Langsung ke konten utama

"cinta...aku merindui mu"

cinta...
kalau kau dekat, sungguh sangat banyak yang ingin kubagi denganmu, tentang bulan purnama yang terlewatkan seperti biasanya, tentang matahari, tentang kehidupan, dan tentang laut, laut yang pernah kita ceritakan bersama...
sebulan tanpamu, ada yang berbeda dari hari demi hari yang terlewati, sepi....aku rindu keromantisanmu, juga ledekan-ledekan konyolmu. aku rindu semua, semuanya. aku ingin melihatmu, seperti diwaktu sesaat sebelum kau pulang.
tentu sangat tidak adil jika aku harus memakimu karen rindu yang sudah tidak terbendung ini, perih, sakit tapi juga terasa nikmat. kenapa harus seperti ini cinta?kenapa begitu banyak aral untuk merinduimu, apalagi memelukmu, tidak, bukan, tepatnya memandangmu dengan mesra.
andai perasaan bisa kubentuk, andai cinta bisa kuarahkan. aku hanya ingin yang sederhana saja, tidak perlu rumit-rumit sekali. aku mencoba mengkhianati perasaanku, tapi aku tidak mampu. ah sayang...kamu terlalu pintar membuatku mencintaimu, yah, kau telah berhasil memenjarakan aku dalam hatimu hingga aku tak pernah berikir berpaling darimu.
kapan kita terbang bersama honey? dengan cara yang hanya kita yang bisa melakukannya, aku ingin sekali. aku rindu sekali. rindu mendengar rayuanmu di telingaku seperti waktu itu, sesaat sebelum kau pulang.
2 zulags

Komentar

  1. Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
    "Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.

    Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
    Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
    YAng membela orang - arang lemah" jawabnya

    Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
    "Bersabarlah, dan tetplah bersabar
    Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
    Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
    Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
    Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"

    Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
    Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
    Yang tersisa adalah pemimpin serakah
    Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'
    Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
    Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
    Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !
    Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
    Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
    Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?

    "Wahai ummatku...
    Tinggalkan mereka semua
    Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
    Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
    Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"
    Ikutilah fatwa hatimu
    Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"
    Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
    Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.