Langsung ke konten utama

"Bulukat Kuneng"

beberapa waktu yang lalu di milis sempat heboh gara-gara ada issue bulukat kuneng yang muncul secara tidak disengaja. entah siapa yang memulai, yang pasti sayapun jadi ingin merasakan kenikmatan bulukat kuneng tersebut. aroma dan inti yang terbuat dari kelapa biasanya lebih menarik perhatian saya, palagi kalau proses pembuatannya memakai gula merah ditambah dengan daun pandan, harum. pun begitu saya bukanlah orang yang doyan banget dengan makanan tersebut, saya cuma tergiur dengan warna kuningnya dan taburan parutan inti kelapanya yang berwarna coklat tersebut. wajarlah kalau kemudian saya ingin mencicipi rasanya.
bulukat kuneng biasanya disajikan pada acara-acara tertentu di Aceh, misalnya pada acara peusijuek atau tepung tawar, peusijuek ini biasanya pada upacara perkawinan, sunatan, sampai tepung tawar rumah baru, kalau yang pernah kecelakaan atau selesai operasi biasanya juga di peusijuek in...ritual yang menurut saya mubadzir dan ngga jelas, tetapi saya hanya bisa mengatakannya disini. kalau didepan orang tua saya mengatakan ini bisa diomelin setengah hari. peusijuk ini tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan keberkahan bagi orang yang ditepung tawari, suapaya hidupnya adem...seperti percikan air yang dipercikan kepadanya.
tetapi saya bukan hendak membahas masalah peusijuek disini, saya lebih tertarik menceritakan bulukat kunengnya atau pulut kuning, karena tadi pagi saya sudah merasakan lezatnya pulut kuning tersebut. aroma dan warnanya sungguh membuat saya rela menunda sejenak kepergian saya, tidak ingin menyesal karena makanan semacam itu tidak sembarangan bisa didapat. kebetulan ada tetangga yang membuat rumah dan hari ini di peusijuek, maka sepupu saya juga kebagian rejekinya. syukur alhamdulillah. bersyukur karena semalam saya menginap disana, tidur pukul dua belas malam dan hari ini terkantuk-kantuk, bersyukur karena bukan hanya bertemu dengan saudara saya saja tapi saya mendapatkan kenikmatan dari pulut kuning tersebut. dan yang pasti saya bersyukur karena di milis sempat muncul wacana bulukat kuneng dan dalam hati diam-diam berdoa...semoga bisa cepat merasakannya...dan doa saya makbul....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…