Langsung ke konten utama

"Tanyaku pada (para) Ibu"

ibu, harus seperti itukah yang dialami oleh perempuan? dikhianati dan terus dikhianati oleh laki-laki? pun begitu, kau tetap tersenyum ibu, menyembunyikan gurat sedih dan lukamu demi kami, anak-anak mu, demi menjaga keutuhan keluarga, agar kami anak-anak mu tidak tercerai berai dan tahu tempat pulang. ibu, segini umurku mengapa telah begitu akrab sekali dengan yang namanya pengkhianatan, dengan perselingkuhan. bahkan sejak aku kecil, mungkin kelas dua es de waktu itu aku telah mendengar hal serupa itu tetapi aku belum tahu kalau itu namanya perselingkuhan. pulang terakhir kemarin ibu menceritakan padaku kalau si pulan telah begini, dan pulan kali ini si ini yang begitu....ibu...haruskan hidup ini begitu?


ibu, apa sebenarnya arti pernikahan dan sebuah keluarga jika akhirnya harus seperti itu. apa setiap suami merasa harus menyakiti hati istrinya ibu? apa ia lupa kalau istrinya telah melahirkan anak-anaknya dan merawatnya dengan baik, apa ia juga lupa kalau istri selalu mendoakannya dan selalu mendoakannya, tetapi mengapa juga masih dibalas dengan penghianatan. ibu, aku tidak bisa menuliskannya dengan baik. aku sedih, aku terluka, aku marah menyaksikan ibu-ibu diperlakukan tidak adil oleh laki-laki yang tak lain adalah suami mereka.


ibu, apakah sudah tidak ada lagi laki-laki yang bisa menghormati perempuan dan senantiasa berterimakasih atas apa yang dilakukan seorang istri kepadanya? mengapa kemudian ia memberikan kehangatannya pada orang lain, lupakah dia sudah ertahun-tahun istrinyalah yang menaruh nasi kepiring makannya? mencuci pakaiannya dan mendoakannya. mengapa ibu...


ibu, salahkah jika sesekali telintas dibenakku aku benci laki-laki, aku muak dengan mereka. apa salah itu ibu? tetapi aku tidak bisa menyalahkan semuanya kan bu? aku tahu masih ada satu atau dua orang lagi yang tidak seperti itu. tapi siapa mereka ibu? ah, lagi-lagi merasa mual perut ku membayangkan apa yang dilakukan oleh mereka itu bu, mestinya lagu kemesraan itu tidak pernah ada saja, karena kemesraan itu tidak ada yang utuh, hanya sebagai pelengkap kehidupan saja diawal-awal pernikahan. selebihnya hanyalah kebekuan. hampir saja aku kembali menangis ketika mendengar apa yang kau cerritakan padaku kemarin menjelang siang, segitu kejamkah laki-laki itu ibu?



ibu, maaf kalau aku telah terlanjur mengatakan semua ini, bukan karena akutidak membutuhkan mereka, tetapi denganmelihat dan mendengar sepertinya mereka mengajariku untuk itu. mereka sendiri yang minta dikatakan begitu, tetapi tidak semua.
bu, sekali lagi aku ingin bertanya, apa setiap fase pernikahan harus mengalami hal yang seperti itu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.