Langsung ke konten utama

"Nenek Tua dan Kaleng Bekas"

ada yang menarik dan unik selama aku "ngantor" di jalan darma ini. bukan karena disamping kanannya ada warung nasi yang selalu ramai dikunjungi dan belakangan menajdi langgananku makan siang. bukan juga karena diseberang jalannya ada penjual sate bila sore hari. bukan juga jalanan yang selalu ramai dilewati pengendara mobil atau motor dan juga yang tidak berkendaraan.
awalnya saya tidak terlalu memperhatikan "keunikan"tersebut, tapi setelah boss ditempat ku bekerja mengatakannya, sayapun jadi ngeh dan ikut memperhatikan kebiasaan seorang nenek yang berketurunan cina. tidak ada yang istimewa dari nenek tersebut, selain kebiasaannya itu. pakaiannya terlihat sangat sederhana sekali. ia sering memakai daster berlengan pendek lengkap dengan celananya yang sedikit komprang dan setengah tiang. rambutnya dipangkas pendek tapi sepertinya kurang perawatan. umurnya mungkin sekitar lima puluhan lebih. kebiasannya itu dimulai sejakpagi hari, ia sangat suka memunguti kaleng-kaleng minuman yang ada di kotak sampah, akibatnya sampah-sampah ekrtas yang lain jadi bertebaran keluar dan ia tidak memasukkannya kembali kedalam tempat sampah. karena itu boss saya itu menganjurkan agar kaleng bekas tidak lagi dibuang kekotak sampah yang ada diluar. kemudian disediakanlah dua box sampah diruangan, satu untuk sampah logam dan satunya lagi untuk sampah kertas dan plastik. dan kotak sampah yang diluar sana hanya untuk sampah-sampah seprti kotak minuman saja.
rupanya kegigihan nenek yang tidak saya ketahui namanya tersebut tidak sampai disitu. meski ia tidak algi menemukan kaleng bekas di kotak sampah yang diluar ia memberanikan diri untuk meminta yang didalam. ini tentu saja memudahkannya karena sampahnya telah terpisah sehingga nenek tadi tidak perlu mengobrak abrik tempat sampahnya. suatu waktu saya sempat menanyainya untuk apa kaleng-kaleng bekas tersebut, dan ia mengatakannya untuk dijual, tapi saya tidak bertanya lebih banyak karena dia buru-buru pergi setelah mengambil beberapa kaleng yang ada.
terlihat dengan jelas kegigihanya, ia menyusuri gang dan lorong mencari kaleng bekas untuk dijual yang tujuannya tidak lain adalah agar ia mendapatkan uang. ia sama sekali tidak merasa malu ataupun jijik melakukan semua itu, yang penting halal pasti itu yang ada dipikirannya. ingin rasanya saya membandingkan dengan peminta-peminta yang ada diperempatan lampu merah yang saya lewati setiap paginya, mereka masih kuat dan masih sempurna fisiknya, tidak ada cacat tetapi tidak merasa malu ketika menadahkan tangan pada orang lain. di bibirnya tentu saja keluar sebait dua bait doa yang kadang tidak terlalu jelas. padahal Rasul pernah berkata bahwa tangan diatas lebih baik daritangan dibawah. artinya memungut kaleng bekas bukankah lebih baik daripada meminta mengemis??wallahu'alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.