Langsung ke konten utama

"Perempuan"


kemarin sore sambil jalan-jalan nyari bakso saya dan seorang teman saya melewati sebuah toko kecil yang menjual perlengkapan perempuan, ada beberapa celana jenas model terbaru yang terpajang didepannya, juga dua buah rok yang anggun sekali. warnanya lembut dan bahannya bagus, yang pasti enak dipakai, soal harga aku tidak tahu karena memang tidak berminat membeli, mungkin juga karena tidak ada uang. inilah faktor utama pengendali jiwa konsumtif manusia, uang!!

beberapa hari yang lalu jalan-jalan di pasar tradisional, sungguh sangat banyak yang bisa dilihat, mulai dari pakaian sampai buah, pakaianpun terbagi lagi ada pakaian luar ada pakaian dalam. dari alat-alat dapur sampai perhiasan, tapi yang paling menarik adalah aksesoris perempuan yang bentuknya unik-unik, berupa gelang, kalung, bross sampai ke cincin. harganyapun bervariasi, mulai dari yang ribuan sampai yang puluhan ribu bahkan ratusan ribu. tergantung dari materialnya. tetapi tetap saja aksesoris yang ada disini tidak seberapa bila dibandingkan dengan diluar Aceh. materialnya mulai dari kayu kelapa, shell, batu alam, saga seeds sampai mutiara. yang terahir inilah yang harganya paling mahal, minimal delapan ratus ribu rupiah dan mencapai lima jutaan satu untai kalungnya. untuk sebagian orang menganggap ini tidak lebih dari upaya menghambur-hamburkan uang, tetapi tidak sedikit yang beranggapan ini adalah trend, dan tidak adasalahnya untuk dicoba dan yang terpenting punya uang. habis perkara! kata teman saya produk semacam ini adalah produk untuk memanjakan wanita. ups...
perempuan, dibandingkan laki-laki memang sudah kelewat sering dimanjakan. oleh apa saja, oleh produk kecantikan, oleh fashion, oleh mode, dan oleh oleh lainnya. lihat saja, apa ada laki-laki yang begitu telatennya ke salon sampai tiga kali seminggu, melakukan padicure dan manicure dengan teratur, senam, dan melakukan perawatan spa. dan apa ada laki-laki yang menghabiskan waktunya seharian untuk bebelanja demi mencari model baju terbaru yang beredar dipasaran. juga lihatlah model-model pakaian yang dijual dipasaran, betapa sangat mencolok antara laki-laki dan perempuan. perempuan bebas mengeksplorasikan perasaannya melalui warna-warni pakaian yang mereka pakai, melalui keragaman model dan pernak-pernik tadi. sebegitu dimanjakannyakah perempuan oleh mode?
bukan berarti lelaki warga kelas dua dalam hal mode, tetapi malah tidak disukai bila lelaki terlalu berlebihan dalam beraksesoris. bayangkan saja bila ada lelaki yang memakai kalung, gelang dan cincin secara berlebihan. justru membuat orang kehilangan simpati. bukan berarti ketika perempuan mengenakan aksesoris yang berlebihan semakin sedap dilihat, tetapi sewajarnya saja.
saya sendiri, sebagai perempuan kadang jengah juga melihat ke "overan" yang sering ditampilkan oleh para perempuan dalam bergaya. tetapi, apapun ceritanya setiap orang tentu punya selera yang berbeda, bisa girly, sporty, glamour dan macam-macam, karena itu kehadiran berbagai aksesoris tadi turut memperjelas selera seseorang. mungkin juga pribadi seseorang. bagaimana dengan anda...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.