tidakkan pernah berujung, pada malam-malam panas tanpa rembulan, juga pada siang-siang mendung tanpa matahari. semuanya bisa saja menjadi terbalik sama sekali tidak seperti yang pernah dibayangkan oleh kepala manusia. karena pengetahuan kita memang terbatas. geliat-geliat gelisah yang kemudian melahirkan ketakutan yang teramat sangat, menggapai-gapai asa dan harapan yang tergantung dipuncak langit. yah, harapan yang kita sendiri tidak tahu apakah bisa mencapainya atau hanya sekedar mimpi yang selamanya akan menjadi mimpi.
yang pasti setiap orang punya keinginan, punya cita-cita dan harapan, mulai dari yang sederhana, seperti ingin membahagiakan orang-orang yang ia cintai sampai yang paling tinggi dan mustahil untuk dilakukan, "Aku ingin memetik bintang untuk mu". membahagiakan adalah sepotong kata yang sangat sederhana namun implementasinya teramat sulit dicapai. ukuran kepuasan atau kebahagaiaan berbeda untuk setiap orang. ada orang yang cukup dengan makan dua kali sehari, ada pula orang yang sudah makan tiga hari sekali mesti ditambah dengan makanan ringan dan makanan selingan lainnya baru ia merasa bahagia. ada lagi yang sudah mempunyai pekerjaan mapan masih juga mengejar yang bukan menjadi haknya, sangat relatif sekali, tergantung pada setiap individu.
ingin sekali mendengar ada yang mengatakan "ingin kupersembahkan surga untuk mu..." tetapi itu sangat jarang, mungkin hanya 1 dari seribu. mungkin memang harus berfikir seribu kali untuk mengatakan hal demikian meski untuk orang yang teramat dicintai. surga, sering diucapkan. terbayang pula berbagai kemewahan dan keindahannya setiap kali lidah mengucapnya, kelezatan dan kenikmatan tiada tara bagi orang-orang bertaqwa. mungkin karena itulah orang jarang sekali memeprsembahkan surga bagi orang lain karena ia sendiri tak yakin akankah bisa dengan segera merasainya.
sekali lagi, hidup hanyalah geliat-geliat gelisah pada malam-malam panas tak berembulan dan siang-siang dingin tanpa matahari. gelisah karena tangan terus menggapai-gapai tetapi yang digapai tak pernah kunjung hadir karena kepuasan itu memang tak berujung. hidup hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang seteguh karang dilaut, meski seribu ombak menerjang dan dingin menghujam sama sekali tak membuatnya bergeming untuk terus bertahan. bertahan dan bertahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.