Langsung ke konten utama

"Semua ini Untuk Mu

tak kan kusimpn rinduku menjadi bisu, kan ku tebarkan pada angin malam atau titik-titik debu, yang lalu bersama burung malam, menghantarkan keperbatasan hatiku, rindu yang terpendam didalam hati kala jarak merentang menebas cakrawala. pelan-pelan ketika satu-persatu dari kemisterian itu terkuak, pelan-pelan juga apa yang kita rasa menjadi semakin terbentuk, menjadi utuh. yang akhirnya melahirkan komitmen untuk kita jalani dari buah ketidak mungkinan itu. masih ingatkan ketika kau mengatakan, apa yang tidak mungkin didunia ini. sekarang semuanya menjadi terbukti dan menjadi nyata, kita mengambil peran dari ketidak mungkinan itu dan mewujudkannya menjadi mungkin. komitmen, tidak lain adalah kuda tunggangan yang kita adalah pengendalinya, terserah kita untuk menjaga komitmen tersebut atau menjadikannya dalam bentuk yang lain.
sekali lagi, tidak akan kubiarkan rinduku menjadi bisu dan terpasung oleh jarak. ketika satu-persatu dari surat mu kulerai kembali dalam ingatan dan hatiku, ku bolak-balik dengan selera dan keinginanku, tak lain adalah untuk menebus rindu. ketika bulan-bulan berlalu adalah kesepian dan kerinduan yang menggebu, maka janji kita adalah penawar dari segala rasa yang tak berwujud itu. ketika pelan-pelan aku merasakan kecemburuanmu, ada rasa menggelembung yang amat besar dalam diriku. yang aku sendiri tidak bisa menterjemahkannya dengan baik, yang aku tahu, aku semakin menyayangimu, semakin sering pula mengharap surat darimu dengan semua kelucuan dan kekonyolan yang hanya kita yang bisa menikmatinya. satu lagi, menunggumu di waktu petang adalah hal yang paling membahagiakan buatku.
cinta...
kalau selama ini tidak ada surat khusus untukmu, seperti yang kulakukan ketika kau tidak ada, percayalah bukan karena rasa sayangku yang berkurang. tetapi aku menyajikannya dengan cara yang berbeda sekarang. semua ini untuk mu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…