Langsung ke konten utama

"Merpati Kecil dan Bunga Mawar Hutan" (balasan Kakak Besar dan Merpati Kecil)

adalah kakak besar, yang katanya begitu sedih karena bunga mawar hutannya dipetik orang, padahal dia sangat menyayanginya, dia yang merawat bunga tersebut hingga ia besar dan kemudian berbunga. kembangnya sangat bagus, berwarna merah tua hampir menyerupai warna tulip hitam. aromanya pun begitu mempesona, siapapun pasti ingin memiliki bunga tersebut. setiap sore kakak besar selalu menyiramnya dan sesekali memberi pupuk agar nutrisinya cukup, pupuknyapun bukanlah pupuk yang dijual dipasar tetapi pupuk kandang agar ia tidak terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia. begitulah kakak besar merawatnya dengan sepenuh hati agar ia tumbuh dengan sempurna.
suatu hari kakak besar mendapatkan bunga tersebut tidak ada ditempatnya, ada yang mengambilnya. betapa sedih hati kakak besar. hingga ia bercerita pada merpati kecil yang kebetulan lewat di dekat rumahnya. awalnya mungkin kakak besar enggan bercerita, tapi karena ia merasa perlu berbagi dengan orang lain akhirnya brceritalah ia pada merpati, merpati yang dapat memahami bahasa kakak besar tentunya dan kakak besar juga dapat memahami bahas burung. setelah selesai bercerita pamitlah siburung setelah sebelumnya memberikan biji kepada kakak besar untuk ditanam "semoga bermanfaat" begitu pesan burung kecil itu.
siapalah yang sangka kalau setelah itu ternyata si burung kecil itu melakukan investigasi. ia terbang melanglang buana mencari bunga yang seperti diceritakan oleh si kakak besar. ia terbang keseluruh pelosok negeri, ke gang gang sempit dan keluar masuk lorong. kakak besar tidak tahu mengenai ini. setelah sekian lama mencari akhirnya si merpati tersebut sepertinya bertemu dengan bunga tersebut. ketika itu si bunga sedang duduk manis di sebuah taman yang besar dan mewah. pastilah pemiliknya orang kaya pikir si merpati. dengan sangat hati-hati si merpati mengepakkan sayapnya lalu hinggap di pohon mangga yang dekat dengan si bunga tadi. ia sengaja mencari perhatian si bunga agar menyapanya. benar saja. bunga menyapanya.
"Burung yang cantik...mendekatlah" kata bunga. bukan main senagnya si merpati. ternyata bunga ini tidak sombong pikirnya. sudah cantik baik dan ramah pula.
"baiklah bunga..." jawab merpati malu-malu. dalam kepalanya ia mulai berfikir bagaimana ia bertanya perihal asal usul si bunga.
"aku tidak pernah melihatmu" kata bunga lagi
"aku yang tidak pernah melihatmu sebelumnya"jawab si merpati tak mau kalah. dalam kepalanya sudah muncul ide yang menurutnya cukup brilian."aku sangat sering kemari, memakan biji-bijian ditaman ini, tapi tidak pernah melihatmu."
"aku memang baru disini"
"Oh ya?"
"Ya"
"sebelumnya dimana kamu tinggal?. oh ya siapa namamu?"
"aku tidak tahu siapa namaku, dulu, seseorang yang merawatku memberiku nama mawar hutan, mungkin karena ia menemukanku dihutan. tapi pemilikku yang baru memanggilku mawar saja."
aha...si burung mulai yakin inilah yang dia cari...
"Hm...begitu ya?" si burung memancing
"iya" bunga tampanya bersedih.
kesempatan lagi pikir si burung, untuk mengorek isihati si bunga. ia sengaja memilih diam dan membiarkan bunga bercerita.
"aku sebenarnya tidak betah tinggal disini, tempat ini terlalu asing bagiku, tidak seprti di tempat yang dulu. disana begitu teduh dan asri, aku juga dirawat dengan baik, diberi pupuk dan disiram setiap hari. disini bukannya aku dirawat, tapi aku diberi makanan kimia yang dijual dipabrik. aku tidak biasa dengan itu, aku bukannya sehat tapi malah jadi sakit tidak karuan, lihatlahbagaimana tubuhku kurus dan aku tidak berseri lagi." cerita bunga panjang lebar.
burung memperhatikan dengan seksama, benar juga pikirnya. bunga itu tidak lagi seperti yang diceritakan oleh kakak besar. kalau kakak besar tahu ini pasti ia akan sangat sedih sekali. penampilannya kuyu dan tidak bergairah.
"beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan seseorang yang kehilangan bunganya, entah itu yang kau maksud aku tidak tahu. dia mengatakan sangat bersedih hati harus kehilangan bunga mawar hutannya. padahal ia berniat memetiknya beberapa hari lagi, lalu memasukkanya dalam vas bunga tercantik dan meletakkanya di dekat tempat tidurnya, agar ia bisa melihatnya selalu. tapi ketika ia bangun pagi-pagi bunga itu sudah tidak ada lagi, seseorang telah mengambilnya. apakah itu kamu?"tanya burung prihatin.
"Apakah dia seseorang dengan postur tubuh tinggi besar? dan orang-orang menyebutnya kakak besar?" tanya bunga bersemangat
"Iya, tepat sekali"
"Oh..."
"kenapa?"
"aku sangat merindukannya. bisakah kau membawaku kepadanya?"bunga memelas
"Maaf, aku tidak bisa...karena kau sudah menjadi milik orang lain,"
"Oh...mengapa kakak besar tidak segera memetikku.." bunga menggumam
"aku tidak tahu, kakak besar tidak emgnatakannya padaku. apa kamu berharap kakak besar yang memetikmu?"
"iya, saat itu aku sangat berharap sekali, dan pasti aku tidak menolak. aku...aku pernah berharap seandainya sisa umurku akan selalu bersamanya. aku sangat menikmati hari-hariku dengannya, dia baik, selalu memperhatikanku dan kadang-kadang mencandaiku dengan mengatakanku badut. aku sering dibuat geli olehnya, hampir aku tidak pernah bersedih selama berada di dekatnya" bunga jadi bersemangat lagi. burung kecil tersenyum.
"Baiklah....sudah saatnya aku pergi. jaga dirimu baik-baik"
"sampaikan salamku pada kakak besar jika kau bertemu dengannya lagi"
"iya, akan kusampaikan"
diperjalanan burung kecil itu bingung, apa ia harus menyampaikan pada kakak besar seprti pesan si bunga mawar hutan tadi? apakah kakak besar harus tahu kalau bunga diam-diam menaruh hati padanya? "ah..pastilah kakak besar sudah tahu itu" batin burung sambil megnepakkan sayapnya. terbang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.